Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
19


__ADS_3

Zahra mematikan panggilannya lalu menaruh ponselnya secara kasar di atas tempat tidur. Bibir gadis itu terus saja ngedumel karena sikap laknat sahabatnya. Zahra bergidik, masih teringat suara eksotis yang mampu membuat bulu kuduknya berdiri. Dia memang dulu sering melihat video bok*p, tapi mendengar suara sahabatnya langsung seperti itu, rasanya sangat berbeda.


Dengan kasar Zahra turun dari tempat tidur dan berjalan menuju ke dapur. Tenggorokannya terasa kering. Zahra melihat kedua kamar sahabatnya yang pintunya sudah tertutup rapat.


"Ish. Sumpah, gegara tuh Kurap sialan, gue jadi enggak bisa tidur." Zahra menuangkan air putih ke dalam gelas lalu menenggak sampai tandas.


Bayangan adegan dewasa terus saja menggoda pikiran Zahra. Gadis itu menggeleng, berusaha untuk mengusir, tetapi beberapa detik berlalu pasti muncul lagi. Zahra pun meletakkan gelas di meja lalu hendak kembali ke kamar.


Namun, baru saja berbalik, Zahra terkejut saat melihat seorang wanita dengan baju putih, rambut tergerai berantakan dan wajah yang tampak putih, tetapi bibir merah merona.


"Setan!!" Suara lengkingan Zahra menggema di sana. Tubuh gadis itu gemetaran bahkan keringat dingin sudah membasahi dahinya.


"Ada apa sih, Zae?" Zety yang baru saja datang berdiri di balik wanita tadi.


"Su-Suk." Zahra tergagap. Matanya memberi kode kepada Zety, tetapi gadis itu tidak paham. "Ada setan di depan elu."


"Setan? Mana setan?" Zety heboh sendiri. Bahkan dia memeluk siapa pun yang berdiri di depannya.


"Lagi elu peluk, Suk." Zahra menggeleng melihat sahabatnya.

__ADS_1


"Ini gue! Gobl*k!" Margaretha mendengkus kasar.


Zety melepas pelukannya lalu menatap Maragretha dengan seksama. Zahra pun berjalan mendekat dan ikut mengamati. Namun, beberapa detik kemudian Zahra Dan Zety mendesis saat Margaretha dengan gemas menonyor kepala mereka.


"Setan-setan! Kalian pikir gue kuntilanak?"


"Habis elu maskeran gitu pakai baju putih pula," protes Zahra.


"Bener. Apalagi rambut elu kaya orang gila, Mar," imbuh Zety.


"Harusnya kalian tahu, enggak ada setan yang secantik gue. Kalian enggak lihat bibir seksi gue?" Maragretha sewot sendiri. Zety dan Zahra pun melihat bibir Margaretha yang merah merona.


"Makanya, elu buka usaha kecantikan aja di sana. Pasti laris manis tuh," ujar Zety memberi ide.


"Iya bener, karena elu penjual satu-satunya, elu bisa naikin harga dua kali lipat, kan untungnya lebih gede. Ntar lu bisa bisa punya rumah megah kaya punya si Rasya." Margaretha menambahi, tetapi dia berusaha keras menahan tawa.


"Bener juga, ya. Tapi gimana caranya?" tanya Zahra polos.


"Mati!" sahut Margaretha dan Zety bersamaan.

__ADS_1


Gelakan tawa Margaretha dan Zety terdengar memenuhi ruangan itu. Mereka tidak menyangka kalau sahabatnya akan menjadi sebodoh itu. Menyadari dirinya menjadi bahan tertawaan, Zahra menghentakkan kaki karena kesal.


"Kalian jahat banget!" seru Zahra. Memukul lengan Zety yang langsung mengaduh kesakitan.


"Elu yang gobl*k kenapa kita yang salah." Maragretha masih saja tertawa.


"Bener. Otak elu ngelag!" Zety berbalik dan kembali ke kamar bersama Margaretha.


Zahra masih berdiri di tempatnya. Mulut gadis itu terus saja ngedumel, mengumpati sahabatnya yang begitu kejam. Namun, beberapa detik selanjutnya dia terdiam saat merasakan bulu kuduknya berdiri.


Zahra berusaha merasakan aura sekitar dan menajamkan pendengaran siapa tahu ada suara cekikikan khas Mak Kunti di sana. Namun .....


"Mas—"


"Sebentar lagi. Hampir sampai."


"Ra ... aku keluar!"


"Aku juga keluar, Mas!"

__ADS_1


"Sial! Kenapa yang muncul justru suara Kurap sama Tuan Panu." Zahra menonyor kepalanya sendiri sebelum akhirnya kembali ke kamar untuk istirahat. Dia harus bisa tidur sebelum pikirannya makin tidak jelas.


__ADS_2