
"Zae, gimana hubungan elu sama Mas Yudha?" tanya Zety saat mereka sedang duduk bersama di depan televisi.
Zahra tidak langsung menjawab, tetapi sibuk mengunyah kacang telur yang toplesnya saat ini sedang dipeluk erat. Zety yang melihat itu pun hanya memutar bola mata malas.
"Ditanya malah diem. Elu bisu?" tanya Zety lagi, tetapi kali ini penuh dengan nada kekesalan.
"Ya enggak gimana-gimana, Suk. Gue tetep kaya kakak-adik seperti biasa." Zahra menjawab malas. Bukannya dia tidak suka, tetapi dia masih terbayang wanita cantik yang bersama Yudha tadi siang. Entah mengapa, Zahra merasa ada sesuatu di antara mereka.
"Tembak aja, sih, Zae. Elu 'kan cinta mati sama dia sampai rela nunggu bertahun-tahun." Zety mengompori. Zahra menghentikan kunyahannya dan menatap Zety dengan tajam.
"Jangan gila elu, Suk! Gue ini gadis, wanita, cewek, putri—"
"Yang ngomong elu ini laki siapa!" sela Zety, ikut mengambil kacang dari dalam toples.
"Ish! Jangan mulai ngeselin dan bikin mood gue hancur, Suk! Gue enggak mau ngerendahin harga diri gue sebagai seorang wanita bermartabat seberapa besar pun cinta gue ke Mas Yudha." Zahra berbicara dengan yakin.
__ADS_1
"Bagus!" Zety mengacungkan jempol tanda setuju.
"Tapi kalau gue dapat sinyal kalau Mas Yudha juga cinta sama gue, maka gue bakalan gaskeun!"
"Astaga! Plin-plan amat elu jadi cewek!"
"Lah, selagi ada kesempatan buat apa enggak dimanfaatin, Suk."
"Tapi itu sama aja elu tetep ngerendahin harga diri elu, Bambang!" Zety menonyor kepala Zahra saking kesalnya.
Mereka pun saling mengobrol, Zahra menceritakan hari pertama kerja dan bagaimana dirinya di kantor harus bersikap sopan kepada Rasya. Sesekali, Zety tergelak keras saat ada kelucuan dalam cerita sahabatnya itu. Apalagi, saat Zahra menirukan gaya tubuh dan bahasa ketika Arga memarahi dirinya yang tidak bersikap sopan kepada Rasya.
"Astaga, bengek!" Zety memegang perut yang terasa kram karena terlalu banyak tertawa.
"Gue tuh beneran kesel banget sama Tuan Arga itu. Kenapa gue selalu sial kalau deket dia." Zahra mengunyah kacang dengan kasar hingga suara kunyahannya terdengar keras. Zety yang melihat itu justru ngeri sendiri.
__ADS_1
"Edan elu, Zae. Elu cewek, bisa makan dengan anggun enggak sih? Makan kaya sapi gitu." Zety mendengkus kasar. "Lagian ya, Zae, elu kalau terlalu sebel sama Tuan Arga, bisa jadi elu malahan cinta mati sama dia."
"Ogah! Gue enggak mau hidup gue sial terus-terusan."
"Bukannya sial karena dekat dengan Tuan Arga, tapi dasar elunya aja yang ceroboh." Zety mencebikkan bibir. "Malah mending sama Tuan Arga daripada Mas Yudha."
"Heh! Yang bener aja elu, Suk. Lebih mending Mas Yudha bangetlah. Dia itu udah cakep, penyayang, pokoknya wow gitulah. Elu aja belum kenal banget Mas Yudha." Zahra membela, tetapi Zety justru mengembuskan napas kasar.
Zety tidak menyangka kalau Zahra akan sebucin itu kepada kakak angkatnya di panti dulu. Padahal menurut Zety, Yudha bukanlah orang sebaik yang Zahra nilai selama ini. Akan tetapi, cinta itu buta dan bisa mengalahkan segalanya. Bahkan, terkadang cinta membuat orang kehilangan akal.
"Auh!" Zahra mendesis saat lidahnya tanpa sengaja tergigit bersamaan dengan suara pintu yang diketuk dari luar.
"Elu bentar lagi mau makan sama daging, tuh, kalau lidah kegigit kek gitu," ujar Zety. Dia bangkit berdiri dan berjalan ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang bertamu malam-malam.
"Sial banget, bakal jadi sariawan ini. Biasanya kalau sial gini pas ada Tuan Arga," gumam Zahra.
__ADS_1