Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
66


__ADS_3

Arga menggeram, apalagi dia sedari tadi melihat Zahra yang mengusap perutnya dengan bibir komat-kamit. Arga tidak mengetahui kalau Zahra sedang bergumam 'amit-amit jabang bayi' setelah sadar akan ucapannya.


"Siapa ayah dari bayi yang kamu kandung?" tanya Arga lirih.


"Tuan—"


"Katakan siapa lelaki itu! Kalau dia tidak mau bertanggung jawab, maka biarkan aku yang bertanggung jawab!" tegas Arga, membuat Zahra tercengang. Bahkan, mulut Zahra sampai terbuka lebar saking tidak percayanya.


"Anda yakin, Tuan?" tanya Zahra memastikan.


"Aku tidak akan pernah berbohong atas segala ucapanku! Kalau memang lelaki yang menghamili kamu tidak mau bertanggung jawab maka aku bersedia. Aku tidak mau ada anak yang lahir tanpa seorang ayah!"


"Terima kasih banyak atas kebaikan hati Anda, Tuan." Zahra terharu. Bahkan, dia berpura-pura mengusap air mata.


Arga tidak membuka suara, hanya mendes*h dan merasa sedikit kecewa. Namun, bagi Arga semua yang sudah terjadi tidak harus selalu disesali.


"Berapa usia kehamilanmu?" tanya Arga. Setelah cukup lama mereka sama-sama diam.


"Mana saya tahu, Tuan," sahut Zahra. Arga mendongak lalu menatap Zahra penuh selidik.


"Bagaimana bisa kamu tidak tahu dengan usia kehamilanmu sendiri?" Arga mulai curiga.

__ADS_1


"Saya mau tahu bagaimana, Tuan, sedangkan saya tidak hamil. Jangankan hamil, saya saja belum pernah merasakan betapa nikmatnya saat ada pisang yang masuk ke donat saya," celetuk Zahra.


Arga awalnya diam. Namun, sepersekian detik selanjutnya mata Arga membelalak saat menyadari ucapan Zahra.


"Kamu ini—"


"Saya tidak hamil, Tuan. Tapi saya ucapkan terima kasih karena Anda sudah bersedia menjadi ayah dari anak saya kelak," ucap Zahra. Arga memijat pelipis saat merasakan kepalanya tiba-tiba terasa pusing.


"Kembalilah bekerja!" suruh Arga. Zahra pun dengan bergegas mengambil kain lap pel lalu pergi dari sana.


Setelah bayangan Zahra tidak lagi terlihat, Arga merutuki kebodohannya sendiri. Bagaimana bisa dirinya menjadi seperti orang bodoh di depan Zahra tadi.


"Apakah IQ seseorang akan menurun saat berada di depan orang yang dicintainya." Arga bergumam sendiri.


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Namun, Zahra masih duduk gelisah di depan panti. Bagaimana tidak, Rasya menelepon dirinya dan mengatakan kalau Arga sedang dalam perjalanan ke panti untuk menjemput gadis itu. Tentu saja itu membuat Zahra kalang-kabut. Semua dilakukan dengan cepat. Mandi, merapikan rambut dan penampilan, semua terlaksana versi kilat.


Namun, hampir setengah jam berlalu, tidak ada tanda-tanda kedatangan Arga. Bahkan, Zahra sampai menarik kursi di ruang tamu dan mendekatkan ke jendela untuk mengintip kedatangan Arga. Zahra mendes*h dan merasa kalau Rasya pasti menjahili dirinya.


Dengan perasaan yang dongkol, Zahra mengambil ponsel dan bersiap untuk memarahi Rasya. Namun, baru saja membuka layar kunci, Zahra terdiam saat mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumah.


Zahra mengintip, dan mendadak heboh saat melihat Arga keluar dari dalam mobil. Dengan gerakan gesit, Zahra kembali membenarkan posisi kursi lalu berlari ke kamar. Ibu Henny yang melihat kelakuan Zahra hanya menggeleng. Wanita paruh baya itu mendekati pintu yang saat ini sudah diketuk.

__ADS_1


"Silakan masuk, Tuan." Ibu Henny berbicara sopan.


Arga pun menurut dan di kursi. Arga terdiam saat melihat ponsel Zahra berada tepat di sampingnya.


"Zahranya ada, Bu?" tanya Arga sopan.


"Ada. Dari tadi dia nungguin Tuan Arga di dekat jendela sini." Ibu Henny menjawab jujur. Arga melipat bibir untuk menahan tawanya.


"Terus sekarang dia di mana, Bu?" Arga kembali bertanya.


"Dia lari masuk ke kamar tadi. Biar ibu panggilkan."


Arga hanya menatap punggung Ibu Henny yang perlahan menjauh. Setelah tidak terlihat, Arga segera mengambil ponsel Zahra dan menyembunyikan di belakang tubuhnya. Arga ingin sekali mengerjai Zahra.


•••


Dua bab dulu


Othor lagi lemes bestie


butuh pelukan eh butuh dukungan kalian 😀😀

__ADS_1


selamat pagi guys


selamat beraktivitas 😘


__ADS_2