Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
96


__ADS_3

"Mas, kamu jangan nyebelin, deh." Zahra lagi-lagi mengerucutkan bibir membuat Arga merasa gemas dengan calon istrinya tersebut.


"Aku 'kan cuma bicara apa adanya. Manusia itu memiliki daya ingat tinggi dengan hal-hal yang mengesankan."


"Bukan mengesankan, tapi memalukan," sela Zahra. Arga pun terkekeh dan tanpa sadar mengusap puncak kepala Zahra.


"Habiskan makananmu." Arga memberi perintah, Zahra pun kembali menghabiskan makanannya.


Arga mengantar Zahra ke rumah Rasya karena gadis itu sudah sangat rindu dengan sahabatnya. Selain itu, Arga juga memiliki urusan dengan Pandu. Ketika tiba di rumah pribadi Pandu, mereka langsung disambut hangat oleh Rasya. Bahkan, Rasya sangat bersemangat seperti seorang anak yang melihat ibunya.


"Zae, gue pengen makan bakmi buatan elu." Rasya merengek. Zahra yang melihat itu pun hanya menggeleng, tetapi tetap memenuhi keinginan ibu hamil tersebut. Sementara Arga berada di ruangan kerja Pandu.


"Yang agak pedas ya, Zae. Gue capek makan makanan enggak pedes. Hambar rasanya," pinta Rasya.


"Enggak, Ra. Gue masih sayang sama nyawa gue. Kalau sampai gue bikin makanan pedas buat elu, yang ada gue bakal digantung di Monas oleh laki elu," cebik Zahra. Tanpa menatap Rasya Karana sibuk mengiris sayuran.

__ADS_1


"Kalau cuma dikit 'kan enggak papa, Zae. Asal jangan berlebihan." Rasya masih berusaha merayu, tetapi Zahra tetap saja menolaknya. "Elu emang enggak sayang sama gue, Zae." Rasya berpura-pura menangis hingga membuat Zahra panik sendiri.


"Jangan nangis, Ra." Zahra berdiri di depan Rasya tanpa menaruh pisaunya.


"Elu jahat, Zae. Huaaaa Bapak Paijo," tangis Rasya membuat Zahra makin panik dan takut.


"Jangan nangis, sih, Ra. Elu kaya balita aja, deh." Zahra mencibir, tetapi sesaat kemudian tubuh Zahra mematung saat mendengar suara Pandu dari arah pintu dapur.


Zahra gemetar dan takut akan terkena amarah Pandu menilik bagaimana bucinnya Pandu kepada Rasya. Benar saja, Pandu langsung mendekati Rasya dan memeluk wanita itu dengan lembut. Zahra bisa melihat, Pandu tampak sangat khawatir dengan Rasya.


"Aku sebel sama Zaenab, Huaa." Rasya kembali menangis. Pandu makin cemas, sedangkan Arga dan Zahra hanya mendengkus kasar.


"Memangnya kenapa dengan sahabatmu itu?" tanya Pandu penuh selidik.


"Mas, aku tuh ngidam pengen dia makan garam satu sendok, tapi dia enggak mau dan malah bawa pisau, tuh," dusta Rasya. Pandu menoleh ke arah Zahra dan menajamkan pandangannya saat melihat pisau dalam genggaman Zahra.

__ADS_1


"I-ini tidak benar Tuan." Zahra mencoba menjelaskan, tetapi Pandu lebih percaya kepada istrinya.


"Mas, jangan marahi Zaenab, aku cuma pengen lihat dia makan setengah sendok garam saja, deh." Rasya berusaha meredam emosi suaminya.


Gigi Zahra bergemerutuk saat melihat senyum licik yang tersemat di bibir Rasya. Dia yakin kalau sahabat laknatnya itu sengaja mengerjai dirinya.


"Lakukan keinginan calon buah hatiku. Kalau sampai anakku ileran nanti, maka kamu yang akan menanggung akibatnya," perintah Pandu tegas.


Arga hendak mendebat, tetapi pada akhirnya dia memilih diam dan melihat apa yang akan dilakukan Zahra.


"Baik, Tuan. Akan saya lakukan." Zahra menurut, tetapi dalam hati dia mengumpati sahabatnya. Dengan lesu dia mengambil setengah sendok garam. Menatapnya terlebih dahulu sebelum memasukkan ke dalam mulut.


Zahra menghela napas panjang sembari memejamkan mata lalu bersiap hendak memakan garam tersebut. Namun, ketika sendok itu baru menyentuh bibirnya, Zahra merasakan seseorang telah merebutnya. Sontak, kedua mata Zahra terbuka dan dia tersentak saat melihat sendok sudah berada di dalam mulut Arga. Bahkan, Zahra bisa melihat Arga yang sedang kesusahan menelan karena rasa asin yang seolah merusak tenggorokan lelaki itu.


"Ma-Mas ...."

__ADS_1


__ADS_2