
Askara cemburu jika Dimas sering menelefon Salma, apalagi kalau ke Jogja mengantar ibunya Salma yang ingin bertemu Salma selalu akrab mengobrol denhan Salma. Kadang juga Dimas seakan tahu apa kesukaan Salma, yang Askara sendiri saja tidak tahu kalau itu adalah kesukaan Salma. Tapi kembali lagi, Askara sadar ia bisa kembali dengan Salma karena Dimas, jadi ia berusaha menepikan rasa cemburunya itu pada Dimas. Lagian mereka memang dekat karena sama-sama mengurus ibunya Salma, jadi mereka seperti adik dan kakak.
Meski begitu, tetap saja Askara cemburu, apalagi mereka memiliki riwayat cerita hidup sebelum dengannya. Mereka sepasang mantan suami istri yang masih kompak, yang masih saling menjalin hubungan baik. Suami mana yang tidak cemburu jika istrinya masih dekat dengan mantan suaminya, dan menjalin hubungan begitu baik.
Kecemburuan Askara mungkin karena ia takut karma. Ya, karma di mana ia dulu lebih memilih mantan istrinya saat mantan istrinya kembali lagi. Ia mencampakkan Salma dan memilih kembali menikahi Azzura. Padahal sedikit pun Salma tidak ada rasa dengan Dimas. Ia hanya menganggap Dimas itu teman baik, sosok yang juga menyayangi ibunya, menjaga ibunya di saat dirinya jauh dan harus ikut bersama suaminya.
Sejak menikah dengan Askara, ia sudah melupakan Dimas dalam hidupnya, apalagi Dimas sudah sangat menyakiti dirinya. Salma hanya merasa kasihan dengan Dimas, sebab itu saat berpisah dengan Askara, ia ingin kembali pada Dimas, padahal ia masih sangat mencintai Askara meskipun Askara kembali menikahi Azzura.
Salma melihat suaminya masih terpaku, diam di tepi ranjang dengan tatapan kosong. Padahal ia sudah siapkan baju untuk ke kantor, tapi Askara belum memakainya.
“Mas, kok belum ganti baju?” Salma menyentuh bahu Askara dan membuat Askara sedikit terjingkat.
“Sayang ... Kamu ngagetin aku ih!” pekik Askara dengan sedikit terjingkat.
“Ih kok kamu ngelamun? Hayo ngelamunin siapa? Sudah ditinggal mandi eh belum siap-siap? Aku kira malah sudah ganti baju?” ucap Salma.
“Gak melamun kok, memang ngelamunin apa sih? Aku lagi mikir saja, kok kita nikah lagi tapi belum bulan madu, ya?” ucap Askara, mengalihkan apa yang sedang ia rasakan.
“Bulan madu? Ehm ... Kemarin Dimas juga tanya sama aku, kapan mau bulan madu? Dia mau ngasih kado kita untuk bulan madu katanya, tapi aku tahu kamu sedang sibuk, jadi ya aku belum berani membicarakan ini dengan kamu,” ucap Salma.
“Dimas?” tanya Askara.
“Ehem ...,” jawabnya dengan mengangguk.
“Lagi-lagi Dimas? Apa-apa Dimas?” batin Askara.
“Aku sih terserah mas saja, kalau mas sedang sibuk, ya aku gak maksain kok. Lagian aku juga kan mau merintis usaha kecil-kecilan di sini, aku gak mau nganggur terlalu lama. Aku juga gak mau kerja terikat, aku pengin punya usaha kecil-kecilan di rumah, jadi aku bisa urus rumah, urus suami, urus anak kita. Semua itu kan harus ada persiapan yang matang, kalau bulan madu aku sih gak terlalu memikirkan, toh aku merasakan setiap hari, setiap malam seperti bulan madu?” jelas Salma.
“Bisa saja kamu, Sal,” ucap Askara dengan memeluk Salma.
__ADS_1
“Memang aku merasakan begitu kok? Lagian bulan madu juga kegiatannya sama seperti malam-malam biasanya, hanya saja tempatnya yang beda. Rasanya sama, nikmatnya juga sama, asal pas lagi begituan pikirannya fresh gak mikirin beban, pasti enak kok,” jelas Salma.
“Masa iya sih? Jadi kamu puas banget dong?” tanya Askara.
“Sangat,” jawabnya singkat dengan mencium gemas pipi Askara. “Ini jangan-jangan kamu gak pakai-pakai baju mau minta lagi, ya?” gurau Salma.
“Kalau kamu mau, ayok!” jawab Askara dengan semangat.
“Kasihan Afifah nanti nunggu kita,” ucap Salma.
“Ya sudah nanti kalau Afifah sudah berangkat sekolah, kita lanjutkan semalam,” ujar Askara.
“Kamu yakin? Harus ngantor lho? Lagian mas kan antar Afifah ke sekolahan dulu lalu langsung ke kantor?”
“Ya aku antar, nanti pulang lagi ke rumah, ke kantornya agak siangan,” jawab Askara.
“Satu tahun aku gak begituan, Sal. Kita pisah, kamu mending ada Dimas?”
“Eh apa hubungannya sama dia? Kok jadi bawa-bawa Dimas?”
“Ya kan kalian pacaran lagi? Kalian mesra sekali, pergi ke Vila lagi, mau apa kalau gak begituan, Sal?” ucap Askara.
“Jangan bahas yang sudah berlalu ya mas? Aku saja gak mau bahas-bahas soal Azzura. Sudah aku tutup semua yang sudah berlalu. Aku memang sempat menjalin hubungan lagi dengan Dimas, itu semua karena aku ingin menghindari kamu, aku ingin buktikan bahwa aku bisa tanpa kamu, tapi nyatanya aku salah, aku gak bisa melalui semua itu dengan baik,” papar Salma.
“Kalau Dimas gak sakit begitu, kalian ya pasti sudah melakukannya?” ucap Askara dengan raut wajah cemburu.
“Roman-romannya ada yang sedang cemburu nih? Aku ini sudah jadi milikmu, Mas. Kamu boleh cemburu dengan Dimas, tapi mas juga harus tahu, dia juga yang jagain ibu, apa-apa soal ibu aku pasrahkan sama dia, karena aku di sini, aku jauh dari ibu,” ucap Salma. “Aku masih berkomunikasi dengan dia ya karena ibu mas?” Imbuhnya.
“Iya Sal, aku cemburu, aku takut Dimas akan mengambilmu,” ucap Askara.
__ADS_1
“Jangan samakan Dimas dengan Azzura, Mas. Sudah ya mas, aku gak mau berdebat soal ini. Aku hanya mau hidup tentram, nyaman, damai, penuh dengan cinta dan kasih sayang bersamamu, Mas. Itu yang aku impikan sekarang,” ucap Salma.
Salma tidak menyangka kedekatannya dengan Dimas membuat Askara cemburu. Padahal dia biasa saja dengan Dimas, dia jaga jarak dengan Dimas, pun Dimas, dia juga tahu diri kalau Salma sudah kembali menjadi milik Askara.
“Sudah jangan cemburu lagi, ya?” Salma memeluk Askara lalu menciumi pipinya. “Ayo pakai baju kamu, lalu kita sarapan, tuh dengar Afifah sudah manggil kita,” pungkasnya.
“Iya gak cemburu, tapi kalau kamu dekat-dekat dia ya aku cemburu. Mana ada sih laki-laki yang gak cemburu istrinya dipeluk mantan suaminya? Terus berani-beraninya dia memegang kepala kamu lalu mengusapnya? Jelas aku cemburu!” ucap Askara.
Salma tersenyum, ia senang Askara cemburu berat dengan Dimas. Apalagi melihat wajah Askara yang lucu karena ngambek sedang cemburu. Baru kali ini Salma dicemburui oleh Askara. Biasanya dia cuek, ada rekan kerja Salma yang satu profesi dengan Salma dekat pun Askara tidak cemburu? Sekarang dekat dengan Dimas, Askara begitu cemburu, dan dia sampai mengakui kecemburuannya di depan Salma.
“Sekarang kamu merasakan, kan? Bagaimana rasanya saat mantan suami pasanganmu datang dan baik sekali dengan pasanganmu? Aku merasakan ini juga saat dulu Azzura kembali, Mas. Bahkan itu lebih menyakitkan, karena Azzura merebutmu dariku. Sedangkan Dimas? Dia dekat denganku bukan untuk merebut aku darimu, justru dia yang mengembalikan aku ke kamu, tapi ya sudahlah, semua sudah berlalu, aku tidak mau mengusik dan membuka kembali luka lama. Aku hanya ingin bersama kamu, sampai tutup usiaku, Mas. Aku sungguh mencintaimu, Askara,” ucap Salma dalam hati.
“Jangan cemburu lagi ya, Sayang? Kita kan baru mulai hidup baru? Masa pikiran mas sudah ke sana-sana?” Ucap Salma.
“Iya, asal kamu tolak ya, hadiah bulan madu dari Dimas?” pinta Askara.
“Oke. Aku tidak masalah, toh aku gak mikir bulan madu. Aku malah mikir Afifah yang mau kelas enam? Sebentar lagi anakku mau SMP. Aku juga pengin punya anak darimu mas,” ucap Salma.
“Nanti kita bikin, setelah aku antar Afifah sekolah,” ucap Askara.
Salma terkikik geli, apalagi Askara terlihat sudah ingin sekali memulai pergulatannya di atas ranjang.
"Mau berapa ronde, Mas?" tanya Salma.
"Mau sampai puas pokoknya," jawab Askara lalu mengecup kilas bibir Salma.
Askara benar-benar sedang dimabuk cinta. Ia merasakan pernikahan keduanya dengan Salma semakin bergelora.
“Kamu perempuan yang sempurna, Sal. Yang bisa mengerti aku, dan memahami aku. Terima kasih sudah mau kembali padaku, Sal,” ucap Askara dalam hati.
__ADS_1