
Seusai acara dan membersihkan diri, Zahra dan Arga sama-sama gugup. Mereka duduk di tepi tempat tidur dengan memakai piyama berbahan satin. Arga terus saja menatap wajah Zahra yang tampak malu-malu. Hampir setengah jam, tetapi pengantin baru tersebut hanya berdiam diri.
"Kamu tidak ingin malam pertama denganku?" tanya Arga setengah kesal. Zahra menggeleng, tetapi saat melihat sorot mata Arga yang menajam, Zahra langsung mengangguk cepat.
"Iya atau tidak?" Suara Arga terdengar penuh penekanan.
"I-iya, Mas. Kita udah nikah, mana mungkin tidak ingin malam pertama, aku juga pengen ngerasain adegan pisang masuk lubang donat," sahut Zahra asal ceplos. Arga mendelik, tetapi sesaat kemudian lelaki itu menyeringai.
"Dapat kamus dari mana istilah seperti itu?" Arga berusaha keras menahan tawa.
"Dari si cecunguk itu. Kata Kurap sakit, tapi bikin nagih. Aku 'kan jadi penasaran, Mas." Zahra mengerucutkan bibir hingga membuat Arga gemas sendiri.
__ADS_1
"Kupikir kamu bakalan malu-malu meong, ternyata mulutmu sangat jujur." Arga menggeleng tidak menyangka.
"Mas ...." Belum juga Zahra selesai berbicara, Arga sudah membungkam mulut gadis itu dengan mulutnya. Tangan Arga merengkuh pinggang Zahra dan lidahnya mengakses seluruh rongga mulut Zahra.
Awalnya, Zahra hanya diam karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. Namun, perlahan, tapi pasti. Zahra mulai membalas meskipun masih kaku. Arga pun makin bersemangat bahkan membelitkan lidahnya dengan Zahra.
Zahra terkejut saat Arga tiba-tiba menyentuh dua bukit kenyal miliknya. Dia hendak menyingkir, tetapi Arga menahan dengan lembut.
"Aahhhh," des*h Zahra saat lidah Arga sudah menyentuh leher jenjang miliknya. Naik-turun dengan perlahan hingga membuat Zahra merasakan seluruh tubuhnya terasa meremang. Apalagi saat Arga mulai membuka paha Zahra lebar dan memainkan jarinya di bawah sana. Sungguh, Zahra tidak mampu lagi menahan desah*n meskipun dia sudah berusaha menahan dengan menggigit bibir bawahnya.
Detik yang terus berlalu tanpa sadar pengantin baru itu sudah tidur saling menindih tanpa sehelai benang pun. Arga mulai memasukkan pisang belitung miliknya ke dalam donat rasa strawberry karena warnanya merah muda. Arga melakukan dengan sangat perlahan karena masih sangat sempit.
__ADS_1
"Mas ... sakit ...." Zahra mencengkeram sprei dengan kuat saat ada benda tumpul yang masuk ke dalam lubang miliknya. Arga pun berhenti sesaat sampai tubuh Zahra menerima.
"Kenapa sakit sekali," rintih Zahra, ingin melepaskan benda tumpul itu, tetapi dia juga penasaran rasanya disodok.
"Kamu mau berhenti sampai di sini?" tanya Arga penuh kecewa. Zahra menggeleng cepat.
"Aku akan menahannya. Kata Kurap, rasanya sakit di awal, tapi bisa bikin ketagihan." Zahra berbicara yakin. Arga pun menghujami wajah Zahra dengan banyak ciuman supaya gadis itu tenang. Setelahnya, Arga mulai menggoyang dengan perlahan. Zahra yang awalnya kesakitan pun mulai menikmati genjotan yang membuat dirinya kelojotan.
Des*han Zahra memenuhi kamar seiring suara panggul mereka yang saling bertabrakan. Arga terus memompa tubuh Zahra dengan segala kekuatan adik kecil yang dia miliki. Sampai pada akhirnya, Zahra mencengkeram punggung Arga dengan kuat saat Arga mencapai puncak, begitu juga dengan Zahra.
"Aku mencintaimu." Arga menciumi seluruh wajah Zahra di sela napasnya yang tersengal.
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu, Mas." Zahra membalas juga dengan napas terengah. Tubuhnya serasa remuk redam, tetapi kegiatan tadi benar-benar membuatnya ketagihan.