
Arga mengedarkan pandangan untuk mencari di tempat mana ketiga gadis somplak tadi duduk. Arga mendengkus kasar saat melihat mereka duduk di pojokan. Pandangan Arga menyapu sekitar melihat orang-orang yang sedang sibuk melahap bakso. Awalnya Arga ragu, tetapi melihat betapa lahapnya orang-orang tadi, Arga pun akhirnya bergabung.
"Duduk depan sini saja, Tuan." Zety mengarahkan Arga supaya duduk di depan mereka.
Arga pun hanya menurut. Dia menoleh ke pintu masuk dan menggeram kesal karena Dani belum juga menyusulnya. Dengan gerakan kasar, Arga merogoh ponsel dari saku celana lalu memanggil nama Dani di kontak.
"Kenapa kamu belum masuk?" tanya Arga ketus.
"Memangnya saya juga ikut masuk, Bos?" Dani justru bertanya balik. Membuat Arga makin kesal rasanya.
"Satu menit! Satu menit kamu tidak ke sini, aku benar-benar akan memotong gajimu!" Arga mematikan panggilan tersebut secara sepihak dan kembali memasukkan ponselnya.
Sepertinya ancaman Arga sangat manjur, baru beberapa detik berlalu, bibir Arga tersenyum sinis saat melihat Dani yang sedang berlari mendekat. Napas Dani terdengar memburu karena mengerahkan semua tenaga untuk berlari.
"Duduklah," suruh Arga. Dani pun duduk di samping Arga.
"Terima kasih banyak, Bos." Dani berbicara sopan meski dalam hati mengumpati Arga.
"Kalian sudah pesan?" tanya Arga.
__ADS_1
"Sudah, Tuan."
Baru saja Zahra selesai menjawab, penjual bakso tersebut datang dengan membawa sebuah nampan yang berisi satu bakso berukuran besar. Tiga gadis itu bersorak kegirangan bahkan air liur mereka rasanya hendak menetes, sedangkan Arga dan Dani hanya terdiam melihat bakso sebesar itu.
"Kalian yakin ini akan habis?" tanya Arga.
"Anda tenang saja, Tuan. Kita pasti bisa menghabiskannya," jawab Zahra yakin.
Mereka pun kembali diam saat penjual tadi berganti memberikan mangkok kosong juga sebuah mangkok berukuran sedang berisi kuah bakso. Yang terakhir, lima gelas es teh yang tersaji di depan mereka.
"Apa tidak ada minuman lain selain es teh?" Arga menatap gelas di depannya.
"Tidak usah. Ini saja."
"Baiklah. Zae ... cepetan kamu yang potong, gih." Margaretha menyenggol lengan Zahra karena dia sudah tidak sabar ingin memakan bakso tersebut.
"Kamu yang videoin." Zahra menyerahkan ponselnya kepada Zety.
"Buat apa di video segala?" tanya Arga, tetapi dia tidak mengharapkan jawaban yang sudah pasti membuat dia menggeleng.
__ADS_1
"Buat dokumentasi, Tuan." Zahra menjawab asal. Dia terlihat sibuk berpose, sedangkan Zety mengarahkan kameranya untuk merekam Zahra yang sedang memotong bakso tersebut.
Air liur mereka makin terasa menetes saat bakso mulai terbelah dan keluarlah sambal cabai setan bersama dengan bakso kecil-kecil yang sangat banyak juga tetelan daging sapi.
"Edan, gue beneran enggak sabar pengen makan, Zae." Margaretha melihat bakso itu dengan mupeng—muka pengen.
"Gue juga. Nikmat banget kelihatannya." Zety pun ikut menambahkan.
"Kalau si Kurap lihat video kita, gue jamin dia bakalan ngiler dan langsung minta ke sini," ujar Zahra, tetapi dia langsung diam saat melihat tatapan Arga yang menajam.
"Jangan macam-macam. Kalau sampai Nona Muda Rasya minta makan seperti ini, aku yakin kalau kalian bakalan dikirim ke tempat yang paling terisolasi oleh Tuan Pandu. Kalian mau?" tanya Arga menakuti. Ketiga gadis itu pun menggeleng cepat.
"Tuan, bolehkah saya bertanya satu hal?" Zahra sedikit menunduk.
"Apa?"
"Tempat terisolasi itu di mana? Apakah tempat itu penuh dengan isolasi? Atau tempat yang memproduksi isolasi?" tanya Zahra ragu.
"Astaga." Arga mengusap wajah kasar.
__ADS_1
"Beg* banget elu, Zae!" Zety dan Margaretha menonyor kepala Zahra dari sisi kiri dan kanan.