
Setelah melewati perdebatan kecil, Zahra akhirnya duduk dibonceng oleh Arga. Walau dalam hati dia masih saja menggerutu. Sementara Arga tersenyum simpul saat merasakan Zahra tidak sesedih tadi. Dia pun melajukan motornya menuju ke kontrakan.
"Kamu tidak ingin pegangan?" tanya Arga, bibirnya tersenyum licik.
"Tidak, terima kasih, Tuan." Zahra menolak malas.
"Kamu yakin? Jangan salahkan aku kalau kamu jatuh nanti," ujar Arga. Zahra mendengkus kasar dan berusaha berpegangan besi belakang, tetapi sialnya motor sport itu tidak ada besi tersebut.
"Astaga!" Zahra tanpa sadar memeluk Arga saat motor tersebut tersendat. Bukannya hendak mogok, tetapi Arga sengaja melakukan itu supaya Zahra mau berpegangan padanya. "Bisakah Anda melajukan motor dengan baik dan benar, Tuan?" cebik Zahra. Hendak melepas pelukan itu, tetapi Arga menahan.
"Jangan lepaskan." Setelah berbicara seperti itu, Arga segera melajukan motornya cukup kencang. Zahra pun hanya diam menurut karena jujur, dia juga merasa takut.
Selepas kepergian Arga dan Zahra. Yudha yang sedari tadi berdiri mengawasi dari tempat yang tidak terlalu jauh, tetapi aman dari pandangan Zahra, hanya bisa menghela napas berat. Yudha sengaja pergi karena tidak mau Zahra akan terus menahannya.
Tanpa sadar, air mata Yudha mengalir dari kedua sudut matanya saat menatap Zahra yang sudah pergi bersama Arga. Hatinya sakit, tetapi dia tidak memiliki daya apa pun.
__ADS_1
"Tuan."
Yudha menghapus air mata dengan cepat saat mendengar suara Dani dari arah belakang. Setelah memastikan tidak ada lagi air mata yang menetes, Yudha berbalik dan menatap Dani yang sedang berdiri bersama empat orang lainnya.
"Anda sudah siap? Kalau sudah biar kami mengantar Anda," ujar Dani sopan. Yudha membisu karena dirinya masih ragu.
"Kalau Anda tidak akan pergi, tidak apa, Tuan. Kata Tuan Arga, Anda masih bisa—"
"Tidak!" sela Yudha cepat.
"Aku akan pergi sekarang. Aku sudah bilang akan pergi. Lagi pula, aku tidak mau kalau nantinya Zahra tahu semuanya." Yudha membenarkan jaket yang dikenakan. Lalu bersiap menuju ke mobil yang barusan dipakai Arga.
Selama dalam perjalanan, Yudha hanya diam dan menatap ke luar jendela. Bayangan Zahra terus saja mengusik pikirannya. Yudha tidak tega, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, sedangkan Dani menatap Yudha penuh iba.
"Tuan, apa Anda sangat mencintai Nona Zahra?" tanya Dani mencairkan suasana.
__ADS_1
"Bukan hanya cinta, tapi aku sangat sayang sama dia. Bahkan melebihi aku mencintai diriku sendiri." Suara Yudha terdengar berat. Lelaki itu terlihat berkali-kali menghela napas panjang.
"Saya bisa melihat dari tatapan mata Anda, Tuan." Dani menimpali.
"Tapi sekarang aku tidak bisa melakukan apa pun selain berharap dia bisa hidup bahagia dan bersama dengan orang yang tepat." Yudha menyandarkan kepala dan memejamkan mata, dia sedang berusaha keras menahan air mata yang hendak mengalir.
"Tuan, semangatlah sembuh." Dani berusaha memberi semangat, tetapi Yudha justru menggeleng cepat.
"Aku tidak akan mungkin sembuh. Obat paling manjur untuk sakit ini adalah kematian. Selama ini aku berusaha menahan rasa sakit, menutupi semuanya supaya tidak ada orang terdekatku yang juga terkena. Cukup aku saja."
"Tuan, saya tidak bisa lagi berkata-kata." Dani rasanya bingung harus berbicara apa lagi.
"Bolehkah aku meminta satu permintaan kepada kamu?" tanya Yudha ragu.
Dani terdiam sesaat, tatapannya menatap Yudha dengan lekat. "Apa yang Anda inginkan, Tuan?"
__ADS_1
"Maukah kamu memastikan kalau Tuan Arga sudah bisa menjaga dan menyayangi Zahra dengan baik?"
Dani terdiam mendengar permintaan Yudha.