Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
87


__ADS_3

Setelah cukup lama berada dalam suasana haru, kini ke enam orang itu duduk bersama. Sedari tadi Zahra terus saja duduk di antara kedua orang tuanya. Senyum Zahra yang tidak memudar sama sekali, menunjukkan betapa bahagianya gadis itu saat ini.


Sejak dulu, Zahra selalu menginginkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Apalagi saat sedang pengambilan raport, kelulusan maupun wisuda ketika masa-masa sekolah, Zahra sering merasa minder dan iri dengan teman-temannya yang datang dan didampingi orang tua mereka.


Zahra tidak bisa lagi berkata-kata, hanya air mata bahagia yang sejak tadi memenuhi wajahnya dan meninggalkan jejak yang terlihat jelas. Tidak berbeda jauh dengan Zahra. Laras dan Setya pun sedari tadi tidak jauh dari Zahra. Bahkan, rangkulan Laras terasa hangat bagi Zahra.


Kehilangan buah hati sampai bertahun-tahun, dan kemudian dipertemukan lagi pada bayi yang sudah menjelma menjadi gadis cantik. Tentu saja, tidak ada kebahagiaan yang lebih indah daripada itu.

__ADS_1


"Ma ... Pa ... nanti aku bilang sama Ibu Henny." Zahra masih merasa canggung dengan panggilan itu.


"Nanti kita ke sana bareng-bareng aja, ya. Sekaligus mama dan papa mau ngucapin terima kasih karena Ibu Henny sudah merawat kamu dengan baik dan penuh kasih sayang." Laras berbicara lembut. Dia menatap wajah cantik Zahra tanpa memudarkan senyumnya sedikit pun.


"Iya, Sayang. Besok papa akan bantu renovasi panti asuhan itu supaya lebih layak huni, dan anak-anak yang tinggal di dalamnya merasa nyaman," ujar Setya. Zahra menatap tidak percaya ke arah sang papa.


"Papa serius?" tanya Zahra antusias. Setya mengangguk sembari tersenyum simpul. "Syukurlah. Akhirnya anak-anak bisa tinggal dengan nyaman. Terima kasih banyak, Pa, Ma." Zahra memeluk kedua orang tuanya lagi.

__ADS_1


Setelah itu, mereka pun mulai mengobrol banyak hal. Walaupun masih merasa canggung, tetapi Zahra tidak malu saat menceritakan kegiatan yang selama ini dilakukan gadis itu, termasuk pekerjaan sebagai office girl di perusahaan milik keluarga Andaksa.


"Bagaimana kalau kita bahas soal pernikahan Zahra dengan Arga." Melda tampak bersemangat, sedangkan dua anak muda yang disebut namanya mulai terlihat malu-malu.


"Ah iya, aku hampir lupa soal itu. Aku sungguh tidak menyangka kalau mimpi kita untuk jadi besan akhirnya bisa terlaksana, Mel," ujar Laras.


"Aku pun sama, Ras. Sepertinya doa-doa kita dikabulkan. Lebih baik kita percepat saja pernikahan mereka. Aku sudah tidak sabar ingin segera resmi menjadi besanmu," ajak Melda. Sementara Gerry dan Setya hanya menggeleng dengan dua wanita paruh baya itu yang terlihat sangat bersemangat.

__ADS_1


"Ma, jangan terlalu cepat. Aku ini putra kalian satu-satunya. Jadi, aku mau pernikahanku dengan Zahra nanti menjadi pernikahan yang tidak bisa dilupakan seumur hidup," tutur Arga. Zahra menatap Arga karena tidak menyangka dengan permintaan lelaki itu. Zahra pikir, Arga hanya akan meminta pernikahan sederhana dan cukup ijab sah saja.


"Papa juga setuju." Setya menimpali. "Di pernikahan kalian nanti, sekaligus akan papa umumkan tentang Zahra atau Shaqueena yang merupakan putri kita yang hilang," imbuhnya.


__ADS_2