Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
43


__ADS_3

Zahra yang masih tertidur dengan lelap, merasa terusik oleh suara tawa Zety dan omelan Margaretha. Dengan terpaksa dia membuka kedua mata yang masih terasa berat. Bahkan, seperti ada lem kuat yang merekatkan.


"Kalian berisik banget, sih!" cebik Zahra. Mengucek mata untuk membersihkan dari kotoran dan supaya bisa terbuka lebar.


"Udah bangun elu, Zae?" tanya Margaretha tanpa dosa.


"Harusnya gue masih tidur cantik, tapi mulut laknat kalian bikin gue kepaksa bangun," protes Zahra.


"Ya udah, kalau gitu elu tidur lagi aja. Dua jam lagi kita berangkat dan elu bakal ditinggal!" Zety berkata ketus, tetapi bibirnya tersenyum mengejek.


"Kalian dzolim banget sama gue." Zahra justru merapatkan selimut dan kembali memejamkan mata.


"Astaga. Ni anak beneran tidur lagi." Margaretha menepuk pipi Zahra, tetapi Zahra tetap menutup rapat kedua matanya.


"Jangan gangguin gue!" Zahra mendorong tubuh Margaretha tanpa membuka mata.


"Biarin aja, Mar. Mendingan kita siap-siap sendiri aja. Kalau mobilnya dateng kita udah siap," ujar Zety. Margaretha pun hanya mengangguk dan bergegas bangun.

__ADS_1


***


Arga sudah terlihat tampan dengan pakaian casual. Bukan pakaian resmi seperti biasanya. Hari ini dia akan ke kampung untuk menjenguk Rasya juga ada beberapa hal yang harus diurus dengan Pandu secara langsung. Arga tidak sendirian, kali ini dia akan ke sana bersama dengan ketiga sahabat Rasya.


"Huh!" Arga mengembuskan napas cepat saat bayangan Zahra begitu mengusik. Dia tidak yakin kalau Zahra bersedia berangkat ke kampung bersamanya.


"Tuan." Suara Dani dari balik pintu, membuat Arga berhenti memikirkan Zahra dan membukakkan pintu untuk Dani. "Anda sudah siap?" tanyanya sopan.


"Sudah. Ayo kita berangkat." Arga melangkah keluar diikuti Dani di belakang.


Sesampainya di mobil, Arga duduk di samping Dani yang menyetir. Tujuan mereka pertama kali adalah rumah kontrakan untuk menjemput ketiga sahabat Rasya.


"Kalian sudah siap?" tanya Arga.


Zety dan Margaretha mengangguk bersamaan. "Sudah, Tuan."


"Lalu di mana temen kalian yang ceroboh itu?" tanya Arga. Dia mengedarkan pandangan mencari sosok Zahra.

__ADS_1


"Belum bangun," sahut dua gadis itu bersamaan.


"Apa? Belum bangun? Yang benar saja!" ucap Arga ketus.


"Dia enggak mau dibangunin, Tuan. Katanya cuma pangeran yang bisa bangunin putri tidur." Zety berkata yakin.


"Bener. Kalau belum dicium pangeran, dia bakalan masih tetap tidur," imbuh Margaretha.


"Kalian jangan bicara sembarangan!" sergah Arga, tetapi dua gadis itu justru makin meyakinkan.


Dengan bodohnya Arga masuk ke dalam dan melihat Zahra yang masih tidur di bawah selimut di depan televisi. Arga duduk di samping Zahra dan menatap wajah gadis itu yang tampak teduh. Meskipun Arga bisa melihat kelopak mata Zahra yang terlihat sembab. Arga yakin kalau Zahra habis menangis semalam.


"Bangun." Arga menggoyangkan perlahan tubuh Zahra, tetapi gadis itu bergeming. Sampai cukup lama, tetapi tetap saja, Zahra terlalu asyik dengan dunia mimpinya.


"Cantik, tapi tidur udah kaya kebo aja." Arga mulai mengencangkan gerakannya, tetapi Zahra seolah tidak terganggu sama sekali.


"Mungkinkah benar kalau dia bangun setelah dicium pangeran?" gumam Arga. Dia merasa ragu, tetapi dalam benaknya berpikir, apa salahnya dicoba.

__ADS_1


Arga pun memfokuskan pandangannya ke arah bibir ranum milik Zahra yang begitu menggoda. Bahkan, hanya melihat bibir itu dan membayangkan mel*m*tnya saja sudah membuat tubuh Arga panas dingin.


__ADS_2