
Melihat wajah gugup Zahra membuat sudut bibir Arga tertarik perlahan. Lelaki itu tersenyum tipis, apalagi saat gadis di depannya bukannya mengambil sebungkus mie yang terjatuh, tetapi justru memainkan jari-jarinya sembari menunduk dalam.
"Sedang apa kamu malam-malam di dapur sendirian?" tanya Arga menuntut.
"Sa-saya lapar, Tuan. Ma-maafkan saya." Zahra terbata. Kegugupan tampak terdengar jelas dari nada suara Zahra.
"Seharusnya kamu minta maaf dengan Nona Muda atau pemilik rumah ini bukan kepadaku!" Suara Arga yang menggelegar membuat tubuh Zahra meringsut.
"Mereka masih tidur nyenyak, Tuan. Saya tidak berani membangunkan. Sementara saya lapar sekali." Zahra mengusap perut yang keroncongan sejak tadi. Arga pun mengalihkan perhatiannya ke sana.
"Kamu pikir aku tidak lapar?" Suara Arga masih cukup tinggi.
"Mana saya tahu, Tuan. Kalau Anda juga lapar, bagaimana kalau saya buatkan mie sekalian," tawar Zahra. Namun, Arga justru mendengkus kasar.
"Kamu pikir dengan membuatkan mie untukku, kamu bisa bebas dan menjamin aku tidak akan mengadu kepada pemilik rumah ini? Bilang saja kalau kamu ingin merayuku," tukas Arga.
Zahra menghela napas panjang lalu mengembuskan secara kasar. Dia membungkuk untuk mengambil mie yang tergeletak di lantai. "Kalau Anda tidak mau ya sudah. Saya mau buat sendiri saja." Zahra berbalik dan bersiap untuk mengambil panci untuk memasak mie tersebut.
"Heh! Siapa yang bilang tidak mau?" Pertanyaan Arga membuat Zahra berbalik dan menatap lelaki itu dengan heran.
"Bukankah Anda tidak mau?" Zahra justru melontarkan pertanyaan balik.
"Buatkan aku satu. Kalau ada yang rasa kari, kasih sedikit sayur, irisan cabai, dan telur dua butir." Ucapan Arga mampu membuat Zahra melongo. Mulut gadis itu terbuka lebar. Sementara kedua sudut bibir Arga tertarik, menunjukkan senyum seolah tanpa dosa.
"Saya tidak salah dengar, Tuan?"
"Kupikir kamu belum tuli," sarkas Arga diiringi dengkusan kasar. "Jangan terlalu lama. Perutku sudah sangat lapar dan aku tidak bisa jika terlambat makan," suruh Arga.
__ADS_1
"Baiklah." Zahra pun hanya menurut.
Zahra pun mengambil sebungkus mie rasa kari, juga berbagai pelengkap seperti bakso dan lainnya dari dalam kulkas. Setelahnya, gadis itu meracik. Dia terlebih dahulu membuatkan untuk Arga yang saat ini masih duduk santai dengan tatapan yang tidak lepas sedikit pun dari sosok Zahra. Gerakan tangan Zahra yang biasa lihai memasak kini terlihat gugup karena gadis itu merasa Arga terus saja mengawasinya.
"Jangan terlalu pedas." Arga menghentikan gerakan Zahra yang hendak memasukkan irisan cabai.
"Ini hanya cabai dua puluh biji, Tuan." Zahra menoleh ke arah Arga.
"Setengah aja."
"Tapi nanti tidak pedas, Tuan."
"Kata siapa?"
"Kata saya, Tuan."
"Perutku dan perutmu itu tidak sama."
"Memang iya," sela Zahra, membuat Arga membungkam mulutnya sesaat.
"Sudahlah! Pokoknya cukup setengah aja!"
Zahra pun menurut. Dia memasukkan setengah irisan cabai.
"Telurnya setengah matang saja," suruh Arga lagi. Zahra hanya mengangguk mengiyakan.
Hampir sepuluh menit berlalu, Zahra membawa dua mangkok ke meja. Perut Arga makin terasa keroncongan saat menghirup aroma mie instan yang begitu menggugah selera. Rasanya, Arga sudah tidak sabar ingin segera melahap mie tersebut.
__ADS_1
Zahra pun sama. Dia duduk di samping Arga dan menaruh salah satu mangkok ke depan Arga. "Saya makan di sini saja, Tuan. Biar kita terlihat sedikit romantis," celetuk Zahra.
Arga tidak menyahut, hanya bibirnya yang tersenyum samar. Sungguh, Arga pun merasa sangat senang bisa berdua bersama Zahra. Gadis yang sudah mampu mencuri harinya.
Arga dan Zahra sama-sama mengambil mie dengan garpu, dan ketika mereka hendak memasukkan mie ke dalam mulut, tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu yang membuat mereka berdua terkejut.
"Astaga, Mar! Ada dua kucing lagi makan mie!" teriakan Zety mengalihkan perhatian Zahra dan Arga.
"Mana-mana?" Margaretha heboh sendiri.
"Noh! Kucing kepala item!" Seloroh Zety diiringi gelakan tawa. Margaretha yang melihat dua orang yang sedang makan mie pun justru menonyor kepala Zety.
"Sakit, Mar." Zety mengusap bekas tonyoran Margaretha.
"Mendingan kita pergi, Suk. Sebelum jiwa jomlo kita meronta-ronta." Margaretha menarik tangan Zety dengan paksa.
"Jangan lupa kasih kita PJ, Zae!" teriakan Zety terdengar meski gadis itu sudah tidak terlihat lagi.
"Apa itu PJ? Penanggung Jawab?" tanya Arga heran. Dia memakan mie yang masih berada di garpu.
"Pajak jadian, Tuan."
"Apa maksudnya itu?"
"Jadi, saya harus traktir mereka makan kalau kita udah jadian," sahut Zahra.
"Uhuk-uhuk!" Arga tersedak mendengar ucapan Zahra. Bahkan tenggorokannya terasa memanas.
__ADS_1
"Hati-hati, Tuan. Makan mie aja seperti bayi."