
"Matilah kita!" Margaretha menaruh sapu itu secara sembarang. Namun, tubuhnya mendadak kaku saat diajak kabur.
"Mar, gue ke kamar dulu. Mau ganti baju." Zety berlari kencang meninggalkan Margaretha begitu saja.
"Oe! Asem bener elu, Suk! Tungguin gue! Enggak setia kawan emang elu! Oe! Suketi!" teriak Margaretha. Dia mengumpat marah saat tidak melihat tanda-tanda Zety akan kembali.
Ketika Margaretha hendak masuk ke dalam, langkahnya terhenti saat kerah bajunya diangkat oleh seseorang. Tubuh Margaretha pun merinding. Bahkan, berbagai doa dia rapalkan dalam hati.
"Mau ke mana kamu!" bentak Arga. Kilatan amarah tampak terlihat jelas dari sorot matanya. Margaretha yang melihat itu langsung menunduk takut.
"Ma-maafkan saya, Tuan. Saya tidak tahu kalau Anda yang duduk di sini." Margaretha menjelaskan dengan terbata.
"Kamu pikir—"
"Ada apa, Mas?" tanya Zahra yang baru muncul dari arah dalam. Tubuhnya tampak segar sehabis mandi. Zahra melongo saat melihat Arga sedang memegang kerah belakang Margaretha.
"Tolongin gue, Zae." Wajah Margaretha tampak memelas. Kedua tangan gadis itu tertangkup di depan dada.
__ADS_1
"Gue hampir aja mati dipukul temen kamu ini," terang Arga. Melepaskan cengkraman tangannya hingga membuat Margaretha mengembuskan napas lega.
"La kok bisa?" Kening Zahra sampai mengerut karena bingung.
"Zae, gue itu enggak sengaja. Mana gue tahu ada Tuan Arga di sini. Gue pikir ada maling masuk karena rumah enggak kekunci." Margaretha menjelaskan sembari berpindah cepat ke samping Zahra. Sengaja menjauh dari Arga untuk menghindari omelan lelaki itu.
"Nungguin kalian lama. Untung gue bawa kunci kontrakan ini," timpal Zahra.
Margaretha membulatkan bibir mendengar jawaban Zahra. Namun, tiba-tiba gadis itu mengendus di sekitar wajah Zahra. Mencium aroma shampo yang menguar dari rambut Zahra.
"Elu udah dari tadi di sini, Zae?" tanya Margaretha penuh selidik.
"Cuma berdua?" tanya Zahra lagi.
"Elu lihatnya gimana? Cuma berdua. Yang ketiga setan. Elu tuh setannya!" Zahra mulai sewot.
"Biasa aja kali, Zae. Gue cuma mau nanya, barusan elu pakai pengaman enggak?" Pertanyaan Margaretha membuat Zahra dan Arga membulatkan penuh kedua matanya.
__ADS_1
"Apa maksud elu, Mar!" Zahra menggerutukkan gigi karena mulai gemas kepada sahabatnya.
"Ya kalian cuma berdua di sini. Terus elu mandi keramas juga. Gue yakin waktu hampir satu jam itu cukuplah untuk main satu ronde," sahut Margaretha ceplas-ceplos.
"Markonaaaahhhhhh!!!!! Gue libas mulut elu pakai kontainer!" sergah Zahra. Berkacak pinggang dan tampak bersungut-sungut.
Margaretha menutup mulut mendengar ancaman Zahra. "Edan elu, Zae. Jahat banget." Margaretha berbicara masih dengan menutup mulutnya.
"Habisnya elu kalau ngomong suka asal keluar aja udah kaya kentut! Enggak difilter!" omel Zahra. Masih terlihat kesal, sedangkan Arga hanya mengembuskan napas kasar berkali-kali. Berusaha memberi kesabaran pada hatinya.
"Gue cuma menyimpulkan dari apa yang gue lihat doang, Zae," dalih Margaretha. Membela dirinya sendiri.
"Tapi kenyataannya apa yang elu lihat, belum tentu seperti apa yang ada di otak mesum elu. Gue mandi karena risih tubuh gue udah lengket."
"Lengket karena habis bercinta," sela Margaretha diiringi gelakan tawa. Gadis itu langsung berlari ke kamar saat Zahra hendak memberi pukulan.
"Markonah!" pekik Zahra.
__ADS_1
"Apa, Zaenab Sayang? Mau minta beliin kond*m 'kah? Ntar gue beliin yang rasa kopi. Rasa terbaru yang pasti bukan hanya bikin melek, tapi bikin merem melek, aahhhh Abang." Margaretha justru gencar menggoda sahabatnya tanpa merasa takut sedikit pun.