Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
90


__ADS_3

"Bilang belum gajian. Enggak perlu nunggu gajian juga elu udah kaya, Zae. Bahkan, bisa jadi uang jajan elu sehari sama kaya gaji elu sebulan," dengkus Rasya.


"Duit dari mana, Ra? Dari mana duitnya?" Zahra mulai sewot.


"Gue tahu elu itu anak Tante Laras dan Om Setya." Jawaban Rasya membuat bibir Zahra bungkam seketika. "Muka elu biasa aja keles!" Rasya mengusap wajah Zahra hingga membuat gadis itu mendengkus kasar.


"Elu tahu dari mana, Ra?" tanya Zahra, menatap Rasya penuh selidik.


"Dari mana aja boleh." Rasya tergelak, tetapi beberapa saat kemudian dia mengaduh karena Zahra sudah menonyor kepalanya. "Jangan macem-macem sama gue, Zae. Ntar kalau laki gue lihat bisa aja elu digantung di Menara Eiffel," ancam Rasya.


Zahra melipat kedua tangan di depan dada, "Gue enggak takut. Kebetulan banget gue juga belum pernah lihat Menara Eiffel."


"Kalian sedang ngomongin apa?" tanya Pandu yang baru saja datang bersama Arga.


"Rahasia perempuan, Mas. Aku mau ikut ke kantor boleh ya, Mas." Rasya merangkul lengan suaminya lalu menatap manja pada lelaki itu.


"Kamu di rumah saja. Aku tidak mau kamu dan baby kita kelelahan." Pandu mengusap perut Rasya yang sudah terlihat membuncit.


"Mas, tapi aku bosan di rumah sendirian. Lagi pula, nanti siang aku ada pertemuan dengan klien di luar kantor," bujuk Pandu. Menyematkan anak rambut Rasya ke belakang telinga wanita itu.


"Kamu milih mana, ikut aku ke kantor sekarang atau di rumah saja, tapi aku akan mengajakmu ke pasar malam nanti," tawar Pandu. Senyum Rasya melebar sempurna.


"Aku pilih sekarang ikut ke kantor dan nanti kita ke pasar malam," sahut Rasya penuh semangat.


Pandu mendes*hkan napas ke udara. "Tidak bisakkah kamu memilih salah satu?" tanya Pandu yang langsung disambut gelengan kepala oleh Rasya.

__ADS_1


"Jangan sampai kita terlambat, Tuan." Arga menimpali karena dia sudah merasa jengah dengan perdebatan pasangan itu.


"Baiklah, tunggu di rumah saja. Sebentar lagi mommy akan ke sini. Aku berangkat." Pandu mencium puncak kepala Rasya, lalu masuk ke mobil disusul Zahra dan juga Arga. Namun, ketika Arga hendak menjalankan mobil tersebut, Rasya justru mengetuk-ketuk kaca jendela belakang.


"Apalagi?" tanya Pandu. Menurunkan kaca jendela. Terlihat jelas lelaki itu sedang menahan kekesalan.


"Belikan aku rujak buah yang lengkap," rengek Rasya. Bibir Pandu terlihat tersenyum simpul.


"Baiklah. Nanti aku belikan." Setelah Rasya mengangguk, Pandu menyuruh Arga untuk melajukan mobil tersebut sebelum terlambat sampai di kantor.


***


"Rencana kapan pernikahan kalian?" tanya Pandu saat mobil itu sedang melaju ke kantor.


"Orang tua kita menyuruh bulan depan, Tuan." Arga menjawab sopan. Dia melirik Zahra yang hanya diam dan menatap ke luar jendela.


"Kalau untuk urusan itu, papa dan mama bilang akan diurus mereka, Tuan. Saya hanya tinggal terima jadi," sahut Arga.


"Kalau begitu. Aku doakan semoga acara kalian lancar dan kalian menjadi jodoh selamanya," ucap Pandu tulus.


"Aamiin, terima kasih banyak doanya, Tuan." Arga menatap kaca kecil di depan. Namun, beberapa detik kemudian lelaki itu mengijak pedal rem secara mendadak saat mendengar teriakan Pandu.


Tubuh ketiga orang itu terhuyung ke depan karenanya. Pandu hendak mengomel, tetapi lelaki itu berdecak saat melihat Arga yang sedang mengusap puncak kepala dan kening Zahra.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Arga lembut. Dia masih bisa melihat dengan jelas gurat ketakutan dalam wajah Zahra.

__ADS_1


"Sa-saya baik, Mas." Suara Zahra terdengar bergetar. Arga pun memeluk Zahra untuk menenangkan gadis itu.


"Ehem! Sepertinya aku masih di sini." Pandu menyindir. Zahra hendak melepaskan pelukan tersebut karena merasa tidak enak hati, tetapi Arga justru menahannya. Bukannya Arga tidak mau melepaskan, tetapi dia sengaja ingin membuat tensi darah Pandu menjadi naik.


"Jangan sampai kita terlambat, Ga!" ucap Pandu ketus dan penuh kekesalan.


"Maaf, Tuan." Arga pun melerai pelukan itu, lalu kembali melajukan mobilnya. Dia bersorak dalam hati, merasa puas melihat kekesalan Pandu.


Selamat menikmati pembalasanku Tuan Pandu Nugraha Andaksa. Jika selama ini Anda membuat jiwa jomblo saya meronta maka sekarang saya akan membuat jiwamu sebagai pria beristri meraung-raung. Hahahaha


Arga tertawa jahat. "Meraung seperti singa, hhooarrrmmmm."


"Kamu kenapa, Mas?" tanya Zahra mengejutkan Arga.


"Eh!" Arga baru menyadari kalau dirinya sudah keceplosan. "Tidak papa," imbuhnya.


"Dasar calon suamiku sangat aneh!" gerutu Zahra. Namun, gadis itu langsung menutup mulut saat menyadari tatapan Arga kepadanya begitu tajam. Sementara Pandu berpura-pura fokus pada layar ponsel.


••••••


Selamat siang guys, maaf nih othor ketelat banget kayaknya.


Othor selalu usahain buat update tiap hari ya guys, kalau Othor enggak update berarti dunia nyata sedang sibuk-sibuknya. Terima kasih buat kesetiaan kalian 😘😘😘


Nih, Othor kasih rujak buat penambah stamina

__ADS_1



__ADS_2