Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
52


__ADS_3

Jam baru menunjukkan pukul lima, tetapi Rasya sudah terbangun dan langsung bergegas menuju ke kamar kakaknya, di mana ketiga sahabatnya tidur. Rasya duduk di tepi tempat tidur dan menggoyangkan tubuh Zahra yang berada paling ujung.


"Zae ... bangun, Zae." Rasya berusaha membangunkan Zahra yang masih tertidur lelap. "Zae!"


"Apaan, sih! Gue masih ngantuk." Zahra berusaha menyingkirkan tangan Rasya tanpa membuka mata.


"Zae! Temenin gue jalan-jalan." Rasya masih berusaha membangunkan sahabatnya.


"Jangan ganggu gue, sih, Suk! Gue lagi mimpi indah bareng pangeran," igau Zahra. Kembali menyingkirkan tangan Rasya.


"Sak-Suk, Sak-Suk! Gue Kurap bukan Suketi!" Rasya kesal sendiri. Bahkan, saking gemasnya dia mencubit pipi Zahra hingga membuat gadis itu terbangun seketika.


"Sakit!" Zahra mengusap pipi yang terasa panas. "Elu jahat banget, Ra."


Bukannya kasihan, Rasya justru terkekeh melihat sahabatnya. Rasya sedikit naik ke tempat tidur dan membangunkan Zety juga Margaretha. Dengan terpaksa, kedua gadis itu pun ikut terbangun.


"Ada apa sih, Ra?" tanya Zety bermalas-malasan. Bahkan, dia hendak kembali tidur.


"Temenin gue jalan-jalan!" ajak Rasya.


"Ra, elu yang bener aja. Ini masih pagi buta," ujar Zahra.


"Bener, bukan cemburu buta." Zety menambahkan.


"Matahari aja masih malu-malu," imbuh Margaretha.


"Kaya Zaenab sama Tuan Arga. Malu-malu, tapi mau." Zety kembali menambahkan, tetapi Zety mengaduh karena Zahra sudah memukul pahanya dengan kencang.


"Sakit, Zae!" Zety mengusap paha yang terasa memanas.


"Elu kalau ngomong suka bener, Suk!" cebik Zahra.


"Cieee ... berarti emang bener dong kalau kamu sama Tuan Arga anu-anu," ledek Zety.


"Anu-anu apa? Jangan suka ngawur kalau ngomong." Zahra beranjak duduk dan menatap kesal ke arah sahabatnya.


"Ngaku aja elu, Zae. Buktinya semalam elu sama Tuan Arga berduaan di dapur."


"Ihiirr ... kita 'kan enggak tahu setelah mie instan time kalian ngapain lagi."


"Remang-remang pula. Hahaha." Margaretha dan Zety terus menggoda Zahra, sedangkan Rasya justru menautkan kedua alisnya.


"Kalian ngomong apa?" tanya Rasya pada akhirnya. Zahra memegang lengan Rasya dan mengajak pergi sebelum terjadi kesalahpahaman. Namun, Rasya justru merasa curiga dengan tingkah Zahra.


"Jadi, gini, hmm hmmm." Zety meronta saat Zahra langsung membekap mulutnya yang hendak bercerita kepada Rasya.

__ADS_1


"Diem!" Zahra berbisik tanpa melepaskan bekapan tangannya.


"Ra, semalam Zahra dan Tuan Arga berduaan di dapur, dan gue curiga mereka anu-anu." Margaretha menjawab asal. Dia segera turun dari tempat tidur sebelum Zahra menangkapnya.


"Zae ...." Rasya menahan Zahra yang hendak menangkap Margaretha. Tatapan Rasya ke arah Zahra begitu menuntut jawaban. Melihat itu, Zahra menelan ludah dengan kasar.


"Jelasin, Zae." Suara Rasya terdengar tegas. Namun, Zahra justru menunduk dan gugup. "Semalam elu sama Kak Arga di dapur?"


Zahra hanya mengangguk saat menanggapi pertanyaan Rasya, dan itu mampu membuat seorang Kurap jadi kesal sendiri.


"Jawab kalau gue tanya, Zae. Elu belum bisu. Jawab cepat kalau emang elu enggak ngapa-ngapain semalam," suruh Rasya. Zahra mengangguk mengiyakan.


"Elu semalam sama Kak Arga?"


"Iya!"


"Di dapur?"


"Iya."


"Makan mie?"


"Iya."


"Iya."


"Dan elu kikuk kikuk dengan Kak Arga?"


"Iya!"


"Zaenab!" pekik ketiga sahabat itu bersamaan. Zahra mengangkat kepala dan menatap heran ke arah sahabatnya.


"Apa?" tanya Zahra tanpa dosa.


"Yakin, semalam elu kikuk-kikuk sama Kak Arga?" Zety menatap lekat sahabatnya. Zahra mengangguk cepat.


"Astaga. Gue kagak nyangka elu kaya gitu, Zae." Rasya mengusap dada sembari menggeleng pelan.


"Ternyata ...." Margaretha pun tak mampu lagi berkata-kata.


"Emang kenapa? Kikuk-kikuk itu apaa, sih?" Zahra bertanya heran.


"Elu kagak tahu kikuk-kikuk itu apa?" Suara Rasya mulai meninggi. Zahra menggeleng cepat.


"ML oe ML."

__ADS_1


"Making Lope."


"Astaga! Kalau itu mah kagak! Sumpah, gue kagak sampai kaya gitu. Suwer deh." Zahra tampak takut dan gugup. Dua jarinya menunjuk tanda damai.


"Zae, ngaku aja! Kalau emang elu sama Kak Arga beneran udah kikuk-kikuk. Nanti siang gue panggilin penghulu—"


"Buat apa, Ra?" sela Rasya.


"Buat jualan seblak! Buat nikahin elu sama Kak Arga lah!" sewot Rasya.


"Ide bagus, Ra!" ujar Zety dan Margaretha bersamaan.


"Kalian jahattt!!" Suara Zahra terdengar melengking memenuhi kamar dan disambut gelakan tawa ketiga sahabatnya.


••••


Hallo Guys, adakah yang merindukan Othor?


aihh Othor rindu banget sama kalian 😘


Sebelumnya Othor minta maaf karena selama satu Minggu ini slow-update bahkan tidak membalas komentar kalian.


terima kasih atas dukungan dari kalian semua.


Othor mau bilang kalau Othor belum bisa menyajikan cerita yang luar biasa, tidak membosankan, tidak bertele-tele ataupun sejenisnya.


Othor sadar, masih banyak kesalahan dalam cerita yang Othor tulis. Karya Othor hanyalah fiktif belaka.


jadi, buat kalian yang tidak suka dengan karya ataupun alur cerita dari Othor, silakan skip tanpa meninggalkan komentar yang membuat hati penulis sakit 🙏🙏


ketahuilah, setiap penulis itu selalu berada dalam tahap belajar dan kurangi komentar yang mampu membuat down mental seorang penulis.


mengkritik boleh, tapi gunakan bahasa yang halus dan sopan 🙏


Untuk karya ini masih on-going, dan Othor selalu berusaha supaya bisa crazy up ketika sedang tidak terlalu sibuk di dunia nyata.


terima kasih yang selalu setia menanti.


sudah panjang ceramah dari Othor.


cukup sekian ya guyss


mulai tanggal 1, Othor usahakan biar bisa rutin update lagi


calangheo 😘🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2