Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
44


__ADS_3

Perlahan, tapi pasti. Arga mulai memajukan wajahnya dengan jantung berdebar kencang. Sementara Zety dan Margaretha yang mengintip dari balik tembok, tersenyum lebar sembari menghitung mundur.


Belum juga Arga mencium Zahra, gadis itu sudah mengerjapkan kedua mata dan tersentak saat melihat betapa dekatnya wajah mereka. Namun, Zahra belum sadar dan mengira dirinya masih berada di alam mimpi.


"Tampan sekali." Zahra menangkup kedua pipi Arga, sedangkan Arga hanya mematung. Tubuhnya seolah kaku dan tidak bisa melakukan apa pun. "Ah, pangeran, kenapa kamu setampan ini meskipun wajahmu sangat mirip Tuan Arga yang menyebalkan itu."


Zahra tanpa sadar mengecup bibir Arga hingga membuat tubuh Arga mematung dan merasakan gelayar aneh yang baru pertama kali dirasakan. Arga tidak menolak, tetapi dia juga tidak membalas karena masih terkejut dengan apa yang Zahra lakukan. Lelaki itu hanya diam merasakan betapa lembutnya sentuhan tangan Zahra di wajahnya.


"Astaga, Zae! Itu Tuan Arga!" pekik Zety dan Margaretha mengejutkan dua orang itu.


Zahra langsung mendorong tubuh Arga sekuat tenaga hingga membuat Arga jatuh terjengkang karena lelaki itu dalam posisi tidak siap. Tubuh Zahra meringsut saat melihat Arga yang sedang beranjak bangun, dan mata lelaki itu mendelik ke arah Zahra.


"Ma-maafkan saya, Tuan."


"Sulit dipercaya." Zety dan Margaretha menimpali ucapan Zahra secara bersamaan dengan kepala menggeleng.

__ADS_1


"Kalian berdua ...." Zahra tidak meneruskan ucapannya dan hanya menunjukkan kepalan tangan kepada dua sahabatnya dengan gigi bergemerutuk.


"Ciee, yang habis berkecup-kecup mesra," goda Zety.


Zahra mengusap bibir saat teringat kejadian tadi. Lalu melirik Arga yang masih menatap tajam ke arahnya. Sepersekian detik kemudian, Zahra menangkup kedua tangan di depan wajah dan meminta ampun.


"Maaf saya tidak tahu, Tuan," ucap Zahra memohon. Arga hanya diam dan menatap Zahra dengan senyum tipis tersemat di sudut bibir.


"Tiada kata maaf bagimu, wahai Adinda. Hahaha." Zety berbicara keras dengan nada bicara dibuat-buat. Zahra yang merasa kesal langsung melempar bantal ke arah Zety.


"Emang kalian enggak ada yang waras!" cebik Zahra.


Arga memijat pelipis karena merasa pusing dengan ketiga gadis itu. Sungguh, berada di dekat mereka yang ada dirinya bisa jadi ketularan gila.


"Diamlah kalian! Aku pusing!" seru Arga. Ketiga gadis itu langsung diam seketika. "Lebih baik sekarang kamu bangun, dan bersiaplah. Lima belas menit dan semua harus sudah beres."

__ADS_1


"Astaga, Tuan. Anda yang benar saja! Mana ada lima belas menit kelar mandi dan bersiap-siap," tolak Zahra ketus.


"Aku tidak peduli. Pokoknya semua harus selesai." Tanpa peduli pada Zahra yang hendak mendebat lagi, Arga bangkit berdiri dan berjalan ke ruang tamu begitu saja.


"Cepetan, Zae. Elu mandi." Margaretha menarik Zahra supaya bangun.


"Gue masih ngantuk." Zahra bangkit bermalas-malasan. Namun, meski sangat terpaksa, Zahra tetap ke kamar mandi dan membersihkan diri dengan cepat. Zahra tidak mau kalau sampai Arga mengomel padanya lagi.


Sementara itu, Arga berkali-kali melirik jam tangan dan menghitung detik yang terus berlalu. Zety dan Margaretha juga duduk di depan Arga dan menunggu kedatangan Zahra.


"Satu menit lagi!" teriak Arga. Dia bangkit berdiri untuk melihat hal apa yang sedang dilakukan Zahra. Namun, baru saja Arga berdiri, tiba-tiba ....


Gubrak!


Arga jatuh telentang di lantai dengan Zahra menindih di atasnya. Mereka berdua pun saling beradu pandang tanpa ada niatan untuk bangkit. Tatapan mata Arga justru terpaku pada bibir Zahra yang tadi sudah mengecupnya. Otak Arga berkelana hingga tanpa sadar tangannya memegang pinggang Zahra dengan erat.

__ADS_1


"Cieee, berasa lagi syuting FTV aja."


"Mesra, anget banget pula," ledek Zety dan Margaretha. Dengan gegas Arga dan Zahra bangkit berdiri. Kedua orang itu terlihat salah tingkah.


__ADS_2