Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Kita Pulang Saja


__ADS_3

Afifah menepis tangan Dimas yang sedang menggandengnya. “Gak usah pegang tanganku! Jangan dekat-dekat aku, jangan peluk aku, jangan cium aku, dan jangan sentuh aku! Tubuhmu sedang terpapar virus!” erang Afifah dengan penuh amarah.


Afifah berjalan mendahului Dimas ke arah mobil. Dia langsung masuk, tapi ia memilih duduk di belakang, bukan di depan.


“Kenapa di belakang? Aku bukan sopirmu, Sayang?” tanya Dimas.


“Aku gak mau dekat sama orang yang sedang terpapar virus!” jawab Afifah.


“Virus apa sih, Sayang?!”


“Virus dari perempuan yang bernama Elena!” jawabnya.


Dimas membujuk Afifah terus untuk pindah ke depan, tapi dia tetap saja tidak mau pindah. Bagaimana tidak kesal, suaminya dipeluk-peluk dan diciumi perempuan lain? Sudah, bukannya Dimas langsung menghindarinya, atau menyingkirkan Elena, tapi Dimas seperti menikmatinya. Jelas Afifah sangat marah sekali pada Dimas.


“Belum tujuh hari menikah, sudah ada macam ini? Apa kabarnya nanti, kalau sudah sebulan, dua bulan, tiga bulan, atau satu tahun? Berapa banyak nanti perempuan yang mendekatimu?!” geram Afifah.


“Sayang, aku gak tahu kenapa dia tiba-tiba muncul! Sungguh aku tidak tahu kalau dia masih di sini,” ucap Dimas.


“Oh jadi dia tinggal di sini? Pantas saja ke sini sudah empat kali selama jadi duda, ternyata ada Elena. Terus ngajak bulan madu ke sini, apa tujuannya mau menemui Elena untuk kamu jadikan istri kedua?! Cerein saja aku! Daripada dimadu! Aku mau pulang!” berang Afifah dengan tersedu-sedu.


“Sayang ... sayang ... jangan ngomong begitu ih, gak boleh, Sayang?” ucap Dimas.


Begitu Afifah kalau sudah kecewa, ngelantur sekali bicaranya. Sampai minta mau pulang, dan minta cerai segala.


“Untuk apa juga punya suami masih punya banyak hubungan sama mantannya?! Terus tadi tuh perempuan bilang, kamu ke sini mau menjemputnya kalau kamu sudah sembuh? Berarti dia tahu kamu sakit seperti itu dong?!” seru Afifah

__ADS_1


“Sumpah, Sayang, aku gak ada hubungan apa-apa dengan Elena. Iya, dulu pernah sama dia. Tapi, ya sudah aku sudah putus dengan dia sejak aku pulang ke sini, aku jalan sama Tantri, sama Clara, sama siapa lagi lah dulu, aku lupa. Pokoknya terakhir Renata. Semua sudah selesai, Sayang? Sudah gak ada lagi perempuan lain,” tutur Dimas setengah panik, karena Afifah menangis kencang. “Sayang, jangan  begitu nangisnya. Aku minta maaf. Sungguh aku gak tahu Elena akan melihatku,” imbuhnya.


Afifah diam, dia hanya menangis, dia tidak mau bicara lagi. Lebih baik diam saja. Dimas terus meminta maaf pada Afifah, dan menjelaskan sedetail mungkin soal Elena. Tapi, Afifah gak mau bicara, dia jadi mendiami Dimas.


Elena memang pernah lama menjadi kekasih Dimas. Setelah Salma kembali dengan Askara, Dimas berkelana mencari cinta sejati, karena ia percaya perempuan yang bisa menyembuhkan sakitnya, dia adalah cinta sejatinya kelak yang akan menemani dirinya sampai menua nanti. Ternyata semua perempuan yang pernah ia ajak kencan, tidak ada satu pun yang bisa membuat dia kembali seperti dulu. Tidak ada yang bisa menyembuhkan sakit impotent nya. Entah itu Elena, Tantri, Clara, Renata, dan masih banyak lagi perempuan yang Diimas ajak kencan, hanya demi dirinya bisa sembuh. Bahkan saat Salma belum kembali juga, ia mencoba dengan Salma tidak bisa sembuh. Tapi, saat dicium bocil modelan Afifah yang bar-bar, malah langsung berdiri tegak, dan sejak itu Dimas dinyatakan sembuh.


“Sayang ... sudah dong, kan sudah aku jelaskan semuanya?” ucap Dimas.


Afifah masih diam saja. Dia masih jengkel dengan perempuan yang bernama Elena itu. Memang dia masa lalu Dimas, Afifah bisa menerima itu, toh mantan Dimas bukan hanya Elena, bahkan Bundanya pernah menjadi mantan istri Dimas, tapi yang buat Afifah marah, Elena menciumi dan memeluk-meluk Dimas. Dia tidak terima suaminya dicium dan dipeluk perempuan lain.


“Afifah, Sayang ... jangan diam gitu, jangan nangis juga. Aku minta maaf, Sayang ...,” ucap Dimas.


“Buruan bawa mobilnya! Aku sudah pengin pulang, besok kita pulang saja, gak usah ajak bunda ke sini, makin lama di sini yang ada kamu dihabisi sama perempuan tadi. Itu kalau hanya dia, kalau ada yang lain lagi bagaimana?” Afifah tidak peduli dengan tujuannya untuk meminta bunda dan ayahnya untuk menyusulnya ke Paris. Ia ingin cepat pulang, daripada suaminya bertemu lagi dengan Elena.


“Iya, kita pulang, tapi masa besok? Katanya mau ajak bunda ke sini?” bujuk Dimas.


“Iya, iya, nanti gak jadi telefon ayah kamu. Iya kita pulang, kita beres-beres sekarang besok pulang.” Dimas mengiyakan istrinya, daripada keadaannya makin keruh.


Sesampainya di  hotel, Afifah tidak mau digandeng atau pun dekat-dekat dengan suaminya. Ia langsung mengambil kopernya, lalu mengemasi pakaiannya.


“Afifah, masa kita langsung packing?” ujar Dimas.


“Diam kamu! Lebih baik kamu mandi!” hardiknya.


Dimas diam saja, ia langsung ke kamar mandi, untuk membersihkan dirinya. Afifah masih sibuk berkemas, karena dia sudah ingin pulang. Honeymoon nya berantakan karena bertemu Elena. Sebetulnya Afifah masih ingin berada di Paris, tapi ia tidak mau lagi bertemu mantan Dimas, yang ada nanti Elena semakin ngelunjak kalau ketemu Dimas.

__ADS_1


“Emang dasarnya saja Dimas tukang ngoleksi cewek!” umpatnya dengan penuh amarah.


Dimas selesai mandi. Ia mendekati Afifah yang sedang sibuk menata bajunya ke dalam koper. Dimas membantu melipat bajunya, lalu menaruhnya dalam koper.


“Berapa perempuan yang sudah tidur denganmu?” tanya Afifah ketus.


“Banyak, tapi hanya dua perempuan yang merasakan tombakku. Kamu dan bunda, lainnya tidak pernah,” jawab Dimas jujur.


Memang kenyataannya begitu, Afifah pun tahu Dimas ceweknya di mana-mana, tapi dia kesal sekali tadi Dimas dicium dan dipeluk perempuan yang tidak ia kenal.


“Lagian kamu kan sudah tahu soal ini, Sayang? Kenapa tanya lagi?” ucap Dimas.


“Aku gak rela kamu di peluk-peluk seperti tadi, sampai dicium-cium!” ucapnya kesal.


Dimas meraih tubuh Afifah, lalu memeluknya. Ia tahu istrinya cemburu karena dia dipeluk perempuan lain, bahkan sampai dicium. Bukan karena dirinya pernah berhubungan dengan berapa wanita, tapi Afifah memang tidak suka jika ada perempuan yang mendekati suaminya.


“Kesel!” ucapnya sambil terisak di pelukan Dimas.


“Makanya jangan begini, capek sendiri, kan? Lagian aku kan udah gak ada hubungan apa-apa dengan dia?” ujar Dimas.


“Aku gak terima dia ciumin kamu!” ucapnya dengan isakkan yang tambah kencang.


“Ya udah dong sayang, lagian aku juga gak merespon. Aku saja kaget dia tiba-tiba begitu? Jangan gini dong? Kita kan di sini sedang bahagia, masa begini karena perempuan itu? Lagian kalau aku niat dengan dia, aku gak akan dipertemukan dengan kamu dalam keadaan seperti ini, Sayang? Aku sudah janji pada diriku sendiri. Siapa pun perempuan yang membuatku sembuh, aku akan menikahinya, dan aku akan mencintai dia dengan segenap jiwaku, akan kubahagiakan dia sampai ajak menjemputku. Itu janjiku, sayang,” ucap Dimas.


Afifah makin mengeratkan pelukannya. Dia marah, tapi saat berada di pelukan Dimas, rasanya dia tidak bisa marah lagi dengan Dimas.

__ADS_1


“Jadi, kamu jangan berpikir aku akan meninggalkanmu, Afifah Sayang,” ucap Dimas.


__ADS_2