Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)

Kepingan Lara (Ketika Mantan Kembali)
Sama-Sama Gugup


__ADS_3

Afifah menghampiri Dimas yang masih menenangkan Yusuf menangis. Yusuf sudah tidak menangis, tapi tetap saja masih rewel memanggil-manggil bundanya. Dimas dengan sabar menenangkan Yusuf, mengajaknya melihat ikan, dan memberi makan ikan. Juga melihat burung merpati yang cantik di sangkarnya.


“Kasih lagi makannya, tuh yang di sebelah sana ikannya belum makan,” tutur Dimas pada Yusuf.


“Ikannya lapar, Om. Yusuf juga lapar,” ucapnya lucu.


“Kamu belum makan, Nak?” tanya Dimas.


“Iya, belum, makan kue saja tadi sama Oma Binka, habis bunda dicariin gak ada, aku mau makan sama bunda,” jawabnya.


“Makan sama Om, ya? Om suapi mau?” tawar Dimas.


“Mau sama kakak juga, tuh kakak ke sini.” Yusuf menunjuk ke arah Afifah yang sedang berjalan menghampirinya.


Afifah dengan mulut komat-kamit, menggerutu kesal karena ayah dan bundanya malah mendahuluinya. Padahal dirinya yang pengantin baru belum merasakan apa-apa.


“Bunda sama ayahmu nyebelin, Cup!” cebiknya.


“Tuh, kan! Ucup lagi!” teriaknya.


“Eh iya, Maaf. Yusuf, bunda sama ayahmu nyebelin sekali tau!” ulang Afifah dengan lembut tapi tetap saja nada bicaranya menekan.


“Bunda di mana, Kakak?” tanya Yusuf.


“Baru mandi, sebentar lagi ke sini kok,” jawab Afifah.


“Tadi kamu bilang bunda sama ayah nyebelin kenapa, Fah?” tanya Dimas.


“Masa mendahului kita? Kita yang pengantin baru belum begituan bunda udah enak-enakan sama ayah bikin adek buat Ucup!” jawabnya dengan nada kesal.


“Wah ... kamu mau punya adek, Yus?” ucap Dimas.


“Punya adik? Yeeaahh ... Yusuf mau punya adik! Aku mau adik Perempuan sama Laki-laki!” teriaknya dengan senang.


“Makanya jangan rewel, ya? Kamu mau punya adik, mau punya keponakan juga. Mau dipanggil Om masa masih cengeng?” ujar Dimas.


“Masa Yusuf mau dipanggil, Om?”


“Iya dong, nanti Om Dimas sama Kak Fifah kan mau punya adik bayi juga. Makanya nih, Yusuf gak boleh rewel lagi, ya? Gak boleh nangis kayak tadi, malu dong, masa mau jadi kakak sekaligus om masih nangisan? Kamu juga sudah sekolah lho, masa masih nangis gitu banget, gak malu ya sama teman-temannya?” tutur Dimas.


“Iya deh gak nangis lagi,” jawabnya. “Ayo om, makan ... aku lapar,” ajak Yusuf.


“Ayo kita ambil makan,” jawab Dimas.


“Kamu belum makan, Yus?” tanya Afifah.


“Belum, tadi pas bunda makan, aku gak mau, aku makan kue sama Oma Binka,” jawabnya.


“Ya sudah kakak ambilkan makan, ya? Kamu di sini saja sama Om,” ucap Afifah.


“Biar aku saja yang ambil, Sayang. Kamu tunggu di sini sama Yusuf. Nanti kamu capek bolak-balik,” kata Dimas.


“Gak aku saja, masa om yang ngambilin?” ujar Afifah.


“Gak apa-apa, kamu nanti capek. Yusuf sama kakak, ya? Kasihan kakak sudah capek, biar om yang ambilin makanan,” tuturnya pada Yusuf.


Yusuf menuruti apa yang Dimas katakan. Dimas memang bisa merayu Yusuf kalau sedang seperti tadi, kalau sama Dimas langsung dia diam, gak nangis dan gak rewel lagi.

__ADS_1


“Ke sana, yuk? Duduk di sana, sambil nunggu Om Dimas ambil makan,” ajak Afifah pada Yusuf, untuk duduk di gazebo.


“Iya, ayok!” jawabnya sambil berlari kecil.


“Pelan-pelan, Sayang ...,” tegur Afifah.


Yusuf tidak menghiraukan, dia terus berlari sampai di depan gazebo, napasnya terengah-engah, dia langsung memanjat ke atas dan duduk menunggu Afifah yang berjalan menghampirinya.


“Kakak haus!” ucapnya.


“Makanya jangan lari-lari, nanti tuh nunggu Om Dimas, pasti kan bawakan minum juga. Sampai keringatan gini kamu.” Afifah mengusap keringat di kening Yusuf.


Dimas mengambilkan makan untuk Yusuf, ia bertemu dengan Salma dan Askara yang juga sedang mengambil makan untuk Yusuf dan dirinya juga. Salma tahu Yusuf belum makan, karena dari tadi dibujuk makan tidak mau, dia malah minta makan kue terus dengan Oma dan Opanya.


“Ehem ... pengantin baru nih, yee?” ledek Dimas yang melihat Askara dan Salma sedang mengambil makan. “Wah ... mantap! Porsinya jumbo, habis berapa ronde tadi, Pak? Sampai kelaparan begitu?” Dimas terkekeh melihat wajah mereka yang memerah karena malu.


“Ish ... sopan sekali sama mertua meledeknya begitu?” tegur Askara.


“Bunda, tuh yang merah ditutupin, nanti Yusuf tanya lho? Itu leher bunda kenapa?” kata Dimas dengan tertawa kecil.


“Ish ... kamu itu, Dim! Matanya jeli sekali sama persis kayak Afifah, pasti kamu tahu karena Afifah, kan?” ucap Salma.


“Ya namanya suami istri, pasti ada kesamaan di antara kami dong? Bakal rame nih nanti, Yusuf mau punya adik sama keponakan?” ucap Dimas.


“Sudah jangan berisik kamu!” tukas Askara. “Nanti malam juga pasti kamu nambah-nambah!” imbuhnya.


“Itu sudah pasti dong? Yang aku heranin, siang-siang lho? Rame pula? Kok bisa gitu? Gak tahu anaknya ngereog apa sih? Oma, Opa, dan Eyangnya gak ada yang bisa menenangkan? Sempat-sempatnya kalian main enak-enakan duluan? Melangkahiku yang pengantin baru? Yang ada biasanya kan pengantin baru yang curi start saat masih acara resepsi? Ini malah mertuanya yang curi start!” ujar Dimas dengan menggelengkan kepalanya.


“Sudah diam, biar nanti malam gak iri sama kamu! Jelas dong kami harus curi start dulu?” ucap Askara.


“Iya deh, iya? Yang muda ngalah deh,” ucap Dimas.


“Biar kuat, Bunda. Buat persiapan nanti, dia kan lagi iri sama kita?” sahut Askara.


“Ini buat anak kalian! Anaknya kelaparan, bapak sama emaknya enak-enak! Nangis dia minta makan!” jawab Dimas.


“Oh, kamu udah ngambilin? Ya sudah deh, bunda gak jadi ambil. Dia tadi disuapin gak mau terus, maunya makan kue terus sama Omanya, ya sudah bunda gak jadi nyuapin dia, Dim. Kayak gitu kalau sudah ngemil lupa makan, tapi kalau lapar begitu, gak sabaran, nangis,” jelas Salma.


“Tapi tenang, sudah diam dia, soalnya aku bilang dia mau dapat adik sekaligus keponakan,” ucap Dimas.


“Semoga saja, biar Afifah hamil, bundanya juga hamil, kan ayah punya cucu sama anak?” jawab Askara.


“Jangan dong, Yah? Kasihan Afifah, nanti kalau Afifah melahirkan, Bunda melahirkan, kan jadi repot? Masa waktu anak bunda melahirkan gak bisa bantu urus cucu? Kasihan Afifahnya kerepotan sendiri, kalau bundanya juga sedang hamil? Lagian hamil bagaimana? Orang bunda belum lepas KB? Kan sudah rencana nanti saja kalau Yusuf umurnya delapan atau sepuluh tahun punya adiknya?” ujar Salma.


“Bunda, sekarang saja, bunda kan udah gak muda lagi? Kejar umur, kalau nanti-nanti apa gak risiko kalau hamil usia bunda sudah bukan lagi usia ideal untuk hamil? Gak apa-apa kalau barengan hamil sama Afifah, kan bisa sewa baby sitter buat bantu-bantu?” terang Dimas.


“Benar juga ucapan kamu, Dimas, tapi kan kamu tahu sendiri, kami pengin punya Yusuf saja sampai program hamilnya di luar negeri? Nanti mau bikin adik untuk Yusuf ya harus ke sana lagi paling tidak?” ujar Askara.


“Siapa tahu rezekinya dipermudahkan untuk dapat adik buat Yusuf, Yah? Kan gak ada yang tahu?” kata Dimas.


“Iya juga sih, nanti kalau Bunda sudah siap, pasti Yusuf bakal punya adik lagi,” ucap Askara.


“Bunda sih siap-siap saja, besok kalau perlu lepas KB ya lepas, tapi kasihan Afifah, masa kalau dia hamil bunda ikutan hamil? Nanti dong gantian?” ucap Salma.


“Kan rezeki gak ada yang tahu, Bunda?” ujar Dimas.


“Iya sih, nanti deh Bunda pikirkan lagi,” jawab Salma.

__ADS_1


“Sudah ah, kasihan Yusuf lama nunggunya, aku ke sana dulu, Bunda, Ayah,” pamit Dimas.


Dimas kembali menghampiri Yusuf dan Afifah. Melihat Afifah yang sayang sekali dengan Yusuf, Dimas jadi ingin segera memiliki momongan. Pasti akan bahagia dan lengkap sekali hidupnya. Ia bergegas menghampiri Yusuf yang sudah teriak memanggilnya, karena kehausan.


“Minum dulu gih, ini kok sampai kehausan kamu?” tanya Dimas dengan menyodorkan botol air mineral pada Yusuf.


“Iya, tadi lari-lari, Om,” jawabnya.


“Ya sudah sekarang makan yang banyak, biar om yang suapin kamu.” Dimas dengan telaten menyuapi Yusuf, sesekali ia juga menyuapi Afifah, untung saja Dimas mengambil porsi nasinya banyak, karena ia tahu pasti istrinya iri saat dia menyuapi Yusuf.


^^^


Malam hari selesai acara resepsi pernikahan Dimas, keluarga Afifah masih berada di rumah Dimas. Dimas dan Afifah belum mengizinkan mereka untuk pulang ke rumahnya, Afifah mau mereka pulangnya dua atau tiga hari lagi, karena dua hari atau tiga hari lagi Afifah dan Dimas akan pergi bulan madu ke Paris. Mereka menurutinya, itung-itung mereka kumpul keluarga, dan nantinya juga tidak momen seperti ini bakal tidak terulang lagi. Kalau pun terulang juga entah kapan bisa kumpul keluarga bareng.


Afifah gugup, padahal selama ini dia sudah biasa melakukannya dengan Dimas, tapi malam ini dia benar-benar gugup sekali. Sesekali ia melihat wajahnya di cermin kamar mandi. Ia sudah memoles make up tipis dan natural, ia juga sudah memakai baju dinas berwarna merah yang menampakkan lekuk tubuhnya yang seksi. Tapi, ia masih malu untuk keluar kamar. Padahal sudah biasanya Afifah telanjang bulat di depan Dimas. Afifah pun sudah sering melihat Dimas yang telanjang bulat di depannya, bahkan sudah sering bermain milik Dimas sampai Dimas mencapai puncak.


“Ih kenapa gugup gini? Padahal kan aku sering begituan sama Om Dimas, paling enggak dimasukin saja pakai milik Om Dimas. Jarinya Om Dimas saja udah sering aku rasain? Tapi, kenapa gugup begini sihi?” ucap Afifah cemas dan gugup.


Pun dengan Dimas, ia berkali-kali menarik napasnya berat, lalu perlahan mengeluarkannya. Ia tidak tahu nanti bagaimana saat bercinta dengan Afifah, padahal dia sudah biasa menyentuh tubuh Afifah, bahkan sudah sering membuat Afifah kejang-kejang karena keenakan? Tapi kali ini dia mikir keras, saat melihat senjatanya yang ukurannya tidak pada umumnya.


“Kesakitan gak ya, Afifah? Pakai jari saja dia menjerit-jerit? Apalagi pakai punyaku yang segede ini? Kasihan juga kalau lihat dia kesakitan?” batin Dimas. “Tapi, kalau enggak aku sentuh ya aku rugi sekali dong? Ini kan malam pertamaku dengan dia? Lagian aku sudah didahului mertuaku? Enak saja, masa aku kalah?” gerutunya.


Dimas menunggu Afifah yang sedang di dalam kamar mandi, ia tahu, pasti Afifah juga sedang panik, apalagi di dalam kamar mandi sudah hampir setengah jam. Dimas mencoba mengetuk kamar mandinya.


“Sayang ... udah selesai mandi belum?” tanya Dimas.


“Ehm ... se—sebenatar lagi, Sayang!” teriak Afifah.


Afifah bergegas keluar dari kamar mandi. Ia memakai bathrobe untuk menutupi pakaian dinasnya. Ia tidak mau membukanya dulu, malu sekali rasanya. Padahal Dimas sudah biasa membelikan pakaian seksi, dan setiap mereka bercumu Afifah juga memakainya, tapi malam ini ada yang berbeda pada Afifah. Dia merasa gugup dan panik sekali.


“Mana gede milik Om Dimas? Jari saja sakit, apalagi itunya? Aduh ... sobek gak ya nanti punyaku?” ucap Afifah lirih. “Ah sudahlah, memang ini kan malam pertamaku, wajar kalau aku sedikit takut, padahal udah biasa mainin punya Om Dimas?”


Afifah keluar dari kamar mandi, Ia melihat suaminya yang berdiri di ambang pintu kamar mandi.


“Ngapain lama sekali, Sayang?” tanya Dimas.


“Ehm ... i—itu, aku ....”


“Kenapa kamu?” tanya Dimas.


“Mules, Sayang,” jawabnya.


“Gak usah gugup, Sayang? Santai saja, kalau kamu belum siap malam ini aku gak maksa. Asal kamu jangan lama-lama di kamar mandi, nanti kamu masuk angin. Aku gak mau kamu sakit,” ucap Dimas.


“Iya, Om. Aku  gugup, aku mikir saja dari tadi di dalam kamar mandi,” jawabnya.


“Mikir apa, Sayang?” tanya Dimas lembut dengan mengangkat dagu Afifah.


“Mikir itu, punya Om kan gede banget, panjang lagi? Bisa masuk ke punya aku gak? Sobek gak ya nanti? Pakai jari saja aku begitu belingsatan?” ucap Afifah dengan polos dan menggemaskan.


Dimas benar-benar gemas melihat istrinya yang begitu. Ia ingin sekali melahap bibir manisnya dan mencumbunya sampai puas.


“Ya bisa, Sayang? Punya kamu elastis kok, bisa menyesuaikan ukuran milik Om,” ucap Dimas.


“Yakin begitu?” tanya Afifah polos.


“Iya, Sayang, tapi kalau kamu takut, ya nanti saja, nunggu kamu siap,” jawab Dimas.

__ADS_1


“Kalau om mau, aku mau. Asal pelan ya, Om? Jangan keras-keras kayak pas pakai jari om?” ucapnya.


Dimas membawa Afifah ke dalam pelukannya. Ia sudah sangat gemas sekali melihat wajah polos istri kecilnya itu. Ada-ada saja tanyanya, sampai membuat Dimas gemas melihat ekspresi wajahnya.


__ADS_2