Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
93


__ADS_3

"Astaga. Kerasukan setan bokep emang elu, Mar. Dasar cucu Kakek Sugiono!" umpat Zahra, saat melihat pintu kamar Margaretha yang sudah tertutup rapat.


Arga yang melihat dan mendengar semua yang terjadi hanya menggeleng. Kepalanya tiba-tiba berdenyut sakit. Baru sebentar berhadapan dengan mereka saja, Arga sudah hampir kehilangan kesabaran. Apalagi jika setiap hari seperti ini? Arga yakin dirinya akan cepat mati karena terserang penyakit darah tinggi.


"Punya sahabat mulut udah kaya air peceren. Kotornya luar biasa sampai harus dicuci bersih. Coba aja ada tempat buat laundry otak dan mulut," gerutu Zahra. Bibirnya terus saja komat-kamit. Segala omelan atas nama sahabatnya terus saja keluar.


"Kalian itu sama saja. Aku pusing kalau harus berhadapan dengan kalian." Arga mendes*hkan napas ke udara.


"Mas, lebih baik kamu pulang, deh. Daripada mereka makin salah paham," usir Zahra. Namun, sesaat kemudian gadis itu menunduk saat melihat tatapan tajam dari Arga.


"Berani sekali kamu mengusirku." Arga berbicara penuh penekanan.


"Kalau tidak mau pergi juga enggak papa, Mas. Jangan sewot gitu. Udah kaya cewek PMS aja," cebik Zahra. Memelankan suara agar Arga tidak mendengar. Namun, Zahra tidak menyadari kalau pendengaran lelaki itu sangat tajam.


"Coba ulangi lagi," pinta Arga. Zahra menggeleng cepat karena tidak ingin mendapat masalah dengan Arga. "Ulangi, Az-Zahra Shakila."


Tubuh Zahra meringsut saat melihat Arga yang sudah bangkit berdiri dan sedang berjalan mendekat ke arahnya. Jari-jemari Zahra yang saat ini saling merem*s kini basah oleh keringat dingin.

__ADS_1


"Ma-maaf, Mas." Zahra makin gugup saat merasakan jaraknya dengan Arga sangat dekat. Hanya selisih beberapa centi saja. Sebelah sudut bibir Arga tertarik saat melihat Zahra yang justru memejamkan mata.


"Aku pulang dulu."


Zahra terpaku saat merasakan sebuah ciuman mendarat di keningnya. Rasanya hati gadis itu berbunga-bunga. Bahkan, dia merasa seperti ada banyak kupu-kupu terbang di perutnya.


"Mas ...." Zahra membuka mata dan langsung bertatapan dengan Arga setelah lelaki itu menghentikan ciumannya.


"Kenapa?" tanya Arga penasaran. Zahra tidak menjawab apa pun. Hanya menggeleng karena dia juga merasa bingung harus menjawab apa. "Za."


"Baiklah. Kalau begitu aku pulang dulu. Lain kali jangan pakai baju seketat ini. Aku takut tidak bisa mengendalikan diri." Arga berlalu begitu saja meninggalkan Zahra yang tertegun di tempatnya.


Zahra menatap tubuhnya yang memang memakai baju ketat, dan celana pendek. Dia sudah terbiasa menggunakan itu di kontrakan. Baru menyadari pakaian yang dikenakan, Zahra pun menepuk kening. Dia hendak menyusul Arga, tetapi suara motor Arga yang menjauh membuat Zahra hanya berdiri di ambang pintu menatap kepergian calon suaminya.


"Tak patut!"


Zahra terkejut mendengar suara Margaretha dan Zety dari arah belakang. Dia berbalik dan melihat kedua sahabatnya sedang menggeleng berkali-kali.

__ADS_1


"Apaan kalian!" sewot Zahra.


"Coba kalau kita enggak di rumah, udah pasti kontrakan ini menjadi saksi bisu desah*n kenikmatan kalian berdua." Margaretha masih saja menggoda Zahra.


"Mulut kalian bener-bener kaya setan!" Zahra menghentakkan kaki, lalu berjalan dan menyingkirkan tubuh kedua sahabatnya.


"Ciee, yang barusan dicium kening, harusnya seneng dong bukannya malah marah-marah kaya emak-emak enggak dapat jatah bulanan," ledek Zety. Melipat bibir untuk menahan tawa agar tidak meledak.


"Jadi kalian tadi ngintip?" Zahra berbalik dan menatap kesal ke arah dua sahabat somplaknya tersebut.


"Bukan ngintip, tapi enggak sengaja lihat aja," jawab Zety santai.


"Kalian ini, iiihhhhhh!" Zahra gemas sendiri. Daripada harus berdebat dengan sahabatnya, Zahra lebih memilih kembali ke kamar dengan membawa kekesalan hatinya. Namun, baru saja berbalik Zahra sudah jatuh terjengkang karena menabrak tembok.


Bukannya menolong, Zety dan Margaretha justru tergelak keras. Zahra memukul lantai untuk meluapkan kekesalannya yang sudah benar-benar menumpuk.


"Kalian nyebelin!" desis Zahra. Wajah memelas Zahra, tidak membuat Zety dan Margaretha merasa iba.

__ADS_1


__ADS_2