Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
61


__ADS_3

Pemakaman Yudha dilaksanakan hari itu juga. Tangisan Zahra dan Ibu Henny kembali pecah saat jenazah Yudha dimasukkan ke liang lahat. Bahkan, Zahra hampir saja terjatuh di tanah kalau Arga yang berdiri di belakangnya tidak segera menahan. Zahra kembali tidak sadarkan diri. Arga pun membawa Zhara kembali ke panti dengan ditemani oleh Rasya dan juga Pandu.


Setibanya di kamar, Arga merebahkan Zahra di atas tempat tidur lalu mendekatkan minyak kayu putih untuk menyadarkan gadis itu. Baru saja tersadar, Zahra hendak memaksa turun, tetapi Arga langsung menahan.


"Tenangkan dirimu." Pelukan Arga terasa erat. Dia tidak peduli meskipun Zahra terus saja meronta.


"Aku mau lihat mas Yudha!" seru Zahra. Dia merasa marah karena Arga menghalangi.


"Ya, kita akan lihat ke sana setelah kamu tenang. Setelah kamu diam maka aku akan mengantarmu ke sana. Kamu harus ingat satu hal, yang dibutuhkan Yudha saat ini adalah doa. Bukan air mata. Kalau kamu terus menangis seperti ini, justru itu akan memberatkan Yudha di sana." Arga berbicara sangat lembut sembari mengusap surai hitam Zahra.


Perlahan, tapi pasti. Arga mulai mengembuskan napas lega saat merasakan Zahra yang sudah sedikit lebih tenang. Tangisan gadis itu pun mulai memelan. Setelah memastikan Zahra sudah benar-benar tenang, Arga pun menuruti gadis itu. Mengantar ke pemakaman untuk melihat pemakaman Yudha yang baru selesai.

__ADS_1


Setelah mendengar nasihat Arga, Zahra benar-benar tampak sedikit tenang dan hanya memanjatkan doa di samping pusara Yudha. Sementara Arga, tidak sedikit pun beranjak ataupun menjauh dari Zahra. Dia khawatir Zahra akan kembali tidak sadarkan diri.


"Kita pulang, Zae. Hampir hujan." Zety menatap langit yang mulai menghitam.


"Sebentar lagi." Suara Zahra terdengar parau karena sedari tadi terus menangis.


"Kita tunggu lima menit lagi," ucap Margaretha.


Merasa tidak tega dengan sahabatnya yang setia menunggu, Zahra pun mengajak pulang. Namun, baru saja berdiri, tiba-tiba hujan deras mengguyur. Mereka semua pun bergegas berlari keluar dari pemakaman.


"Te-terima kasih, Tuan." Zahra merasa gugup. Apa yang dilakukan Arga terlihat sangat romantis menurutnya.

__ADS_1


"Ayo kita harus segera kembali. Sebelum hujan makin deras." Mereka pun melangkah lebar menuju ke mobil. Setelahnya, Arga melajukan mobilnya menuju ke panti karena selama satu minggu ke depan, Zahra akan tinggal di sana.


***


Selama satu minggu, Rasya dan para sahabatnya selalu mengunjungi Zahra di panti asuhan. Mereka tidak pernah lelah memberi semangat untuk Zahra. Begitu juga dengan Arga yang tidak pernah absen. Meskipun tidak mengobrol, tetapi Arga selalu datang untuk memastikan Zahra dalam keadaan baik-baik saja.


"Ada apa, Tuan?" tanya Zahra heran saat Arga mengajaknya berbincang berdua di tempat bermain anak panti.


"Aku ada titipan untukmu." Arga mengeluarkan amplop dari dalam saku.


"Titipan? Dari siapa?" Zahra makin heran.

__ADS_1


"Ini dari Yudha sebelum dia pergi mengasingkan diri. Dia juga berpesan supaya memberikan surat ini setelah dia pergi untuk selamanya." Arga tidak tega, tetapi dia harus menyampaikan karena ini merupakan sebuah pesan wasiat dari Yudha.


Zahra tidak membuka suara, hanya meraih amplop putih itu dengan ragu. Menatap lekat sebelum akhirnya dia membuka perlahan. Zahra melihat tulisan tangan Yudha yang tidak terlalu rapi di sana. Zahra pun menatap tulisan yang memehuni satu lembar kertas tersebut lalu membaca dengan perlahan.


__ADS_2