
Zara sangat bersemangat melakukan pekerjaannya. Hari ini awal bulan, itu artinya nanti dia akan menerima gaji. Rasanya Zahra sudah tidak sabar ingin segera mengajak sahabatnya ke pasar malam meski hanya sekadar naik bianglala. Mereka sudah janjian, termasuk Rasya yang hendak ikut meskipun wanita itu harus bersusah payah merayu suaminya.
Sedang bersiap untuk pulang, Zahra terkejut saat seseorang tiba-tiba mencekal tangannya. Meski tidak kasar, tetapi itu mampu membuat jantung Zahra berdebar kencang. Zahra mendongak dan melihat Arga berdiri tegak di depannya.
"Ada apa, Tuan?" tanya Zahra, berusaha melepaskan tangan Arga.
"Ikut denganku." Tanpa menunggu persetujuan Zahra, Arga melangkah dengan menggandeng Zahra. Mereka keluar dari perusahaan itu.
Zahra merasa heran saat merasakan langkah Arga yang begitu tergesa. Bahkan, beberapa kali gadis itu hampir jatuh karena tidak bisa menyeimbangi langkah Arga.
"Kita mau ke mana, Tuan? Buru-buru sekali." Entah sudah keberapa kali Zahra melontarkan pertanyaan itu. Namun, Arga sama sekali tidak memberikan jawaban hingga akhirnya Zahra memilih pasrah.
Setibanya di mobil, Arga menyuruh Zahra untuk duduk di depan, sedangkan Arga duduk dibalik stir kemudi. Ketika pintu mobil tertutup, Zahra mendadak gugup saat melihat tatapan Arga ke arahnya begitu lekat—bahkan sangat lekat.
__ADS_1
Zahra sedikit memundurkan tubuhnya saat Arga terus saja mendekatkan wajahnya. Melihat tatapan Arga yang sedalam itu justru membuat Zahra menjadi was-was. Mungkinkah saat ini Arga ingin bercinta dengannya di mobil?
Zahra menggeleng untuk mengusir pikiran kotor itu. Sebuah pikiran yang tidak sepatutnya bersarang di otak seorang gadis yang masih suci.
"Kenapa kamu geleng-geleng?" Kening Arga mengerut saat melihat Zahra.
"Tuan, meskipun kita sudah bertunangan, tapi saya mohon jangan mengajak saya bercinta di dalam mobil. Saya takut ketahuan karyawan lain," ucap Zahra jujur. Kedua mata Arga melebar sempurna saat mendengar penuturan Zahra itu.
"Kamu ini masih gadis, tapi kenapa otakmu berpikir jauh sekali." Arga kembali duduk tegak. Zahra yang melihat itu pun mengembuskan napas lega.
"Habisnya Anda terus saja mendekat. Saya jadi gugup, Tuan." Zahra ikut duduk tegak dan menghadap ke depan.
"Sepertinya bukan karena itu, tapi karena otakmu sudah sangat tercemar dengan adegan-adegan dewasa. Atau jangan-jangan ...." Arga menghentikan ucapannya lalu dengan gerakan cepat mendekati wajah Zahra hingga membuat gadis itu terjingkat kaget.
__ADS_1
"Jangan membuat saya kaget, Tuan." Zahra mengusap dada, sedangkan Arga menunjukkan seringai tipis. Zahra pun kembali was-was dan memundurkan tubuhnya. "Ja-jangan-jangan apa, Tuan?"
"Kamu ingin bercinta di sini? Kalau kamu mau aku akan mengabulkannya."
Uhuk uhuk!
Zahra terbatuk karena tersedak ludahnya sendiri mendengar ucapan Arga yang membuatnya tercengang. Tangan Zahra merem*s dada untuk menghilangkan ketakutan. Zahra benar-benar takut Arga akan berbuat senekat itu. Melihat ketakutan Zahra, bukannya kasihan, tetapi Arga justru tergelak. Lelaki itu tertawa keras hingga suaranya menggema di dalam mobil.
"Tuan! Anda jail sekali!" Zahra tanpa sadar memukul bahu Arga untuk meluapkan kekesalan, tetapi sepersekian detik berikutnya dia menelan ludah kasar saat Arga sudah mencekal tangannya.
"Berani sekali kamu padaku?" Arga berpura-pura marah. Zahra menggeleng cepat tanpa berani berkata-kata.
"Tolong, maafkan saya, Tuan." Zahra akhirnya merengek. Meminta ampun kepada lelaki itu.
__ADS_1