
Askara sudah sebulan di Indonesia. Dia sekarang fokus merawat Azzura. Dia juga sudah mulai ke kantor, meski saat akan ke kantor dia uring-uringan lebih dulu dengan Zura, karena Zura tidak mau ditinggal dia ke kantor. Padahal ada suster dan bibi yang menemaninya.
Askara sudah berada di kantornya. Dia baru saja selesai meeting. Ia kembali ke ruangannya, lalu membuka lacinya untuk mengambil pulpen yang ia simpan di dalam laci.
“Salma ... bagaimana kabarmu, Sal? Aku kangen kamu.” Ucap Askara dengan mengambil foto Salma yang ada di lacinya.
Tidak bisa dipungkiri, setelah Salma menceraikannya, Askara setiap malam merindukan Salma. Merindukan saat-saat bersama Salma, saat bermesraan dan mencumbu Salma. Meski di sebelahnya ada Azzura, Askara gak bisa membohongi hatinya, dia sangat merindukan Salma.
“Sal kamu di mana sekarang? Apa kamu pulang ke rumah ibumu? Aku sangat merindukanmu, Salma. Maafkan aku. Mungkin jika aku diberi kesempatan untuk bertemu kamu lagi, aku akan berlutut di hadapanmu, Sal. Aku akan bersimpuh di kakimu, mohon ampun padamu karena sudah menyakitimu.” Ucap Askara dengan terisak.
Askara memejamkan matanya. Ia mengingat semuanya saat bersama Salma, tidak ada yang terlewati dalam pikirnnya, memori berkasih saat bersama dengan Salma.
“Dulu aku sering memintamu ke sini, ke kantor kalau aku kangen kamu, Sal. Atau kamu yang ke sini, menyusulku untuk makan siang bersama. Kita pun sering sekali menghabiskan waktu bermesraan, bercumbu rayu di sini, semua masih jelas dan bisa aku rasakan, Sal. Aku sangat merindukanmu, aku sangat mencintaimu, maafkan aku, Salma.” Ucap Askara, dan isakan tangisnya semakin terdengar.
“Aku harus menghubungi Salma, aku yakin nomornya belum ia ganti.” Askara mengambil ponselnya, lalu menghubungi Salma, tapi sayangnya nomor Salma sudah tidak aktif lagi.
“Sudah tidak aktif nomornya! Aku hubungi nomor rumahnya saja. Iya aku masih menyimpannya. Mana buku telefon?” Askara mencari buku telefon di dalam laci, dan mencari nomor telefon rumah Salma. Ia mendial nomor lewat telefon kantornya.
“Masih aktif, pasti ada Salma di rumah. Pasti Salma di rumah ibunya!” batin Askara sedikit lega.
“Hallo? Dengan saya Dimas, ada yang bisa saya bantu?” jawab seseorang di seberang sana, di rumah Salma.
“Dimas? Apa Dimas mantan suami Salma? Dia di rumah Salma, dan berani angkat telefon rumah Salma?” batin Askaran. “Gak mungkin! Salma gak mungkin kembali lagi padanya!”
“Hallo? Dengan siapa ini? Hallo!” ucap Dimas.
“Siapa, Dim?”
“Gak tahu, Sal! Gak ada suaranya.”
“Mungkin jaringannya kali, memang sering begitu. Atau mungkin bisa jadi orang iseng?” ucapan Salma terdengar di telinga Askara. Askara masih diam saja, lega rasanya dia mendengar suara Salma.
“Mungkin, Sal. Tutup saja ya, Sal? Lagian gak ada kerjaan banget orang!” ucap Dimas.
“Iya, tutup saja! Kamu juga mau ke balik ke kantor lagi, kan? Titip ini ke toko, ya? Stok cookies di sana habis kata ibu. Aku ke sana nanti sore sekalin jemput ibu, aku mau selesaikan rajutanku dulu,” ucap Salma.
“Cookies buatan kamu enak, jadi best seller di toko sekarang, Sal!”
“Hmmm ... syukurlah, jadi aku gak kurang kerjaan, Dim.”
“Iyalah daripada mikir yang gak-gak, ujungnya kamu setres sendiri. Itu kamu bikin rajutan apa lagi?”
“Syal. Itu sudah ditutup belum telefonnya?”
“Eh lupa, masih aku pegangi saja, iya ini aku tutup.”
__ADS_1
Tut ... tut ... tut ...
Suara telefon terputus. Askara masih tercenung mendengar percakapan Salma dengan Dimas. Askara mendengar ucapan Salma tadi, sepertinya dia baik-baik saja, dan seperti bahagia sekali.
“Cookies? Cookies itu kue kering, kan? Masa iya Salma bisa buat? Sepertinya dia tidak pernah menjamah dapur lama-lama? Masa sekarang dia bisa bikin cookies? Kata Dimas tadi, enak, dan best seller, jadi dia jual cookies gitu? Terus Dimas di rumah Salma, apa mereka sudah menikah lagi? Apa Salma balikan sama Dimas? Ah, gak mungkin Salma kembali dengan Dimas! Sangat tidak mungkin!” umpat Askara kesal.
Askara memijit keningnya. Dia semakin penasaran dengan Salma. Ingin sekali dia mencari tahu soal Salma. Tapi, mau cari tahu dengan siapa? Salma saja selalu menutup pergaulannya? Tidak punya teman, dan dia lebih suka sendiri.
“Apa aku harus ke rumah Salma? Menemuinya? Mencari tahu soal Salma sekarang bagaimana? Atau kalau tidak aku ke toko ibunya? Ya, ke tokonya. Paling yang tahu aku kan Cuma ibunya Salma dan Salma saja, juga Dimas, itu pun kalau Dimas masih ingat aku seperti apa? Kami ketemu sekali, dia pun paling lupa denganku?” ucap Askara. “Iya aku harus cari waktu untuk bisa ke rumah Salma, supaya Azzura tidak tahu kalau dia akan ke rumah Salma.
Askara memilih pulang, tapi dia memilih pulang ke rumah bundanya. Sejak dia mengurus Azzura, dia sekarang jauh dari bundanya, apalagi bunda, ayah, dan papanya kecewa, kalau dirinya lebih mementingkan sepihak saja. Meski semua juga sedikit kecewa dengan Salma, karena dia memilih pergi dan menggugat Askara, tapi tetap saja, pusat kesalahan ada pada Askara dan Azzura.
“Tumben kamu ke sini, Aska?” tanya Alana.
“Bunda sehat?”
“Ya sehat. Kamu kenapa lusuh gitu?”
“Pusing, habis meeting,” jawabnya.
Askara langsung masuk, lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa yang ada di ruang tengah.
“Kenapa? Sedang ribut sama Zura lagi?” tanya Alana.
“Namanya juga sedang sakit? Kan sudah pilihanmu? Ya kamu jalani saja, nikmati sekarang bagaimana hidupmu dengan Zura?” jawab Alana.
“Bunda aku mau ke rumah Salma. Aku pengin ketemu dia,” ucap Askara.
“Bunda gak salah dengar? Kamu gak usah mulai menyulut api lagi, Askara! Salma sudah tenang, Salma sudah baik-baik saja keadaannya, jangan kamu usik hidupnya lagi. Kasihan dia,” tutur Alana.
“Tadi aku telfon ke nomor rumahnya, yang angkat malah Dimas, mantan suami Salma dulu?”
“Mungkin mereka sudah menikah lagi?” jawab Alana santai. “Sudah, gak usah cari tahu dia lagi, fokus saja dengan Zura, mau Zura bagaimana, dia istri kamu, pilihan kamu. Dan, karena dia kamu meninggalkan Salma. Coba kalau kamu jalin komunikasi yang baik dengan Salma, pasti gak akan begini kejadiannya, Askara?” tutur Alana.
“Iya, bunda, aku yang salah. Harusnya aku bisa adil, aku bisa jalin komunikasi dengan Salma lebih baik, tapi aku malah membiarkan dia, dan selalu bilang dia egois, tidak tahu keadaannya. Padahal aku juga tidak mengerti keadaannya, tidak mengerti perasaan dia seperti apa saat itu,” ucap Askara.
“Lalu sekarang kamu menyesal?”
“Sangat bunda.” Jawab Askara dengan jujur.
“Satu pesan bunda, jangan ganggu hidup Salma. Jangan usik kebahagiaan dia. Bunda yakin dia sudah bahagia sekarang. Entah bahagia sudah menikah lagi atau belum. Yang jelas bunda yakin hidup Salma sekarang menjadi lebih baik, dan sangat bahagia. Jadi jangan pernah kamu berani mengusik kebahagiaan Salma lagi,” ucap Alana memperingatkan putranya.
“Bunda kenapa yakin sekali kalau Salma sudah bahagia sekarang?”
“Ya yakin, Salma sudah melepaskan beban hidupnya. Jadi bunda yakin dia sekarang hidup bahagia. Tapi bunda yakin dia masih sendiri, belum menikah, tapi tetap saja, bunda gak mengizinkan kamu mendekatinya lagi.”
__ADS_1
“Kenapa bunda? Kalau dia masih sendiri, kenapa aku tidak boleh mendekatinya?”
“Karena bagi bunda, bunda juga seorang perempuan, pantang bagi bunda kembali dengan orang yang sudah menyakiti bunda. Kamu merasa menyakiti Salma tidak?” jelas Alana.
Askara hanya diam. Iya benar, dia sudah menyakiti Salma. Dan, tidak mungkin Salma akan kembali pada dirinya. “Tapi, kenapa dia mau sama Dimas? Kenapa dia menjalin komunikasi dengan Dimas lagi? Bukannya dia juga menyakiti Salma?” tanya Askara.
“Kamu gak tahu Dimas itu siapa, Askara?”
“Memang bunda tahu? Aku hanya tahunya dia mantan suami Salma?”
“Iya, dia mantan suami Salma. Tapi kamu harus tahu, saham ayahnya Salma begitu besar di perusahaan Dimas. Jadi mereka sepertinya mengelola sama-sama peninggalan orang tua mereka, juga dengan toko milik ibunya Salma. Wajar Dimas dan Salma masih berhubungan baik, meski perpisahan mereka sangat tidak baik.”
“Kok bunda tahu?”
“Bunda tahu dari Nina dan Risya. Saat Salma pulang dari pengadilan selesai sidang Risya dan Nina tidak terima dia menceraikan kamu, dia meminta semua yang sudah diberikan kamu pada Salma, Salma kembalikan semuanya. Dan, Salma memberikan mereka uang, bahkan dia memberinya lebih, dia memeberi cek senilai satu milyar pada Risya dan Nina. Rasanya kamu bukan miliyader yang selalu ngasih istrimu uang sampai puluhan juta, ratusan juta, bahkan milyaran?”
“Ya aku biasa saja, perusahaanku saja tidak sebesar perusahaan papa? Dan baru beberpa bulan ini profit perusahaan sangat bagus?”
“Ya makanya itu. Kamu tahu nama lengkap Dimas?” tanya Alana.
“Tidak.”
“Dimas Wiharjono, kamu tahu siapa dia?”
“Dia kan pengusaha kaya raya, Bunda? Aku pernah baca profil dia. Apa itu Dimas mantan suami Salma?”
“Iya, benar. Dia Dimas mantan suami Salma. Dia itu mengelola perusahaan peninggalan ayahnya Salma juga. Jadi dia selalu membagi hasil perusahaannya, tapi berhubung saham ayahnya Salma yang banyak, Salma mendapat bagi hasil lebih banyak. Makanya sampai sekarang dia masih bertanggung jawab soal itu, apalagi Salma tidak tahu menahu soal perusahaan. Jadi lebih baik jangan usik hidup Salma lagi. Bunda juga malu dengan mereka, semua malu karena Risya dan Nina yang memaksa Salma mengembalikan uang yang sudah kamu beri pada Salma selama menikah. Juga mereka meminta untuk memberikan surat cerai kamu, karena mereka berpihak pada Zura. Bunda saja kecewa dengan mereka.”
Perseteruan Salma dengan Risya dan Nina tidak langsung selesai begitu saja. Bahkan kemarin Risya dan Nina membuat keributan di rumah Salma. Padahal semua sudah selesai, hanya saja perkara dia tidak bisa mengambil akta cerai milik Askara. Karena disuruh oleh Zura. Padahal Salma sudah bilang akta cerai harus diambil dengan orang yang bersangkutan. Tidak boleh diwakilkan, tapi mereka malah membuat keributan di rumah Salma. Azzura meminta Nina dan Risya mengambil bukti cerai Askara, tapi tidak bisa, harus Askara sendiri yang mengambilnya.
“Bunda malu, sampai Dimas memanggil bunda, ayah, dan papamu karena Risya dan Nina membuat ulah di rumah Salma. Kami ke sana menyelesaikan masalah, dan dari situ papamu tahu siapa Dimas mantan suami Salma. Bahkan perusahaan papamu terancam akibat masalah itu, karena Dimas akan membatalkan kerja sama dengan perusahaan papamu yang di mana kerja sama itu benar-benar menguntungkan sekali bagi perusahaan papamu.” Jelas Alana.
Askara benar-benar tidak tahu apa yang terjadi selama dia di Singapura. Hanya karena masalah sepele akta cerai, sampai perusahaan papanya terancam gulung tikar.
“Azzura memang sudah keterlaluan!” umpat Askara.
“Bunda juga tidak habis pikir. Kenapa dia tidak percaya kalau kamu sudah diceraikan Salma? Pakai ngotot minta akta cerai, biar sebagai bukti. Bunda tidak menyangka, Zura itu kan pendiam, dan kelihatannya baik, juga lemah lembut, tapi kok begitu? Padahal dia sedang sakit, harusnya dia itu sadar,” ucap Alana.
“Askara juga tidak tahu jalan pikiran dia di mana? Makannya aku malas pulang, Bunda,” ucap Askara.
“Ini piliahn kamu, kamu jangan mengeluh. Lagian kamu gak mikir dulu mau berbuat sesuatu. Kamu terlalu cepat mengambil keputusan. Padahal kamu tahu sendiri Zura itu sudah melukaimu, meninggalkanmu selama bertahun-tahun!”
Benar kata bundanya. Askara tidak boleh menyesal dengan keputusannya sendiri. Dia sendiri yang memilih menuruti apa kata Azzura, tapi sekarang dia malah tidak terima Salma dekat dengan Dimas lagi.
“Apa aku harus menerima semua ini? Aku ingin lihat Salma. Aku kangen dia, aku sangat merindukannya. Aku yakin dia masih mencintaiku, dia terpaksa meniceraikanku karena aku sama sekali tidak memberikan kabar dia selama aku di Singapura menemani Azzura. Aku harus menemuinya, aku tidak peduli ada Dimas, aku tidak peduli dengan adanya perseteruan Salma dengan Kak Nina dan Risya. Aku akan tetap ke sana, aku ingin tahu bagaimana keadaan Salma sekarang,” gumam Askara.
__ADS_1