Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
06


__ADS_3

Tubuh Zahra terjengkit karena terkejut mendengar suara Arga dari arah belakang Regar. Barusan dia tidak melihat lelaki itu, tetapi kenapa sekarang Arga sudah berada di dekatnya. Wajah Zahra kembali gugup meski dalam hati dia mengumpati Arga seperti setan.


Zahra bangkit berdiri lalu membungkuk hormat di depan Arga yang sedang berdiri tegak di depannya. Zahra berkali-kali meminta maaf dan Arga tidak memberikan respon apa pun. Dia justru berjalan mendekati Pandu dan menaruh makanan milik Pandu. Melihat itu, Zahra pun kembali duduk di tempat semula.


"Mas, aku mau turun." Rasya hendak turun dari pangkuan Pandu, tetapi dengan keras Pandu melarangnya. Pandu justru dengan tenang menyuapi Rasya.


Zahra menyenggol lengan Regar, memberi kode supaya lekas menghabiskan makanannya. Regar pun mengangguk mengiyakan. Sementara Arga yang melihat interaksi mereka berdua, hanya mengepalkan tangan saat merasakan hatinya memanas. Dengan tegas, Arga melangkah dan duduk di samping Zahra.


Uhuk uhuk!


Zahra tiba-tiba tersedak saat Arga baru saja duduk di sampingnya. Wajah Zahra memerah bahkan tenggorokannya terasa perih. Dengan sigap, Arga menyodorkan segelas air putih dan langsung ditenggak habis oleh Zahra.


"Bisakah kamu makan dengan pelan?" Arga mengomel.


"Tuan, semua karena Anda. Coba saja kalau Anda tidak duduk di sini pasti saya tidak akan tersedak," jawab Zahra santai.

__ADS_1


"Kamu! Berani sekali kamu menyalahkanku!" Arga mendadak kesal, sedangkan Pandu dan Rasya justru tertawa melihat tingkah dua orang itu.


"Tuan, setiap saya berada di samping Anda, pasti saya kena sial! Kalau begitu saya permisi dulu." Zahra bangkit berdiri dan mengajak Regar untuk pergi dari sana.


"Ra, gue pergi dulu." Zahra berlalu begitu saja. Dia berjalan cepat sebelum Arga kembali memarahinya.


"Sial!" umpat Arga kesal. Bukan ucapan Zahra yang membuat Arga kesal, tetapi gadis itu berlari dengan menggandeng tangan Regar meski tanpa sadar.


"Kalau cinta katakanlah, Ga. Jangan sampai kamu menyesal karena dia jatuh cinta dengan yang lain," ucap Pandu. Masih sibuk menyuapi Rasya.


"Lalu? Jangan sampai kamu menjilat ludahmu sendiri." Pandu berbicara dengan tenang, tetapi Arga justru terdiam. Ucapan Pandu tersebut terasa tidak asing baginya.


"Tuan ...."


"Pergilah, Ga. Aku ingin makan berdua dengan istriku." Pandu mengusir. Arga dengan segera bangkit berdiri dan berpamitan pergi.

__ADS_1


Arga tidak menolak, tetapi dia juga tidak mau tetap berada di sana dan merasa iri karena keromantisan dua penyakit kulit yang digabungkan menjadi satu. Arga terkekeh, mengingat pertemuan Pandu dan Rasya dulu.


***


Jam kantor sudah tiba, Rasya sudah pulang terlebih dahulu sejak dua jam lalu. Zahra mengalungkan tas di pundak lalu berpamitan kepada Regar. Setelah ini, Zahra akan mencari Yudha untuk pulang bersama karena motor Zahra sudah diambil oleh Margaretha.


Cukup lama Zahra hanya berdiri menunggu di parkiran, lebih tepatnya di samping motor Yudha. Senyum Zahra mengembang saat melihat kedatangan Yudha dari dalam kantor. Akan tetapi, itu hanya bertahan sesaat karena Yudha datang bersama wanita yang tadi siang berjalan bersama Yudha.


Melihat Zahra yang sudah menunggu, dengan sopan Yudha berpamitan kepada wanita itu. Lalu dia mendekati Zahra dan tak lupa mengusap puncak kepala gadis itu.


"Kamu sudah dari tadi?" Yudha tersenyum. Zahra pun ikut tersenyum simpul.


"Dia siapa, Mas?" tanya Zahra sangat penasaran.


"Dia satu divisi sama aku," jawab Yudha. Zahra hanya membulatkan bibir lalu naik ke atas motor dan duduk membonceng. Setelah Zahra sudah duduk tenang, Yudha melajukan motornya meninggalkan area kantor.

__ADS_1


"Aku akan merebutmu dari dia!" Salah seorang yang melihat motor Yudha berlalu, terlihat mengepalkan tangan dan gigi saling bergemerutuk.


__ADS_2