
"Sudah, Ras, jangan membuat calon anak menantuku takut." Ucapan Melda melerai pelukan kedua wanita itu.
Zahra makin merasa canggung, apalagi saat dia menyadari kalau tatapan Laras sama sekali tidak terlepas dari dirinya. Menyadari Zahra yang mulai merasa tidak nyaman, Lisa pun segera mengajak mereka untuk ke ruangan Pandu. Bahkan, ketika berjalan pergi, Laras masih sesekali menoleh untuk melihat Zahra yang saat ini mulai bekerja kembali.
"Lis, Mel, kenapa hatiku sangat yakin kalau Zahra adalah putriku?" Lisa menyentuh dada. Meskipun hatinya tidak lagi berdebar-debar, tetapi dia masih bisa merasakan debaran itu saat memeluk Zahra tadi.
"Semoga saja Zahra memang benar-benar putrimu, Ras." Melda mengusap punggung Laras. Dalam hati, Melda juga sangat berharap.
"Aku tidak sabar lagi ingin segera mendapatkan hasil tes DNA itu." Laras berkata lemah. Dia bersandar di sofa dan mengembuskan napas berkali-kali.
"Besok saat hasilnya sudah keluar semoga saja sesuai dengan apa yang kita harapkan," ucap Lisa. Dia memeluk Laras, dan disusul oleh Melda. Ketiga wanita itu pun berpelukan erat.
"Mommy, lagi apa?" tanya Pandu yang baru masuk ke ruangan bersama Arga setelah selesai rapat.
__ADS_1
"Kamu sudah selesai rapat?" tanya Lisa balik tanpa menjawab pertanyaan Pandu.
"Baru saja. Rasya tidak ikut?" Pandu menatap sekitar barangkali istrinya sedang berada di toilet yang terletak di sudut ruangan.
Lisa menggeleng cepat, "Tidak. Tadi Mommy tidak mampir ke rumahmu. Lagian, kasihan Rasya kalau harus bolak-balik ke kantor," tutur Lisa. Pandu hanya mengangguk lalu duduk di kursi kebesarannya. Dia membiarkan ketiga wanita itu mengoceh di dalam ruangan.
Banyak hal yang diobrolkan oleh wanita itu, entah hal apa pun bahkan sampai membuat Pandu merasa malas. Hampir dua jam mereka mengobrol, akhirnya Lisa mengajak Laras dan Melda untuk jalan-jalan. Wanita itu sudah mulai merasa suntuk, dan ketika pintu ruangan sudah tertutup, Pandu mengembuskan napas lega.
***
Jam kantor baru saja usai, tetapi Zahra tidak langsung pulang ke kontrakan. Setelah tadi pagi membobol celengan ayam di rumah, Zahra membawa uang pecahan dua ribu dan lima ribuan itu ke restoran di mana Arga kemarin melamarnya.
Zahra berniat membelikan daging steak untuk anak panti dengan uang celengan dan sisa gaji bulan ini. Zahra melihat tabel harga lalu menghitung dengan teliti.
__ADS_1
"Mau pesan berapa, Nona?" tanya seorang pegawai di restoran itu.
"Mbak, saya mau lima porsi, tapi dengan uang receh seperti ini apakah boleh?" Zahra tidak merasa malu, tetapi dia hanya merasa khawatir akan ditolak. Zahra pikir, restoran besar seperti itu hanya menerima lembaran yang seratus dan lima puluh ribuan saja. "Boleh saja, Mbak, asal uangnya genap." Pegawai itu menjawab sopan.
"Terima kasih banyak, Mbak, kalau begitu saya mau hitung uangnya dulu sambil menunggu steaknya jadi." Zahra dengan antusias duduk di meja paling ujung dan mulai menghitung uang tersebut. Zahra sangat berharap semoga uang itu cukup.
"Bukankah itu nona muda yang dilamar oleh asisten pribadi pemilik perusahaan ADS Group?" tanya salah seorang pegawai yang lain.
"Ah, iya. Aku baru ingat, pantas saja wajahnya tidak asing." Pegawai yang tadi melayani Zahra ikut menimpali.
"Apa yang kalian bicarakan?"
Kedua pegawai restoran tersebut terkejut saat melihat siapa mengganggu obrolan mereka.
__ADS_1