
Sejuknya udara pagi di kampung membuat siapa pun betah. Masih jarang polusi dan masih banyak pohon yang menjulang tinggi juga persawahan yang sangat luas membuat paru-paru kita seolah dimanjakan. Ketika matahari pagi baru bangun dari peraduan, Rasya dan ketiga sahabatnya sudah jalan santai tanpa menggunakan alas kaki.
Bukan hanya keempat cewek somplak tersebut, tetapi Pandu, Arga dan juga Dani menyusul mereka. Bahkan, Pandu begitu kesal dengan istrinya karena sudah kabur-kaburan.
"Kamu yakin kakimu tidak akan lecet?" tanya Pandu dengan possesifnya. Sejak tiga hari lalu, setiap pagi Rasya selalu jalan dengan bertelanjang kaki atas suruhan orang tuanya. Pandu khawatir, tetapi Rasya selalu bilang baik-baik saja.
"Mas, aku tuh enggak papa. Justru ini biar aku tetep sehat," ujar Rasya kembali memberi pengertian.
"Mau kugendong?" tawar Pandu. Rasya mengangguk dengan cepat bahkan senyumnya terlihat merekah sempurna.
"Yaelah, Ra." Zahra mencebik.
"Elu bikin kita iri." Zety menambahkan.
"Kita juga pengen digendong gitu," imbuh Margaretha.
"Kalau kalian mau, sana minta gendong aja sama Kak Arga dan Kak Dani." Rasya berbicara santai. Bahkan, dia menjulurkan lidah ke arah sahabatnya.
"Ra, kalau Zenab digendong Tuan Arga, dan Markonah sama Tuan Doni, lah gue sama siapa dong?" Zety menunjuk dirinya sendiri.
"Parjan! Hahaha yang itemnya kaya pantat wajan ibu!" Rasya terbahak-bahak.
"Amit-amit jabang bayi." Mereka berbicara bersamaan.
"Eh, iya gue lupa. Amit-amit, amit-amit." Rasya mengusap perutnya. Bibirnya terus saja komat-kamit, begitupun dengan Pandu. Setelahnya, mereka pun kembali melanjutkan langkah kakinya.
__ADS_1
"Mas, aku mau itu." Rasya menunjuk sebuah pohon rambutan yang sedang berbuah, tetapi masih kecil-kecil.
"Kamu yang benar saja. Itu belum ada isinya. Nanti aku belikan di supermarket." Pandu menolak. Melihat buah yang masih muda dan kecil saja membuat Pandu geleng kepala, apalagi jika Rasya memakannya.
"Aku enggak mau beli. Aku maunya itu." Rasya meronta meminta turun. Pandu pun melepaskan karena tidak ingin Rasya terjatuh. Rasya merengek, tetapi Pandu tetap bersikukuh.
"Tidak, Ra. Itu belum matang dan pasti sangat asam. Aku belikan yang sudah merah-merah." Pandu berusaha merayu. Rasya bersidekap dengan bibir mengerucut.
"Sudah kubilang, Mas, aku cuma mau itu enggak mau yang lain. Seperti teman hidupku. Aku cuma mau kamu enggak mau yang lain." Rasya merangkul leher Pandu dan mendaratkan ciuman di pipi lelaki itu. Dengan terpaksa, Pandu pun akhirnya luluh dan meminta Arga supaya memanjat pohon tersebut.
"Biarkan Dani saja, Tuan. Saya tidak bisa memanjat." Arga menolak halus dan langsung disambut dengkusan kasar dari Pandu.
"Biar si Zaenab aja. Dia juga ahli manjat." Rasya menyuruh. Zahra mendes*h kasar, tetapi dia tetap memanjat pohon tersebut demi sahabatnya.
Meskipun dengan bermalas-malasan, Zahra memanjat, sedangkan Arga menunggu di bawah pohon, bukan kedua sahabatnya karena Rasya melarang keras.
"Udah tahu. Demi keponakan gue ini, Ra!" Zahra tampak kesal, tetapi dia melanjutkan naik ke atas pohon.
Keadaan yang masih pagi, membuat pohon tersebut masih licin karena basah. Baru saja hendak memegang dahan paling bawah, tiba-tiba kaki Zahra terpeleset dan jatuh tepat mengenai Arga.
"Zaenab!" teriak Rasya, Zety, dan Margaretha. Namun, Zahra justru diam terpaku dan menatap wajah tampan Arga.
Melihat ketampanan Arga dari jarak sedekat itu membuat Zahra begitu terpukau. Bahkan, dia tidak menyadari kalau saat ini sedang menindih tubuh Arga. Begitu juga dengan Arga yang terpesona pada kecantikan Zahra.
"Ma-maaf, Tuan." Zahra tergagap saat kesadarannya sudah kembali. Dia bergerak hendak bangun, tetapi Arga justru menahannya.
__ADS_1
"Jangan bergerak-gerak terlalu cepat." Wajah Arga terlihat susah dijelaskan.
"Memang kenapa, Tuan?" tanya Zahra bingung.
"Tidak papa," sahut Arga. Zahra awalnya masih bingung, tetapi dengan gerakan gesit dia bangun dan berdiri sembari memalingkan wajah.
"Kenapa elu, Zae?" tanya Rasya saat melihat gelagat sahabatnya.
"Enggak papa." Zahra menjawab gugup. Dia hanya melirik Arga yang sedang beranjak bangun.
"Jangan bohong elu, Zae. Emangnya elu mau dipanggang di api—"
"Jangan nakutin gue, Suk! Gue tadi cuma ngerasain ada yang mengganjal di bawah, tapi bukan perasaan."
Mereka awalnya diam saat mendengar jawaban Zahra, tetapi ketika melihat kekesalan memenuhi wajah Arga, mereka pun tak kuasa menahan tawa.
"Gimana, Zae? Besar kagak?" tanya Rasya di sela tawanya. Zahra mengangguk dengan kedua tangan mengepal menjadi satu, sedangkan Arga tampak makin kesal dan ingin sekali dia merem*s gadis ceroboh yang saat ini sedang berdiri di sampingnya menunjukkan wajah seolah tanpa dosa.
••••
Selamat pagi guys, Othor datang lagi 😘
Oh iya, adakah yang merindukan Othor?
Kalau banyak yang kangen, nanti bab selanjutnya Othor update siang 😅😅 maksa banget kan yakk
__ADS_1
Dukungan kalian jangan lupa selalu Othor tunggu 😘