
Kedua pasangan yang sedang dimabuk cinta tersebut, terkejut saat Gerry berdeham. Mereka sama-sama gugup dan malu. Zahra hendak melepaskan genggaman tangan Arga, tetapi lelaki itu justru makin erat menggenggam.
Mereka pun akhirnya mengobrol banyak hal tentang panti asuhan. Namun, Zahra mulai merasa tidak nyaman saat dia menyadari beberapa kali Setya terus saja menatap ke arahnya. Zahra mulai berpikir apakah ada yang salah dengan dirinya.
Zahra mengembuskan napas lega saat mereka sudah berpamitan pulang karena jujur, sedari tadi Zahra terus saja merasa canggung. Baru saja dua mobil tadi lenyap dari pandangan, Ibu Henny tampak berjalan pulang dengan tergesa. Zahra yang melihat itu pun menjadi heran.
"Kenapa, Bu?" tanya Zahra.
"Tadi ada tamu siapa? Ibu sampai buru-buru pulang." Ibu Henny berusaha mengatur napasnya yang tersengal karena berlari.
"Tuan Arga, dan keluarganya. Teman papa Tuan Arga mendaftar jadi donatur di panti ini." Ucapan Zahra sontak membuat Ibu Henny membuka mata lebar. Namun, setelahnya wanita itu mengucap syukur berkali-kali.
Zahra pun mengajak Ibu Henny untuk masuk dan membicarakan tentang pertemuan tadi. Setelah selesai, Zahra berpamitan pulang ke rumah kontrakan karena kedua sahabatnya sudah menunggu. Meskipun berat, tetapi Ibu Henny tetap mengiyakan saja.
__ADS_1
"Mungkinkah lelaki itu adalah papa kandung kamu, Ra," gumam Ibu Henny saat melihat motor Zahra yang melaju meninggalkan panti. "Semoga saja. Ibu hanya bisa berharap semoga orang tuamu benar-benar orang yang sangat baik."
***
Flashback On
"Ma, bisakah aku meminta tolong padamu untuk membawakan berkasku yang ketinggalan di kantor? Aku akan ada rapat setengah jam lagi," perintah Setya lewat telepon. Laras yang saat itu sedang menggendong putrinya hanya mengiyakan.
"Bi, aku nitip Baby Shaqueena, ya. Aku cuma pergi sebentar." Laras pergi dengan terburu tanpa menunggu jawaban baby sitter tersebut.
Selama dalam perjalanan, hati Laras terus saja merasa tidak tenang. Ada rasa gelisah yang menelusup masuk, tetapi Laras mencoba untuk menyingkirkan, dan meyakinkan kalau semua pasti akan baik-baik saja.
Setibanya di kantor, Laras langsung menuju ke ruangan suaminya. Lalu menyerahkan berkas tadi. Ketika Laras hendak berpamitan pulang, Setya segera melarang dan menyuruh Laras untuk menunggu sebentar. Karena Setya ingin sekali makan siang bersama istrinya seusai rapat.
__ADS_1
Laras menjatuhkan tubuhnya di sofa dan bermain ponsel. Hampir setengah jam berlalu, tetapi suaminya belum juga kembali. Laras sampai bosan menunggu di ruangan tersebut sendirian. Ketika baru saja meletakkan ponsel di sampingnya, tiba-tiba suara deringan menggema di sana. Laras segera mengambil dan menautkan kedua alisnya saat melihat nama baby sitter tertera di layar.
"Hallo, Bi," sapa Laras. Dia tidak tahu kenapa jantungnya berdebar sangat kencang.
"Nyonya, Nona kecil diculik."
"Apa! Diculik?" Suara Laras menggema di ruangan itu. Mengejutkan Setya yang baru saja membuka pintu.
Langkah Setya melebar mendekati Laras yang tampak lemas. Dia mengambil ponsel Laras dan berbicara dengan baby sitter itu. Setya pun sama dengan Laras. Lelaki itu begitu terkejut atas apa yang dikatakan oleh baby sitter tadi.
"Kita pulang sekarang." Setya menangkup wajah Laras yang saat ini sudah penuh dengan air mata.
"Putri kita, Mas." Suara Laras terdengar sangat lemah, dan wanita itu tidak sadarkan diri setelahnya. Setya pun bangkit dan membopong Laras. Lalu membawa wanita pulang untuk memastikan ucapan baby sitter tadi.
__ADS_1