
Ketika sudah berada di dalam mobil, ketiga gadis itu hanya diam karena takut melihat raut wajah Arga yang tampak datar. Bahkan, terlihat jelas kalau lelaki tersebut sedang jengkel. Tiga gadis Somplak yang duduk di kursi penumpang hanya saling menyenggol.
"Auh! Sakit, Suk!" Zahra mengerang karena Zety mencubit pinggangnya cukup kencang. Bukan tanpa alasan, Zety memberi kode kalau dia ingin buang air kecil, tetapi Zahra justru bersikap seperti orang bodoh.
"Jangan keras-keras." Zety berbisik. Dia benar-benar merasa kesal dengan sahabatnya.
"Bisakah kalian diam dan tidak membuatku pusing ataupun malu!" Arga menggeram. Kejadian di warung bakso tadi membuat lelaki itu malu sendiri.
"Tu-Tuan, bolehkah saya meminta berhenti di pom bensin? Saya kebelet." Zety berbicara dengan gugup. Bahkan, dia harus bersusah payah mengumpulkan keberaniannya.
"Mau ngapain?" tanya Arga.
"Pipis, Tuan."
Arga tidak menanggapi lagi. Hanya menyuruh Dani supaya menghentikan mobilnya di pom bensin terdekat.
Ketika telah sampai di tempat pengisian bahan bakar, Zety segera turun dari mobil dan berlari ke toilet karena sudah tidak tahan lagi, sedangkan Dani mengisi bahan bakar sekaligus. Lebih dari lima menit, akhirnya Zety keluar dan Dani pun kembali melanjutkan perjalanan yang tinggal satu jam lagi.
***
"Mas, apa Kak Arga sedang ke sini?" tanya Rasya yang masih rebahan di kamar. Kemarin, dia baru saja pulang dari rumah sakit.
Pandu mengusap puncak kepala Rasya dengan lembut. "Ya, dan mungkin sebentar lagi mereka sudah sampai."
__ADS_1
"Mereka? Mereka siapa?" tanya Rasya, tetapi Pandu tidak menjawab dan justru mendaratkan banyak ciuman di wajah Rasya. "Ish! Kenapa enggak jawab sih, Mas." Bibir Rasya mengerucut.
"Jangan membuatku gemas dan aku akan menelanj*ngimu saat ini!" ancam Pandu, tetapi Rasya justru terkekeh.
"Aku enggak yakin kamu bakal berani ngajak aku telanj*ng," ledek Rasya. Sesaat kemudian terdengar ledakan tawa Rasya karena Pandu menggelitik ketiaknya.
"Ampun, Mas ... udah ... aku enggak tahan," racau Rasya.
"Tiada ampun bagimu. Aku akan membuatmu lemas." Pandu menimpali.
"Jahatnya dikau padaku, Kakanda," seloroh Rasya di sela gelakan tawa.
Tok tok tok!
Dengan sedikit tergesa, Rasya turun dari tempat tidur, disusul Pandu di belakang. Ketika pintu baru saja dibuka, Rasya mengerutkan kening saat melihat raut wajah Paijo.
"Bapak kenapa?" tanya Rasya heran. Pandu yang sudah berdiri di belakang Rasya pun juga merasa heran.
"Kamu lagi ngapain? Kenapa teriak-teriak?" tanya Paijo.
"Lagi mainan sama Mas Pandu." Rasya menjawab santai.
"Mainan? Mainan apa? Jangan bilang mainan kuda-kudaan. Ingat, Kum, kamu itu baru saja ...."
__ADS_1
"Kukum tahu, Pak." Rasya menyela. Dia tahu kalau sang ayah terlalu cemas dengannya. "Mas Agus ngapain ke sini juga?" tanya Rasya saat melihat Agus ikut berdiri di depan pintu.
"Noh, ada temen-temen kamu di depan. Mereka baru datang sama Tuan Arga." Agus menjawab malas, tetapi mampu membuat Rasya sedikit bingung.
"Temen-temen aku maksudnya?" tanya Rasya bingung.
"Itu, tiga gadis somplak yang satu spesies sama kamu."
"Rasya!" teriak Pandu saat melihat Rasya berlari ke luar rumah. Pandu pun segera mengejar istrinya. Begitu juga dengan Paijo dan Agus.
"Suketi, Zaenab, Markonah!" teriak Rasya saat melihat ketiga sahabatnya baru saja turun dari mobil.
"Kurap!!" balas mereka sembari berlari mendekat. Zety dan Margaretha langsung memeluk Rasya, sedangkan Zahra justru berdiri tidak jauh. Gadis itu hanya menatap ketiga sahabatnya yang sedang berpelukan.
••••
Selamat pagi guys
Othor minta maaf bakalan slow-update sampai hari Sabtu ya
jadi Othor update pas lagi sempet, dan terima kasih banyak buat kalian yang selalu setia sama Othor 😘
Insya Allah awal bulan nanti Othor rutin update lagi ya
__ADS_1
love you All 😘salam sayang dari Othor Kalem Fenomenal, sekalem Kurap dan ketiga sahabatnya 😂—gue ketawa jahat guys—