
"Zaenab udah tidur, Ra. Gimana kabar elu? Kata anak buah Tuan Pandu, elu lagi di rumah sakit."
"Iya, Ra. Kenapa elu bisa masuk rumah sakit? Jaga diri elu baik-baik, Ra." Margaretha menyambung ucapan Zety.
Rasya tersenyum mendengar dan melihat betapa khawatirnya kedua sahabatnya. Sejak dulu, jika ada salah satu di antara mereka yang sakit, pasti yang lain akan berubah seperti seorang ibu yang mengkhawatirkan anak-anaknya.
"Gue enggak papa. Gue cuman kecapekan gegara banyak tetangga yang datang ke rumah," sahut Rasya.
"Emang ada acara apa sampai tetangga elu pada ke rumah semua?" tanya Margaretha heran.
"Enggak papa. Biasalah, di kampung kalau ada orang pulang dari luar kota ya mereka ke rumah meski cuma sekedar tanya-tanya. Apalagi kalian tahulah, gue pulang sama siapa," terang Rasya.
"Eh iya, kita lupa." Zety dan Margaretha menjawab bersamaan.
__ADS_1
"Gue tahu, kalian berdua 'kan sering pikun. Bukan berdua, tapi bertiga sama Zaenab," seloroh Rasya diiringi kekehan.
"Oe! Bukan bertiga, tapi berempat sama elu!" timpal Zety, membuat gelakan tawa Rasya terdengar mengeras.
"Kalian tahu enggak sih, gue pengen banget ngumpul berempat kaya dulu lagi. Kangen keseruan bareng kalian." Rasya berbicara dengan antusias. "Terutama gue kangen pengen makan seblak bareng terus makan bakmi jawa buatan Zaenab." Rasya menelan ludah saat membayangkan makanan tersebut.
"Ra ...." Zety diam. Dia begitu ragu untuk melanjutkan ucapannya. Rasya pun terlihat menatap penuh ke layar.
"Apa, Suk? Kenapa diem?" tanya Rasya penasaran.
Zahra yang masih bergeming di tempatnya hanya bisa terdiam dan menunggu jawaban Rasya. Zahra makin menempelkan telinga di tembok untuk mendengar obrolan mereka lebih jelas lagi.
"Gue enggak pernah marah sama dia, Suk, Mar. Gue cuma cukup kecewa aja sama dia, tapi sekarang gue ngerasa kangen banget. Kalau deket aja udah gue peluk kalian bertiga."
__ADS_1
"Tapi, Ra ... bukannya Zahra udah terlalu nyakitin bahkan hampir bikin elu keguguran."
"Enggak. Semua bukan salah Zaenab, tapi gue yang terlalu ikut campur sama urusan dia. Gue sadar, seberapa dekat hubungan kita, enggak seharusnya gue terlalu ngatur kalian mau berhubungan sama siapa. Apalagi, Zaenab sayang banget sama Mas Yudha."
"Ra, asal elu tahu, Zaenab habis lihat Mas Yudha bercinta sama temen kerjanya di mobil. Bahkan, ternyata itu bukan pertama kalinya buat dua orang sialan itu!" Zety menggeram marah saat teringat semuanya. Rasya terlihat terkejut saat mendengarnya.
"Kenapa elu nangis, Ra?" tanya Margaretha saat melihat Rasya mengusap kedua sudut matanya.
"Gue cuma kebayang aja gimana sakitnya hati Zaenab. Pasti dia sedang sangat terluka saat ini. Kalian jangan tinggalin dia." Suara Rasya mulai terdengar parau. Zety dan Margaretha hanya mengangguk mengiyakan.
Zahra yang mendengar itu pun hanya berdiri bersandar tembok. Air matanya mengalir tanpa sadar dan dengan segera Zahra mengusapnya. Zahra tidak menyangka kalau Rasya masih sepeduli itu padanya meskipun dirinya sudah sangat keterlaluan menyakiti hati Rasya.
Zahra pikir Rasya masih marah bahkan tidak mau bersahabat lagi dengannya, tetapi ternyata semua prasangkanya salah. Rasya justru masih sangat memedulikan dirinya. Zahra akhirnya masuk ke kamar karena tak kuasa lagi mendengar itu. Yang ada rasa sesal makin memenuhi seluruh relung hatinya. Sementara itu, Zety, Margaretha, dan Rasya pun kembali mengobrol.
__ADS_1
Namun, obrolan mereka terhenti saat Rasya berbisik kalau suaminya sudah masuk kembali ke ruangan. Wajah Zety dan Margaretha mendadak tegang. Khawatir Pandu akan marah-marah. Ingin sekali mematikan panggilan tersebut, tetapi Rasya memberi kode untuk tidak mematikannya.
"Kamu telepon sama siapa?" Terlihat wajah Pandu mengintip layar.