
Setelah puas mengobrol dan bercerita, Rasya menyuruh ketiga sahabatnya supaya istirahat di kamar Agus karena di rumah Rasya hanya ada tiga kamar saja. Rasya juga ikut beristirahat karena Pandu sudah terlalu cerewet dan menyuruh tidur sedari tadi.
"Aku enggak bisa bobok, Mas." Rasya tidur menghadap suaminya, dan melingkarkan tangan di perut lelaki itu.
"Kenapa?" tanya Pandu, mengusap puncak kepala Rasya dengan penuh sayang dan sesekali mendaratkan ciuman di sana.
"Aku pengen bobok bareng Suketi, Zaenab, sama Markonah." Rasya merengek seperti anak kecil, tetapi Pandu justru mendengkus kasar.
"Kenapa kamu ingin tidur dengan mereka?" Suara Pandu terdengar seperti sedang menahan kekesalan.
"Mas, aku pengen tidur kaya dulu pas lagi di kontrakan. Anget."
"Jadi, kalau tidur denganku, kamu tidak merasa hangat?" Pandu menghentikan gerakan tangannya, sedangkan Rasya justru makin mengeratkan pelukannya.
"Kata siapa, Mas? Kamu malah anget banget. Aku cuman masih kangen mereka, Mas." Dengan gerakan perlahan, Rasya memainkan jari di atas dada bidang Pandu hingga menciptakan sensasi geli dirasakan lelaki itu.
__ADS_1
"Jangan memancingku, Kurap!" ujar Pandu.
"Mancing apa, Om Panu!" balas Rasya diiringi gelakan tawa. Pandu pun dengan gemas menghujami wajah Rasya dengan banyak ciuman.
"Jangan buat aku tidak bisa menahan diri agar tidak menerkammu saat ini juga."
"Aku enggak takut." Rasya mendongak dan menjulurkan lidah. Pandu yang merasa geram pun segera berbalik dan menindih tubuh Rasya. Namun, ketika dia mengingat istrinya sedang hamil, Pandu mengangkat sedikit tubuhnya agar tidak menekan perut Rasya.
"Kamu masih berani, hm?" Pandu menempelkan keningnya dengan kening Rasya. Beberapa detik kemudian, bibir mereka saling beradu.
Rasya menggigit bibir untuk menahan desah*n saat sentuhan bibir Pandu mulai terus menurun. Bahkan, tangan Pandu mulai menggenggam benda kenyal yang kini makin terasa membesar dan sesekali memainkan lidahnya, menyesap bulatan kecil yang menjadi puncak benda kenyal tersebut.
"Mas ...."
"Aku akan melakukan dengan perlahan." Napas Pandu terdengar memburu karena menahan hasrat yang sudah naik ke ubun-ubun. Rasya mengangguk karena rasa nikmat yang dia rasakan dan akhirnya, pergulatan panas di atas kasur tersebut terjadi dengan tempo yang lambat dan dalam waktu yang cukup lama. Sesekali Pandu berhenti karena takut Rasya akan kelelahan.
__ADS_1
***
Tidak terbiasa tidur di rumah orang lain, Zahra merasa kesal dengan dirinya sendiri. Dia sudah mencoba memejamkan mata, tetapi tidak bisa. Kedua matanya justru makin terbuka lebar. Zahra melirik jam dinding dan melihat jarumnya sudah menunjuk pukul sebelas malam. Zahra pun mengusap perutnya yang mulai merasa lapar.
Zahra menggoyangkan kedua lengan sahabatnya untuk membangunkan. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang membuka mata. Dengan kesal, Zahra turun dari tempat tidur dan berjalan ke luar kamar.
"Gue berasa jadi maling kalau kaya gini," gumam Zahra saat sedang berjalan menuju ke dapur. Dia ingin melihat apakah ada mie instan di sana.
Senyum di bibir Zahra mengembang saat melihat ada dua puluh bungkus mie instan dengan aneka rasa. Zahra mengetuk dagu perlahan sembari memilah-memilih rasa apa yang sekiranya mampu memanjakan lidahnya.
"Lengkap banget, udah berasa lagi di warung ini mah. Rasa apa ya ... ayam bakar limau, salero padang, ayam geprek. Ah, jadi bingung mau yang mana." Zahra menggaruk kepala karena merasa frustrasi sendiri.
"Laksa aja deh, kayaknya enak." Zahra mengambil satu bungkus mie rasa laksa. Lalu berbalik dan ....
"Jangan menjadi maling!"
__ADS_1
"Maling kolor!" latah Zahra karena terkejut. Bahkan, mie yang berada dalam genggaman sampai terjatuh. Zahra menegang saat melihat Arga yang sedang berdiri menatap ke arahnya dengan penuh selidik.