
Zahra bertepuk tangan setelah menemukan ide tersebut. Zahra akan membuat orang tua Arga tidak suka padanya lalu menyuruh mereka untuk saling menjauh. Setelah selesai, Zahra pun keluar dengan wajah berbinar.
Arga terdiam sesaat ketika melihat Zahra yang tampak cantik dan feminim. Apalagi, Zahra sedikit memoles wajahnya, meskipun hanya make-up tipis, tetapi justru itu membuat kecantikan Zahra terlihat alami.
"Kalian sudah akan berangkat?" tanya Ibu Henny saat melihat Arga beranjak bangun.
"Sudah, Bu. Biar nanti tidak kemalaman." Arga menjawab sopan.
"Baiklah. Hati-hati di jalan," pesan Ibu Henny. Kedua orang itu hanya mengangguk mengiyakan.
Namun, ketika mereka baru sampai di ambang pintu, Zahra berhenti dan merasakan ada sesuatu hal yang kurang. Dia meraba tubuhnya supaya mengingat hal apakah itu. Detik selanjutnya, Zahra menepuk kening lalu berlari ke kamar.
Ibu Henny dan Arga pun ikut menyusul karena khawatir dengan gadis itu. Namun, mereka terdiam saat melihat Zahra sedang membuka selimut seperti sedang mencari sesuatu.
"Kamu cari apa, Ra?" tanya Ibu Henny, berjalan mendekat.
"HP, Bu. Zahra lupa naruh HP di mana." Zahra menjawab sambil terus mencari, sedangkan Arga justru tersenyum miring.
"Lha kamu naruh di mana tadi?" Ibu Henny ikut mencari.
"Lupa, Bu. Barusan 'kan Zahra duduk di depan, eh! Apa di depan ya." Zahra berlari ke ruang tamu dan mencari di setiap sudut sofa. Namun, benda pipih tersebut sama sekali tidak terlihat. Zahra mendadak cemas karenanya.
__ADS_1
"Lebih baik sekarang kita berangkat. Orang tuaku sudah menunggu," ajak Arga.
"Tapi Tuan—"
"Nanti pasti ketemu. Kalau tidak ketemu maka aku akan belikan kamu ponsel baru," ucap Arga. Zahra menatap Arga dengan tidak percaya.
Ketika Zahra hendak membuka suara lagi, Arga sudah menarik tangan gadis itu terlebih dahulu lalu mengajak pergi dari sana. Zahra tidak berani menolak dan hanya pasrah saat Arga menyuruhnya masuk ke mobil.
Setelah memastikan Zahra duduk tenang dan memakai sabuk pengaman, Arga segera melajukan mobil tersebut ke sebuah restoran mewah di mana kedua orang tuanya sudah menunggu.
Semua ini serba mendadak. Arga tidak tahu darimana mereka dengar soal Zahra. Arga saja terkejut ketika orang tuanya mengatakan sedang perjalanan pulang ke Indonesia dan ingin segera bertemu gadis pujaan hati Arga. Meskipun Arga mengatakan tidak ada, tetapi kedua orang itu sudah kekeh ingin bertemu. Arga pun akhirnya hanya bisa pasrah dan berharap ini adalah awal yang baik untuk hubungan dirinya dan Zahra.
Kegugupan Zahra makin menjadi-jadi saat mobil yang dikemudikan Arga sudah terparkir di area restoran. Arga mengajak Zahra untuk keluar dan bergegas masuk karena orang tua Arga sedari tadi sudah menelepon.
Arga menggandeng tangan Zahra karena merasakan langkah gadis itu sangat lambat. Zahra pun tidak menolak dan hanya diam menurut saja.
"Orang tuaku tidak akan menggigitmu, jadi jangan takut begitu." Arga mendes*h kasar.
"Saya tidak takut, tapi gugup, Tuan." Zahra menjawab lirih.
"Kenapa mesti gugup? Orang tuaku itu juga orang biasa," timpal Arga.
__ADS_1
"Saya hanya gugup saat bayangin kita dinikahin saat ini juga."
Ucapan Zahra membuat langkah Arga berhenti seketika. Lelaki itu menoleh dan menatap Zahra yang sedang menepuk bibirnya berkali-kali. Senyum sinis terlihat dari sudut bibir Arga.
"Jadi, kamu sudah tidak sabar ingin menikah denganku?" bisik Arga tepat di telinga Zahra. Napas Arga yang menerpa belakang telinga Zahra seketika membuat bulu kuduk gadis itu terasa meremang.
••••
Doain Othor khilaf biar nanti update lagi guys
Kalau enggak update berarti Othor lagi sadar 😅😅
Makan yuk, karena nungguin mereka jadian juga butuh tenaga 🤭
Adakah yang mau kirim seblak buat Othor?
Via FB : Rita Anggraeni (Tatha)
Atau IG : @tathabeo
🥰🥰🥰🥰
__ADS_1