Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
67


__ADS_3

"Kamu sudah ditunggu, Ra." Ibu Henny mengejutkan Zahra yang sedang duduk di tepi tempat tidur.


"E-em, iya, Bu." Zahra tergagap. Dia bangkit berdiri dan berjalan menuju ke ruang tamu.


Zahra makin merasa gugup saat melihat Arga sedang duduk di sofa dengan kepala bersandar. Yang membuat Zahra penasaran adalah dua buah paperbag yang dibawa Arga dan saat ini tergeletak di samping lelaki itu.


"A-ada perlu apa Anda ke sini, Tuan? Maaf saya baru bangun tidur," ucap Zahra berbohong. Dia duduk bersebrangan dengan Arga.


"Oh begitu. Aku tidak tahu kalau kamu jam segini baru bangun tidur," ledek Arga. Sudut bibir lelaki itu tertarik sebelah. Zahra makin terlihat gugup.


"I-itu karena saya kecapean jadi tidak sadar ketiduran, Tuan." Zahra berdoa semoga saja Arga tidak tahu kalau dirinya sedang berbohong saat ini.


Arga tidak menjawab, hanya membulatkan bibir. Lalu dia mengambil dua paperbag itu dan menyerahkan kepada Zahra.

__ADS_1


"Ini apa, Tuan?" tanya Zahra, mengintip isi paperbag tersebut.


"Itu gaun dan sepatu. Gantilah bajumu sekarang dan ikutlah denganku," suruh Arga. Zahra menoleh dan menatap Arga bingung.


"Untuk apa, Tuan? Maaf, maksud saya, kita akan ke mana, Tuan?" Zahra begitu penasaran.


"Aku akan mengajak kamu makan malam dengan orang tuaku. Kebetulan tadi siang mereka baru sampai di Indonesia," tutur Arga. Mata Zahra membola sempurna. Bahkan, mulutnya pun sampai terbuka lebar saking terkejutnya.


"A-Anda serius, Tuan?" tanya Zahra masih belum percaya.


Zahra terjengkit karena terkejut dengan suara Arga yang menggelegar. Dengan gerakan cepat, Zahra menaruh paperbag tersebut di meja lalu berlari masuk ke kamar. Namun, beberapa detik selanjutnya Zahra kembali untuk mengambil paperbag itu. Zahra cengengesan, sedangkan Arga hanya menggeleng dengan senyum yang tidak memudar sedikit pun.


Selepas kepergian Zahra, Arga mengeluarkan ponsel Zahra dan hendak membukanya. Namun, gerakan Arga terhenti saat menyadari kalau itu adalah hal privasi Zahra. Akhirnya, Arga hanya melihat wallpaper ketika menghidupkan layarnya.

__ADS_1


Arga terkekeh karena di layar depan terdapat foto Zahra dengan muka konyolnya. Benar-benar lucu dan menggemaskan menurut Arga. Setelah puas menatap foto tersebut, Arga mematikan ponsel Zahra dan menyimpannya dalam saku jaket yang saat ini sedang dikenakan.


Sementara itu, Zahra terlihat buru-buru berganti gaun karena takut Arga akan marah kalau kelamaan. Baru saja selesai memakai gaun, tetapi Zahra sudah mengagumi dirinya sendiri yang terlihat cantik dan anggun.


"Ternyata gue cantik juga kalau pakai gaun ini." Zahra memutar tubuh sambil bercermin. Bahkan, dia berlenggak-lenggok bak seorang model.


"Marilah kita sambut model tercantik kita, Az-Zahra Shakila. Hahaha." Zahra tergelak dengan banyolannya sendiri. Lalu, dia menepuk kening saat menyadari sesuatu.


"Tunggu dulu. Kalau gue ketemu orang tua Tuan Arga, terus dikenalin, dan dijadiin anak mantu gimana?" Zahra bergumam sendiri.


'Nak Zahra, maukah kau menjadi anak menantuku? Kupastikan jika hidup bersama putraku, kau akan selalu—'


Zahra sudah bergidik saat membayangkan menikah dengan Arga. Belum menikah saja Zahra sudah takut dengan lelaki itu, apalagi kalau sudah menikah nanti.

__ADS_1


"Aha!" Zahra menjetikkan jarinya setelah menemukan sebuah ide. "Mendingan gue bicara aja tentang hidup gue yang ngenes dan miskin, pasti mereka langsung menolak. Kau gadis miskin, dan tidak pantas bersanding dengan putraku!"


__ADS_2