Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
69


__ADS_3

Arga tersenyum saat melihat kegugupan memenuhi wajah Zahra. Tanpa membuka suara, Arga menarik tangan Zahra dan mengajaknya masuk. Tujuan mereka saat ini adalah meja nomor sebelas di mana orang tua Arga berada.


Zahra menunduk dalam saat sudah berdiri di samping meja yang diduduki orang tua Arga. Gadis itu tidak memiliki sedikit pun keberanian meski hanya sekedar mengangkat kepala. Melihat itu, Arga makin mengeratkan genggaman tangannya.


"Mama dan Papa sudah lama?" sapa Arga. Mencium punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian. Zahra melerai genggaman tangan Arga dan menirukan apa yang dilakukan lelaki itu.


"Ini kekasih kamu?" tanya mama Arga. Zahra makin menunduk dalam apalagi mendengar nada bicara mama Arga yang seolah menunjukkan rasa tidak suka.


Arga tidak menjawab. Dia justru menarik kursi di sebelahnya dan menyuruh Zahra untuk duduk di sana. Zahra hanya menurut, lalu menatap Arga yang saat ini sedang mendudukkan bokong di sampingnya.


"Mama dan Papa kenapa pulang secara mendadak?" tanya Arga tanpa menjawab pertanyaan sang mama.


"Kita sengaja membuat kejutan untukmu. Sekaligus, ingin melihat seperti apa calon anak menantu kita. Dari keluarga mana dia berasal?" tanya Gerry, papa Arga.


"Pa—" Arga menyela. Namun, dia langsung terdiam saat sang papa melambaikan ke arah Arga, memberi kode pada lelaki itu untuk diam. Arga tidak mau kalau sampai kedua orang tuanya membuat Zahra tidak nyaman.


"Papa sedang tidak bertanya padamu, Ga. Hai, Nona, siapa orang tuamu?" tanya Gerry lagi. Arga mendengkus saat mendengarnya.


"Saya hanya anak panti, Tuan." Suara Zahra terdengar grogi.

__ADS_1


"Orang tuamu di mana?" tanya Melda—mama Arga. Zahra menggeleng lemah.


"Bisakah kamu menatap lawan bicaramu saat berbicara?" suruh Gerry. Zahra awalnya ragu, tetapi dengan segala keberanian yang dia miliki, Zahra mengangkat kepala dan menatap orang tua Arga secara bergantian.


Melda menutup mulut rapat, tetapi mata wanita paruh baya itu tampak sedikit membola saat melihat wajah Zahra dengan seksama. Begitu juga dengan Gerry yang menatap Zahra dengan tatapan yang susah dijelaskan. Menyadari itu, Zahra kembali menunduk, hatinya merasa tidak enak sendiri.


"Pa, Ma. Kalau kalian ke sini cuma mau buat Zahra takut, lebih baik aku pulang." Arga kesal sendiri.


"Baiklah, kalau begitu lebih baik sekarang kita pesan makanan dulu. Nanti kita ngobrol lagi." Gerry memanggil salah seorang karyawan dan memesan makanan kesukaan Arga.


"Tuan," panggil Zahra berbisik. Arga menoleh, dan mendekatkan wajahnya saat melihat kode dari tatapan mata Zahra. "Saya kebelet."


"Kencing, Tuan. Saya kalau grogi pasti pengen ke toilet," terang Zahra. Arga menghela napas panjang lalu mengembuskan dengan kasar.


"Pa, Ma, aku antar Zahra ke toilet dulu." Arga bangkit berdiri lalu menarik tangan Zahra lagi.


"Permisi, Tuan, Nyonya." Zahra membungkuk hormat lalu berjalan cepat dari sana. Arga bahkan sampai kewalahan mengikuti langkah kaki Zahra.


"Tungguin!" teriak Arga.

__ADS_1


"Ayo, Tuan. Kalau saya ngompol di sini, Anda juga yang ikut malu." Saking tidak sabarnya, Zahra melepas sepatu, menentengnya dan berjalan setengah berlari. Arga menatap tidak percaya dengan apa yang dilakukan Zahra.


Sementara itu, sepeninggal anaknya, Gerry dan Melda saling bertatapan.


"Pa, kenapa aku merasa kalau Zahra sangat mirip dengan Laras ya."


"Ya, papa juga melihat wajah Zahra sangat mirip sekali dengan Laras. Mungkinkah Zahra adalah anak Laras dan Setya yang hilang?" tukas Gerry. Melda hanya diam, tetapi hatinya membenarkan prasangka suaminya itu.


•••


Siapa Laras dan Setya, Thor?


Jelasin, Thor! Jelasin! 😅😅😅


Lagi???


Wkwkwk Othor lemes bestie


Butuh healing biar otak segar, tapi healing ke mana nih, asyiknya? 😅😅

__ADS_1


__ADS_2