
Bu Mila tidak menyangka, kalau Bu Sari semarah itu dengannya dan Dimas. Sudah tidak jadi perjodohannya, Kania dipindahkan bagian oleh Dimas, tidak menjadi Sekretarisnya. Sore ini, Bu Sari dan Kania datang ke rumah Salma, dia menemui Bu Mila karena tidak terima dengan perlakuan Dimas. Padahal Dimas memindahkan Kania ke bagian lain juga gajinya sama dengan gaji Sekretaris, karena Dimas merasa sudah mengecewakan Kania, karena diganti posisinya. Untuk mengganti rasa kecewa Kania, Dimas menggaji Kania sesuai dengan gaji Sekretaris, itu pun Kania sudah menyetujuinya, dan Kania juga sudah beberapa hari ini menikmati pekerjaannya kata Beni.
“Saya benar-benar kecewa sama Jeng, kenapa Dimas semena-mena memindahkan posisi Kania ke bagian lain? Ya meskipun tidak jadi perjodohannya, tidak usah mengganti posisi Kania dong, Jeng?” ucap Bu Sari sedikit menaikkan suaranya.
“Haduh ... kalau itu saya tidak tahu, Jeng? Itu urusan Dimas. Tapi, memang Dimas berencana tidak akan memakai Asisten atau Sekretaris perempuan, karena dia tidak mau ada kesalahpahaman dengan istrinya nanti. Apalagi istrinya juga sudah bisa membantunya di perusahaan, jadi dia tidak butuh Asisten, atau Sekretaris perempuan, karena ada istrinya nanti,” jelas Bu Mila.
“Tapi tidak begitu juga dong, Jeng?” protesnya.
“Lha bukannya Kania sudah setuju, kan? Kata Dimas kamu setuju kan, Kania?” tanya Bu Mila pada Kania.
“I—iya, Bu. Tapi, gimana, ya? Kok rasanya gak adil sekali, saya kan mendaftar untuk jadi Sekretaris, tapi kenapa malah dipindah dibagian lain? Dan tempatnya jauh dari kantor utama?” ucap Kania.
“Kalau itu ibu tidak tahu, nanti sebentar lagi Dimas pulang dengan Afifah, mereka sedang mencari gaun pengantin, tunggu saja, nanti bahas dengan Dimas,” ucap Bu Mila.
Bu Mila memang tidak enak hati dengan Bu Sari, karena kemarin sempat memberikan kesempatan pada Kania untuk dijodohkan dengan Dimas. Tapi, ternyata Dimas sudah memiliki Afifah, dan mereka sudah menjalin hubungan sangat lama sekali.
Salma dari tadi mendengarkan perbincangan mereka dari dalam. Bisa-bisanya Bu Sari dan Kania protes masalah pekerjaan Kania. Padahal Salma tahu sendiri dari Dimas, kalau Dimas memberikan gaji pada Kania sesuai dengan gaji Mita sebagai Sekretaris lama, karena itu sebagai rasa bersalah Dimas yang sudah memindahkan Kania ke bagian lain
Salma keluar untuk menjelaskannya pada Kania dan Bu Sari. Mungkin Kania sudah tahu, tapi dia kecewa jadi dia ingin ke sini, untuk meminta jabatan yang sesuai, dengan dibantu oleh Ibunya. Tapi, tetap saja Salma tidak suka dengan cara mereka, karena menurut Salma, meskipun Kania dipindah ke bagian lain, gajiannya sudah sama dengan Mita yang lama, bukan karyawan baru yang sedang training.
“Maaf, saya mengganggu sebentar. Boleh saya duduk di sini, dan meluruskan masalah Kania di kantor?” ucap Salma.
“Meluruskan bagaimana? Kamu apa tahu masalah kantor?” ucap Bu Sari.
“Maaf, perusahaan yang Dimas pegang, ada sebagian milik Ayah, jadi aku tahu bagaimana Dimas mengatur perusahaannya. Aku juga tahu Dimas menggaji karyawannya berapa, meski aku tidak ingin tahu sebetulnya, tapi ada laporan setiap bulannya, dan setiap ada Karyawan baru. Jadi jelas saya tahu,” ujar Salma.
Mereka diam saat Salma bicara seperti itu. Bu Sari sebetulnya ingin Kania mendapat posisi yang kerjanya dekat dengan Dimas, karena Kania yang ingin itu. Dia ingin bekerja dekat dengan Dimas, karena dia sudah menyukai Dimas sejak dia akan dijodohkan dengan Dimas. Kania kecewa sekali, sudah tidak jadi menjadi istri Dimas, dia gagal pula menjadi Sekretaris Dimas.
__ADS_1
“Gini ya, Kania? Orang kerja yang paling utama dia cari itu gajinya besar? Iya, kan?” tanya Salma.
“I—iya, Bu,” jawab Kania.
“Lalu yang kedua, Jabatan yang bagus. Tapi, kebanyakan orang bekerja yang ia incar pertama gajinya besar. Jabatan kan naik sesuai kualitas kerja kita nantinya seperti apa? Kamu itu meskipun dibagian lain, Dimas tetap gaji kamu sesuai dengan gaji Sekretaris, kan? Bahkan gajiamu sama dengan Mita, yang sudah lama kerja di sana. Benar, kan?” cecar Salma.
“I—iya, Bu. Gajiku sesuai dengan gaji Mbak Mita. Sama, karena Pak Dimas tidak mau mengecewakan saya,” jawab Kania.
“Lalu, sekarang yang dipermasalahkan apa? Jabatanmu? Sama-sama di Office, kan? Cuma beda bagian? Enggak pekerja lapangan, misal Sales Promotion Girl mungkin? Kamu kan kerja di dalam kantor? Enak di dalam ruangan, gajinya sesuai dengan karyawan yang lama, padahal kamu baru kerja? Lalu apa yang kamu komplainkan? Apa karena Dimas tidak jadi dijodohkan denganmu? Jadi, kamu ingin mendekati Dimas di Kantor, kalau kamu jadi Sekretarisnya? Gak semudah itu, Kania? Dimas bukan tipe laki-laki yang gampang dirayu perempuan!” jelas Salma.
“Ya, enggak begitu, Bu. Saya ya jelas protes, saya daftar jadi Sekertaris tapi malah dipindah bagian?” ucap Kania.
“Ya kalau kamu enggak cocok dengan bagian kamu yang sekarang, kenapa gak resign saja? Cari ke Perusahaan lain, sesuai dengan kriteria yang kamu mau? Gampang, kan?” ujar Salma. “Dan, satu lagi, kamu kalau mau protes, kenapa gak dari awal sama Dimas? Kenapa kok setelah sudah hampir seminggu kamu kerja? Beni bilang, kamu juga kerjanya bagus?” lanjutnya.
Mereka Diam saat Salma ikut angkat bicara. Karena kedatangan Bu Sari dan Kania sebetulnya bukan ingin protes masalah pekerjaan Kania saja, tapi karena Bu Sari ingin menyuarakan kekecewaannya karena tidak jadi perjodohan Kania dengan Dimas.
Dimas pulang dengan Afifah, disusul dengan Askara di belakangnya yang baru pulang dari Kantor.
“Cari gaun pengantin, Yah. Sekalian baju Sarimbit keluarga,” jawab Dimas.
“Itu ada tamu apasih?” tanya Afifah.
“Iya mungkin, tamunya ibu mungkin,” jawab Dimas.
“Tamunya Eyang? Sebentar-sebentar, aku sepertinya tidak asing dengan mobil itu? Kayaknya ini mobil milik Bu Sari,” pikir Afifah.
“Iya mungkin saja,” jawab Dimas.
__ADS_1
“Mau apa Bu Sari ke sini? Jangan-jangan Bu Sari gak terima karena Om pindahin Kania ke bagian lain?” ujar Afifah.
“Ah enggak mungkin lah? Pindah bagian saja dia aku kasih gaji sama dengan Mita? Masa gak terima?” ucap Dimas.
“Ya kali saja, terus dia kecewa sama Om, karena gak jadi dijodohin sama Kania?” tebak Afifah.
“Jangan menduga-duga dulu, ayo masuk saja, biar tahu apa masalahnya,” ajak Askara, dengan merangkul Afifah. “Anak ayah lusa ternyata mau menikah. Ayah kesepian dong, kalau kamu sudah ikut Dimas,” ucap Askara dengan menatap Afifah.
“Ih Ayah ... jangan sedih gitu. Meskipun Afifah ikut Suami, tetap saja Afifah akan sering ke sini? Jangan sedih, Ayah ... kan Afifah jadi kepikiran?” ucap Afifah.
“Meski aku membawa Afifah, tetap saja aku akan ke sini, Yah. Afifah itu putri ayah satu-satunya, gak mungkin aku akan lama-lama tidak mengajak Afifah ke sini setelah menikah. Doakan kami selalu ya, Yah? Semoga pernikahan kami selalu diselimuti dengan keberkahan dan kebahagiaan,” ucap Dimas.
“Itu pasti. Ayah titip Afifah ya, Dim? Jangan sakiti dia, kalau kamu sudah tidak mau sama dia, sudah tidak cinta, sudah tidak sayang, jangan lantas kamu sakiti Afifah. Bawa dia ke sini, pulangkan Afifah padaku, kalau kamu tidak cinta lagi,” ucap Askara.
“Ayah kok bilang begitu? Mana mungkin cintaku pada Afifah akan hilang begitu saja? Dari SMP aku niat nunggu Afifah, karena dia yang benar-benar membuatku pusing karena jatuh cinta. Mau aku pacari lebih dalam dia masih bocil? Masa aku mau rusah anak kecil? Aku tahan tuh sejak lama, aku tidak akan menyakitinya, dan akan selalu mencintainya, sepanjang usiaku, Yah,” ucap Dimas.
“Ayah pegang ucapanmu!” cetus Askara.
Dimas mengangguk, mereka sudah sampai di teras, lalu mereka masuk, dan benar ada Bu Sari dan Kania di dalam ruang tamu.
“Kania? Ada apa ke sini?” tanya Dimas.
“Ah i—itu, Pak,” ucapan Kania terhenti, karena dia tidak enak mau melanjutkannnya.
“Itu, mau komplain dengan posisi dia di Kantor,” sergah Salma.
“Apa yang mau kamu komplain, Kania? Masalah gaji, atau apa? Gajimu sudah besar lho? Sama dengan Mita yang karyawan lama? Atau posisi kamu? Posisi itu juga banya yang mengincar? Lalu apa? Mau menjadi Sekretarisku? Aku sudah punya Asisten sekaligus Sekretaris pribadiku. Di kantor ada Dwiki, dan di rumah ada Afifah. Kalau nambah kamu, nanti kamu makan gaji buta dong? Mending aku pindah posisi kamu, dengan gaji sama seperti Mita? Enak, kan? Kerjanya enggak di lapangan, paling itu-itu saja, gajian sudah sama dengan karyawan baru?” ujar Dimas. “Harusnya kamu senang dengan posisi kamu, senang bisa dapat gaji besar,” imbuhnya.
__ADS_1
“Iya, Pak. Maaf, bukan mau begitu. Ya sudah terima kasih, kami pamit,” ucap Kania dengan malu. “Ayo, Ma, pulang,” ajak Kania.
Afifah mengernyikan keningnya. Dia tahu Kania tidak terima karena dia tidak jadi dijodohkan dengan Dimas. Afifah yakin Kania pasti akan cari cara untuk mendekati Dimas. “Langkahi dulu mayatku, kalau kamu inginkan Dimas!” batin Afifah.