
Setelah cukup lama saling terisak, Setya menghirup napas dalam karena dia belum selesai berbicara. Masih ada beberapa hal yang akan dia sampaikan.
"Masih ada hal lain yang akan saya sampaikan. Ini khusus untuk Arga, menantu saya. Ga ... Om tidak menyangka kalau pada akhirnya kamu akan menjadi anak menantu om. Hal yang sejak dulu om dan tante impikan. Om tidak akan mengatakan banyak hal, om hanya ingin memberi sepatah dua patah kata." Setya mengambil napas terlebih dahulu. Tatapannya ke arah Arga tampak lekat.
"Ga, Om titipkan Zahra padamu. Bimbinglah dia. Kamu sekarang lebih berhak atas diri Zahra. Kalau dia salah, ingatkanlah. Jangan sekalipun kamu memarahinya. Kalau kamu dan dia suatu saat ada masalah, maka selesaikan baik-baik. Om harap hubungan kalian bisa menjadi keluarga harmonis dan saling mendukung satu sama lain. Om sangat tidak berharap hal buruk terjadi, tetapi jika suatu saat ada hal buruk, maka kembalikan dia kepada om dengan baik-baik. Hanya itu saja."
Arga berjalan mendekat dan memeluk Setya erat. Dulu, Setya sangat baik padanya saat Arga kecil. Jadi, Arga akan berusaha keras untuk membuat Zahra selalu hidup bahagia.
"Pasti, Om. Arga akan menjaga Zahra dengan sepenuh hati," ucap Arga yakin. Tangannya tanpa sadar mengusap pipi Zahra hingga membuat rona merah tampak terlihat jelas di kedua pipi gadis itu.
__ADS_1
"Jangan panggil om lagi, dong. Tapi panggil papa, sama seperti Zahra," suruh Setya. Menepuk bahu Arga dengan perlahan.
"Iya, Pa." Arga tersenyum lebar, membuat lelaki itu makin terlihat tampan.
"Masih ada satu hal lagi." Setya mengedarkan pandangan, menatap anak-anak panti yang tampak sibuk memilih-milih makanan. Wajah mereka terlihat sangat bahagia. "Saya akan membangun sebuah rumah berlantai dua, tepat di samping rumah baru saya yang akan dihuni oleh anak-anak panti."
"Pa ...." Zahra menutup mulut karena tidak percaya dengan ucapan Setya. Gadis itu benar-benar tercengang karena rumah yang berada di samping rumah Setya, sama-sama terlihat mewah. "Papa yakin?" Air mata Zahra mengalir karena terlalu bahagia.
"Makasih banyak, Pa, Ma." Zahra pun kembali memeluk erat kedua orang tuanya. Sungguh, kebahagiaan ini sangat luar biasa. Mungkinkah semua berkah dari kesabarannya selama ini.
__ADS_1
Zahra melerai pelukan itu lalu berjalan mendekati Ibu Henny dan anak-anak panti yang sedang menangis dan saling berpelukan. Mereka pun merasa sangat bahagia.
"Ibu ...." Zahra tidak mampu lagi berkata-kata. Hanya air mata yang mewakilkan semuanya. Begitu juga dengan Ibu Henny yang terus memeluk erat tubuh Zahra dan mengucapkan berbagai kata terima kasih dan doa-doa.
Sungguh, tidak ada yang tidak menangis di ruangan itu, semua terharu. Atas kebahagiaan dan juga kebaikan hati Setya. Begitu juga dengan Arga, yang mengusap air mata dengan perlahan. Ingin sekali dia memeluk Zahra, tetapi dia sengaja memberi waktu kepada Zahra untuk meluapkan kebahagiaan bersama Ibu Henny dan juga ketiga sahabat Zahra yang baru saja bergabung, saling memeluk.
"Selamat ya, Zae. Gue seneng banget." Rasya mengeratkan pelukannya.
"Makasih banyak, Ra, Suk, Mar. Gue sayang kalian." Zahra membalas pelukan mereka tak kalah erat.
__ADS_1
"Kita juga sayang elu, Zae."