
Pagi ini Zahra sudah terlihat rapi dengan seragam OG milik ADS Group. Zahra memang masih kehilangan, tetapi dia menyadari kalau hidupnya harus tetap berjalan. Biarlah Yudha menjadi kenangan dan Zahra tetap melanjutkan hidupnya. Sekarang, justru tanggung jawab besar ada di tangannya.
"Kamu sudah mau berangkat, Ra?" tanya Ibu Henny. Menyiapkan sarapan untuk Zahra dan anak panti.
"Iya, Bu." Zahra menjawab sopan.
"Kamu sarapan dulu." Ibu Henny berbicara lembut.
"Nanti Zahra sarapan di kantor saja, Bu. Takut telat. Ini pertama kali Zahra masuk kerja lagi, enggak enak kalau sampai telat," sahut Zahra.
"Kalau begitu tunggu sebentar. Biar ibu siapkan bekal untukmu." Ibu Henny beranjak ke dapur untuk mengambil tempat bekal.
Lalu mengisinya dengan nasi, lauk, sedangkan sayur dipisah menggunakan plastik karena khawatir akan tumpah. Zahra hanya menatap Ibu Henny penuh haru. Wanita paruh baya itu tampak sangat sayang padanya. Rasanya, Zahra tidak tega saat melihat gurat kesedihan yang masih terlihat jelas memenuhi wajah Ibu Henny. Zahra yakin kalau Ibu Henny masih menangisi kepergian Yudha setiap malam.
"Ini. Jangan lupa dimakan." Ibu Henny menyerahkan bekal tersebut dan langsung diraih oleh Zahra.
"Terima kasih banyak, Bu. Aku sayang ibu." Zahra mendaratkan ciuman di kedua pipi wanita itu lalu berpamitan pergi. Tak lupa, dia bersalaman dengan para anak yatim yang sedang bermain. Zahra menatap mereka satu-persatu dan bertekad untuk berkerja keras supaya anak-anak itu tetap bisa melanjutkan sekolah.
__ADS_1
***
Arga tampak bersemangat setelah Pandu memberi kabar kalau Zahra hari ini mulai kembali bekerja. Meskipun nantinya mereka tidak terlibat pembicaraan langsung, setidaknya Arga bisa menjaga Zahra dari jarak dekat, dan menatap wajah cantik gadis itu.
"Kamu bersemangat sekali, Ga," sindir Pandu. Bibir lelaki itu tersenyum mengejek.
"Jangan merusak kebahagiaan saya, Tuan." Arga mendengkus. Bukannya dia tidak menghormati Pandu, tetapi Arga hanya kesal dengan lelaki itu.
"Kuharap kalian cepat bersatu. Ingat, Ga. Jangan sampai kamu patah hati untuk kesekian kali," ujar Pandu mengingatkan.
"Sudah pasti. Pasti kedua orang tuamu bersedia tinggal di Indonesia kalau mereka sudah punya anak menantu."
"Ya, mereka memang bilang seperti itu, Tuan."
Kedua lelaki itu pun sama-sama diam. Pandu sibuk dengan ponselnya, sedangkan Arga fokus pada laju mobilnya. Setibanya di perusahaan, mereka langsung menuju ke ruangan. Tanpa peduli pada tatapan karyawan yang selalu mengarah kepada mereka.
Baru saja hendak mendudukkan bokongnya, Pandu terdiam sesaat ketika ponselnya berdering. Dia segera mengangkat panggilan tersebut saat melihat nama Rasya tertera di layar.
__ADS_1
"Hallo, ada apa, Ra? Kamu sudah merindukanku?" tanya Pandu penuh percaya diri.
"Mas! Kamu udah sampai kantor?" Rasya justru bertanya balik.
"Baru saja sampai. Memang kenapa?" Pandu menautkan alisnya karena heran. Tidak biasanya Rasya menelepon sepagi ini, di saat dirinya baru sampai kantor.
"Jemput aku di bawah."
"Bawah mana?" sela Pandu tidak sabar.
"Lobby kantor kamu. Aku lagi di sini sama Zaenab."
Jawaban Rasya membuat bola mata Pandu melebar seketika. Tanpa mematikan panggilan tersebut ataupun berbicara, Pandu berlari keluar ruangan. Arga pun menyusul di belakang karena khawatir ada hal buruk yang terjadi karena wajah Pandu terlihat panik.
Ketika baru saja tiba di lobby, Arga dan Pandu terdiam saat melihat Rasya sedang berdiri menunggu bersama Zahra. Bahkan, Arga sampai mengucek mata karena tidak percaya dengan yang dilihatnya saat ini.
"Astaga, ternyata nona muda memang luar biasa." Arga mengusap dada sembari menggeleng tidak percaya.
__ADS_1