
Askara menyudahi panggilannya dengan Salma. Rasanya lega sekali Salma sudah di rumah. Askara membelikan cemilan untuk nanti malam buat menemani ngobrol dan mengerjakan pekerjaan kantor yang belum terbengkalai karena tadi Askara tidak masuk kantor.
Askara langsung masuk ke dalam rumahnya untuk segera menemui Salma, pun dengan Afifah. Dia juga langsung berlari mendahului Askara dan langsung memeluk Salma.
“Bunda ... dari mana saja sih?” tanya Afifah denga raut wajah cemas.
“Bunda dari tadi di rumah kok, memang bunda ke mana? Orang bunda saja lihat kamu dan ayah pergi? Terus kalian berdebat mau cari bunda ke mana, kan?” jawab Salma.
“Bunda memang tadi di mana sih?” tanya Askara.
“Bunda di teras sebelah, di taman, duduk di ayunan,” jawab Salma. “Kan itu tempat favorit bunda, Yah?” pungkasnya.
“Ayah kira bunda ke mana,” ucap Askara, lalu ia mendekati Salma dan memeluknya. “Jangan pergi, Bun. Maafkan ayah, ayah gak akan bahas-bahas lagi soal Dimas. Maafkan ayah, ya? Ayah hanya takut kehilangan bunda, ayah takut bunda balikan sama Dimas lagi,” ucap Askara dengan memeluk erat Salma.
“Ayah ini aneh, masa iya bunda balikan sama Dimas? Ada-ada saja ayah ini, memang pernikahan itu buat main-main?” ucap Salma.
“Iya ih, ayah lucu. Om Dimas kan memang baik, Yah? Kan kalau Om Dimas telefon juga ada Afifah? Gak sama bunda saja?” jelas Afifah.
“Tuh dengar, Afifah saja ngerti kok?” ucap Salma.
“Cie ... ayah cemburu, ya?” ledek Afifah.
“Wajar dong ayah cemburu? Ayah kan cinta sama bunda?” jawab Askara dan masih memeluk Salma.
“Ih, jangan peluk bunda terus! Ini bundanya aku!” cetus Afifah.
“Ini bundanya ayah kok!” Askara gak mau kalah dengan anaknya, ia masih erat memeluk Salma.
“Sudah kalian belum makan, kan?” tanya Salma.
__ADS_1
“Belum,” jawab mereka kompak.
“Ya sudah makan, yuk?” ajak Salma.
Meskipun kesal dengan suaminya, Salma tetap sabar, toh wajar kalau Askara cemburu dengan Dimas, apalagi Dimas kan lebih dari segalanya dari Askara. Dari postur tubuhnya, ketampanannya, bahkan kekayaannya, Askara masih kalah saing, juga dengan umur, Dimas lebih muda lima tahun dari Askara, karena Dimas seumuran dengan Salma.
^^^
Sejak itu, Askara sudah tidak lagi terlalu membesarkan rasa cemburunya pada Dimas. Dimas juga jarang sekali ke rumahnya setelah sibuk dengan pekerjaannya. Dimas sering ke luar negeri, dia mengurus pekerjaannya sekaligus ingin terapi, karena Dimas ingin sembuh dari saktinya yang sangat mengganggu kehidupannya.
Sudah dua tahun lamanya Salma kembali bersama Askara, namun mereka masih belum juga diberi keturunan. Sudah berkali-kali mereka ke dokter kandungan untuk memeriksakan kandungan Salma dan memeriksa sistem reproduksi pada Askara, normal atau tidak, dan hasilnya semua baik dan normal, hanya saja belum mendapatkan rezeki keturunan jadi mereka harus lebih bersabar lagi.
Afifah sudah masuk SMP. Ia sekarang kelas satu SMP. Askara dan Salma semakin proteks kepada anak perempuannya itu yang sudah menginjak usia remaja.
“Pagi, Bunda, Ayah ...,” sapa Afifah yang sudah siap dengan seragam putih birunya.
“Pagi, Sayang ... tumben gak bunda panggil dulu kamu sudah keluar kamar?” tanya Salma.
Salma mengernyitkan keningnya, tiba-tiba sepagi ini Afifah minta punya adik bayi. “Bunda gak salah dengar?” tanya Salma.
“Enggak kok, benar Afifah pengin punya adik,” jawab Afifah.
“Doakan bunda dan ayah semog cepat diberikan adik, ya?” ucap Askara.
“Itu pasti ayah,” jawab Afifah.
“Bunda, boleh tidak kalau liburan semester ini aku liburan di rumah eyang uti?” pinta Afifah.
“Boleh dong? Masa gak boleh?” jawab Salma.
__ADS_1
“Tapi kamu sendiri gak apa-apa, Nak?” tanya Askara.
“Gak apa-apa sih? Kan ada eyang, ada mbak-mbak yang di toko, ada Om Dimas juga, katanya mau pulang dari Australia?” jawab Afifah.
“Kok kamu tahu Om Dimas akan pulang?” tanya Askara.
“Ya tahu, kan kemarin bilang sama ayah juga sih waktu ayah telefon?” jawab Afifah.
“Oh iya, ayah lupa kayaknya,” ucap Askara mengingat-ingat lagi.
“Ayah yakin melepaskan Fifah ke sana sendiri?” tanya Salma.
“Ya kan ada ibu, ada mbak dan bibi di sana, biar dia mandiri dong? Kan memang rencana kita waktu Afifah libur semester kita mau ke Singapura, kan? Kita mau menjalani program hamil di sana?” jelas Askara.
“Iya juga sih? Ya sudah mumpung ada Dimas juga, biar nanti kalau mau pulang diantar Dimas, “ ucap Salma.
“Doakan ayah dan bunda ya, Nak? Kami mau program hamil di sana, mungkin agak lama kami di Singapura, Afifah sama bibi di rumah sendiri gak apa-apa, kan? Atau nanti Oma Alana dan Opa Ardha ke sini, menemani kamu. Ayah sudah minta opa sama oma ke sini kok,” ucap Askara.
“Afifah selalu mendoakan ayah dan bunda yang terbaik. Semoga bunda bisa hamil, ya? Iya nanti sama opa dan oma saja, lagian Om Dimas pasti sibuk sekali, mana mungkin mau di sini lama nunggu ayah dan bunda pulang?” jawab Afifah.
“Pokoknya selama bunda dan ayah pergi, kamu baik-baik di rumah. Sama opa, oma, atau siapa pun, kamu harus baik-baik di rumah, gak usah main-main keluar kecuali ada tugas kelompok, dan ingat harus diantar Pak Pardi kalau mau ke mana-mana, jangan sendirian,” tegas Askara.
Sejak Afifah masuk SMP, Afifah memakai supir pribadi. Sekarang juga Askara tambah sibuk ke kantor, dan tidak mungkin harus antar jemput Afifah. Salma juga sekarang sibuk di cafe juga toko kuenya. Salma sudah diizinkan Askara untuk membuka cafe dan toko kue, meskipun ada karayawan yang menanganinya, tetap saja Salma juga ikut turun tangan, apalagi bisnis baru berjalan, dan itu di kota orang, dan butuh sekali diperhatikan Salma.
Salma dan Askara sudah mendambakan kehadiaran buah hati. Apalagi Salma yang sudah lama sekali tidak hamil sejak ia keguguran dulu saat dirinya masih bersama Dimas.
Sejak Afifah masuk SMP, Askara baru memikirkan kalau dirinya sekarang kesepian, karena Afifah sudah memiliki dunia barunya. Dunia remajanya yang mungkin sangat menyenangkan. Apalagi dia mendapatkan teman baru, jadi Afifah sekarang banyak menghabiskan waktunya dengan dunia barunya. Setelah mengenal gadget Afifah juga makin sedang bermain gadget. Tapi tetap saja Afifah mementingkan sekolahnya, hape hanya untuk hiburan dan kalau sedang ada tugas saja.
Salma padahal khawatir kalau Afifah terlalu sering bermain hp. Kadang dia mengecek apa isi hp Afifah, karena pergaulan anak sekarang sangat ngeri. Banyak anak SMP, bahkan SD yang sudah tahu pacaran. Kadang menyembunyikan chat dengan lawan jenisnya. Salma takut itu akan terjadi pada Afifah. Ya meskipun dulu Salma pacaran dengan Dimas sejak SMP, tapi zaman dulu gadget belum secanggih sekarang. Zaman sekarang semuanya bisa diakses dengan internet, dan gadget sekarang fiturnya sangat canggih. Sekecil apa pun bisa dicari dalam internet, termasuk film-film yang tidak senonoh.
__ADS_1
Setiap pulang sekolah Salma mengecek hp milik Afifah. Itu semua karena Afifah masih butuh pengawasan ketat. Salma takut sekali Afifah bergaul dengan teman yang salah. Apalagi Afifah anak perempuan.