Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
17


__ADS_3

Rasya berusaha sedikit menjauh dari Pandu, tetapi lelaki itu justru membalik tubuh Rasya lalu mengangkat dan mendudukkan Rasya di atas meja. Tubuh Pandu masuk ke sela kedua kaki Rasya, sedangkan tangannya memegang kedua pinggang wanita itu.


"Mas, aku mau minum susu." Rasya setengah merengek.


"Aku juga mau minum susu," timpal Pandu. Tangannya beralih merem*s bukit kenyal Rasya yang membesar sejak mulai hamil. Rasya mendes*h apalagi saat Pandu menciumi leher jenjangnya.


"Astaga."


Pandu dan Rasya menoleh ke arah pintu dan melihat Arga yang sedang membungkuk untuk mengambil botol mineral yang terjatuh. Rasya mendorong tubuh Pandu supaya menyingkir, sedangkan Pandu mengumpati asistennya itu dalam hati.


"Maaf, Tuan dan Nyonya, saya mengganggu kalian." Arga merasa tidak enak hati. Dia hendak pergi, tetapi Pandu justru menahannya.


Arga berbalik dan mendekati Pandu. Dari sorot mata Pandu, Arga yakin kalau lelaki itu sedang sangat kesal padanya sekarang. Pandu tersenyum licik dan memberi hukumam kepada Arga yaitu membeli martabak sesuai keinginan Rasya. Namun, Rasya justru memaksa meminta ikut. Pandu melarang keras, tetapi Rasya justru menangis.


"Baiklah. Kita akan pergi bertiga." Pandu akhirnya mengalah.

__ADS_1


Mereka bertiga pun pergi mencari martabak spesial sesuai keinginan Rasya. Hampir lima belas menit perjalanan, Arga menghentikan mobilnya di depan penjual martabak, lalu turun dari mobil dan memesan makanan itu untuk nona mudanya.


Tiba-tiba, mobil hitam yang tidak asing di penglihatan Arga, berhenti tepat di belakang mobil Pandu. Tatapan Arga begitu lekat dan tidak terlepas sama sekali. Arga merasa penasaran, siapakah yang keluar dari mobil tersebut.


Tangan Arga terkepal erat bahkan rahangnya mengetat ketika melihat Yudha turun bersama seorang wanita yang merupakan salah seorang karyawan di kantornya. Yudha ingat, kedua orang itu berada dalam satu divisi yang sama. Arga berpura-pura tidak melihat saat mereka berjalan mendekat.


"Loh, Tuan Arga?" sapa wanita yang bersama Yudha.


"Iya." Arga menjawab singkat. Ekor matanya melirik Yudha yang tampak cemas.


"Beli martabak juga?" tanya Sonia—wanita tadi.


"Saya hanya bertanya, Tuan. Kenapa Anda selalu sewot." Sonia menunjukkan sikap gemasnya untuk menarik perhatian Arga, tetapi lelaki itu sama sekali tidak tergoda.


"Sudahlah, lebih baik kamu duduk di sana dan aku akan memesankan martabak untukmu." Yudha berusaha mengalihkan perhatian Sonia.

__ADS_1


Sonia menurut dan duduk di kursi plastik yang tersedia di sana, sedangkan Yudha kembali mendekati penjual dan memesan satu bok martabak asin. Arga hanya melirik Yudha sekilas.


Arga meraih pesanan yang sudah jadi dan hendak bergegas pergi, tetapi Yudha tiba-tiba memanggil dan menghentikan langkah Arga.


"Tuan, tunggu sebentar." Jarak mereka begitu dekat. Yudha dan Arga saling melempar tatapan tajam.


"Ada apa? Sepertinya aku tidak memiliki urusan apa pun denganmu?" tanya Arga. Raut wajahnya tampak datar tanpa ekspresi.


"Tuan, bisakah Anda bersikap lembut kepada wanita?"


"Kamu pikir, kamu ini siapa? Berani sekali mengaturku!" Arga menatap Yudha tajam. Sorot matanya menyiratkan sebuah kebencian.


"Tuan, saya hanya—"


"Kamu harus sadar, siapa aku dan siapa kamu. Aku tidak peduli kamu akan jalan dengan siapa saja. Tapi jika sedang berada di kantor, kuharap kamu bisa bersikap profesional sebagai seorang karyawan!" tegas Arga. Dia hendak berlalu pergi, tetapi Yudha lagi-lagi memanggilnya.

__ADS_1


"Tuan, bisakah saya minta tolong kepada Anda untuk tidak mengatakan pada Zahra kalau saya dekat dengan Sonia?"


Sebuah permintaan Yudha yang mampu membuat hati Arga bergemuruh hebat.


__ADS_2