
Mobil milik Gatra baru saja sampai di pelataran kontrakan setelah acara pernikahan Zahra usai. ketika dalam perjalanan tadi, hanya keheningan yang tercipta di dalam sana. Zety kecewa pada lelaki yang saat ini sedang duduk di balik setir kemudi.
Zety pikir, Gatra akan bergabung bersama dirinya dan yang lain sebagai pasangan Zety di pesta itu, tetapi nyatanya tidak. Gatra justru menjauh dan hanya duduk di sudut ruangan. Zety tahu dengan pasti apa alasan Gatra memilih menjauh, pasti karena ada Rasya di sana.
"Sedalam itukah perasaanmu untuk Rasya, dan sesulit itukah kamu move-on dari dia," batin Zety. Mendes*hkan napasnya ke udara. Gatra yang mendengar itu pun menoleh ke arah Zety sesaat.
"Kamu kenapa? Kita sudah sampai." Gatra berbicara datar. Bahkan, raut wajah lelaki itu terlihat susah dijelaskan.
"Tidak papa, Mas. Terima kasih atas tumpangannya. Kalau begitu aku turun dulu." Zety hendak turun dari mobil, tetapi Gatra menahan tangan gadis itu. Zety menatap tangan Gatra, lalu menatap lelaki itu penuh tanya. "Kenapa, Mas?"
"Maaf untuk tadi di pesta, aku justru menjauh—"
"Kamu tenang saja, Mas. Aku justru berterima kasih karena kamu sudah berkenan datang ke pesta pernikahan Zaenab. Kalau begitu aku turun dulu, Mas. Aku mau istirahat," ujar Zety.
Gatra pun terpaksa menurunkan tangannya dan membiarkan Zety turun dari mobil. Zety melambai lalu berpamitan masuk, tak lupa dia mengucapkan hati-hati kepada Gatra.
__ADS_1
Sementara Gatra hanya diam dan menatap kepergian Zety. Setelah gadis itu masuk ke rumah, tanpa menunggu lama Gatra segera melajukan mobil tersebut pergi dari sana. Gatra tidak tahu kalau diam-diam Zety mengintip dari balik tirai.
"Hah! Mungkinkah aku harus menyerah mencari perhatianmu, Mas." Zety bergumam lirih. Lalu berbalik saat bayangan mobil Gatra benar-benar sudah tidak terlihat. Zety pun hendak kembali ke kamar, tetapi dia dikejutkan oleh Margaretha yang sedang berdiri tegak dengan kedua tangan bersidekap.
"Astaga, Mar. Elu bikin gue kaget." Zety mengusap dada yang berdebar kencang.
"Habisnya elu ngintip gitu, awas loh bintitan." Margaretha menunjuk kedua mata Zety untuk menakuti.
"Jangan gitu, Mar. Ingat, sekarang kita cuman berdua di kontrakan ini." Zety mengingatkan.
"Gue bentar lagi mau ama siapa? Hilal jodoh gue aja belum kelihatan," dengkus Zety.
"Lah, yang tadi nganterin elu, noh!" Margaretha mengangkat sedikit dagunya seolah sedang menunjuk sesuatu.
"Udah, Mar. Jangan bahas itu daripada mood gue ancur." Zety hendak berjalan ke kamar, tetapi Margaretha menahan langkah gadis itu.
__ADS_1
"Elu harus baik-baik sama gue. Ingat, Suk, tinggal kita berdua di sini. Huaaaa." Margaretha berpura-pura menangis. "Kapan hilal jodoh gue kelihatan, Suk."
"Enggak usah lebay deh, lu! Noh, ada Andra yang siap buat elu bahagia," ledek Zety. Margaretha berkacak pinggang.
"Elu kalau ngomong yang bener aja, Suk! Demi apa gue dijodohin sama Andra? Laki-laki judes gitu. Demi apa, Suk? Demi apa!"
"Demikian dan terima kasih," sahut Zety asal. Gadis itu mencebik saat Margaretha menonyor kepalanya.
"Astaga, sakit, Mar." Zety merengek manja.
"Astaga, sakit, Mar." Margaretha menirukan ucapan Zety. "Lebay amat, lu! Mending gue tidur." Margaretha memilih pergi dan langsung disusul oleh Zety. Dua gadis itu pun kembali bercanda bersama.
Mereka tinggal menunggu waktu Othor Kalem Fenomenal memberi jodoh 😂😂😂
_TAMAT_
__ADS_1