Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
49


__ADS_3

Awalnya mereka asyik berpelukan, tetapi Rasya segera melerai pelukan tersebut saat menyadari ada yang kurang. Begitu juga dengan Zety dan Margaretha. Setelahnya, Rasya menatap Zahra yang sedang berdiri menunduk.


"Elu enggak mau ikutan pelukan, Zae?" tanya Rasya penuh kecewa. Zahra tidak menjawab, dan hanya menggeleng lemah. "Kenapa?"


"Maafin gue, Ra. Mungkin gue udah enggak pantes pelukan sama elu." Zahra menunduk dalam. Dia takut Rasya masih marah padanya, apalagi ada Pandu yang sedari tadi menatap tajam ke arahnya.


Namun, beberapa detik berikutnya tubuh Zahra mematung saat Rasya menariknya masuk dalam pelukan wanita itu. Bahkan, Zahra merasakan pelukan Rasya terasa begitu erat, seolah sedang meluapkan segala kerinduan yang teramat dalam.


"Jangan bilang enggak pantes, Zae. Elu bakalan selalu jadi sahabat gue, selamanya." Rasya makin mengeratkan pelukannya.


"Ra ... maafin gue." Suara Zahra terdengar bergetar karena menahan tangis. Dia tidak menyangka kalau Rasya sebaik itu padanya.


"Gue juga minta maaf, Zae. Udah terlalu ikut campur urusan elu."


"Ya, gue udah maafin, kok, Ra. Kalau gitu sekarang kita kosong-kosong ya," ujar Zahra. Membalas pelukan Rasya.


"Ya, minal aidzin wal faidzin," celetuk Rasya dan langsung disambut gelakan tawa. Zety dan Margaretha pun ikut bergabung dengan pelukan itu.


"Sayang kalian banyak-banyak," ucap Rasya.


"Jangan kebanyakan, Ra. Ntar ada yang cemburu," ujar Zety setengah berbisik. Ekor mata keempat sahabat somplak tersebut melirik ke arah Pandu yang terlihat kesal.

__ADS_1


"Biarin aja." Rasya justru terkekeh dan sengaja membuat kesal suaminya.


"Ehem!" Pandu berdeham. Keempat sahabat somplak itu pun melerai pelukannya. "Jangan terlalu lama berdiri!" Pandu berbicara ketus.


Paijo pun pada akhirnya mengajak mereka masuk sebelum anak menantunya makin kesal. Ruang tamu di rumah Paijo yang biasa tidak terlalu ramai, kini terasa seperti pasar. Mereka duduk bersama di ruang tamu, dan tak jarang gelakan tawa terdengar menggelegar di sana.


"Kamu belum mau makan?" tanya Pandu lembut. Mengusap puncak kepala Rasya penuh kasih sayang. Namun, Rasya justru menggeleng cepat.


"Lalu kamu mau apa?" tanya Pandu lagi. Kali ini, Pandu menangkup wajah istrinya dan mendaratkan sebuah kecupan di bibir Rasya yang sudah sedikit mengerucut.


"So sweet banget," celetuk Zahra. Dia memangku wajah sembari menatap iri ke arah Rasya, begitu juga dengan Margaretha dan Zahra.


"Lah, elu salah ngomong, Zae. Kalau lihat gituan tuh, bukan bikin baper, tapi wafer—"


"Berapa lapis?" sela Zety.


"Ratusan!" Zahra dan Margaretha menjawab bersamaan, sedangkan yang lain hanya menggeleng.


"Jangan lupa usap perut kamu, Ra." Agus memberi nasehat. Dengan cekatan Pandu mengusap perut istrinya. Bibir lelaki itu bahkan terlihat komat-kamit.


Rasya yang melihat suaminya hanya tersenyum lebar. Sungguh, sangat lucu menurut Rasya saat melihat suaminya yang begitu menuruti apa yang diucapkan sang kakak. Entah memang karena belum paham atau karena terlalu penurut dengan orang tua.

__ADS_1


Di desa, masih banyak aturan yang harus dilakukan oleh ibu hamil. Berbagai larangan dan mitos masih kental terasa. Rasya tidak sepenuhnya percaya, tetapi dia berusaha tetap menghormati.


"Jangan lupa sama bilang amit-amit, Mas." Rasya terkekeh.


"Buat apa?" tanya Pandu heran.


"Biar anak kamu nanti tidak ketularan gadis-gadis Somplak itu." Agus menunjuk ketiga sahabat Rasya dengan dagu.


"Kita berharap anak kamu nantinya lebih banyak menuruni kamu, bukan emaknya," celetuk Paijo.


"Ish! Bapak mah gitu, kalau sama Kukum perasaan sensi mulu. Harusnya Bapak tuh doanya cucu kalian mirip Kukum. Yang udah jelas cantik, imut, dan menggemaskan," ucap Rasya percaya diri.


"Hoak!" teriak ketiga sahabat Rasya bersamaan.


"Apaan! Kalian enggak percaya kalau gue ini imut?" tanya Rasya dengan suara meninggi. Bahkan, tangannya berkacak pinggang.


"Iya, gue percaya kalau elu itu imut alias ...."


"Item mutlak!! Hahaha."


Gelakan tawa mereka terdengar menggelegar di ruang tamu, sedangkan Rasya mengerucutkan bibir dengan tangan bersidekap.

__ADS_1


__ADS_2