Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
79


__ADS_3

"Apa kalian membicarakanku?" Suara Arga terdengar penuh penekanan dan itu mampu membuat kedua wanita tadi gemetar. Tidak mendapat jawaban, membuat Arga makin merasa yakin kalau dia sedang menjadi bahan ghibah.


"Ma-maaf, Tuan. Saya hanya melihat wanita yang tadi memesan lima steak di ujung sana. Wanita itu mirip sekali dengan tunangan Anda," ucap pegawai itu gugup.


Arga segera menggerakkan leher, menoleh ke arah Zahra yang masih terlihat sibuk menghitung uang. Arga benar-benar tersentak dengan keberadaan Zahra di sana. Lelaki itu hendak mendekat, tetapi langkahnya tiba-tiba terhenti saat dia memiliki sebuah ide.


"Dia memesan berapa?" tanya Arga. Kembali berdiri di depan dua pegawai tadi.


"Lima, Tuan. Tapi wanita itu hendak membayar dengan uang recehan," jelas pegawai itu dengan sopan.


"Kalau begitu, biar aku yang membayarnya. Tapi kalian jangan bilang kalau aku yang membayar itu. Katakan saja, steak itu gratis untuk dia." Arga mengeluarkan kartu debit, lalu mengesek dan menekan jumlah uang sesuai dengan harga lima steak. Setelahnya, Arga duduk tidak jauh dari meja kasir untuk mengawasi Zahra.

__ADS_1


Sebenarnya, kedatangan Arga ke restoran itu untuk membeli steak pesanan sang mama. Namun, dia tidak menyangka justru bertemu Zahra yang sedang menghitung uang recehan. Arga yakin, kalau Zahra pasti membobol uang celengan seperti saat membeli bakso kala itu.


Merasa sudah cukup, Zahra segera menuju ke kasir saat pegawai tadi mengatakan kalau pesanannya sudah siap. Arga menutup wajahnya dengan buku menu supaya tidak ketahuan Zahra. Persis seperti detektif atau mata-mata di acara televisi.


"Berapa semuanya, Mbak?" Zahra menggenggam erat uang yang dihitung tadi. Dalam hati, Zahra berharap semoga uang tersebut cukup untuk membayar pesanannya.


"Silakan dibawa saja, Nona. Ini gratis untuk Anda."


"Iya, Nona. Steak ini gratis untuk Anda, dan selamat menikmati." Penjaga kasir tersebut, tersenyum simpul ke arah Zahra.


"Tapi kenapa gratis, Mbak?" Zahra masih belum percaya.

__ADS_1


"Saya kurang tahu, Nona. Hanya pemilik restoran ini tadi berbicara seperti itu. Berikan gratis kepada salah seorang yang beruntung, dan sepertinya orang tersebut adalah Anda," tutur pegawai tadi, tenang.


"Bolehkah saya bertemu dengan pemilik restoran ini untuk mengucapkan terima kasih?" pinta Zahra.


"Beliau baru saja pergi, Nona."


Zahra mendes*h kasar saat mendengar jawaban pegawai tadi. Dia pun segera berpamitan pergi. Namun, Zahra bertekad suatu saat akan menemui pemilik restoran tersebut untuk mengucapkan terima kasih.


Zahra segera melajukan motornya menuju ke panti. Bibirnya terus saja tersenyum sembari mengusap steak yang berada di cantelan motor. Rasanya, Zahra sudah tidak sabar ingin segera memberikan steak tersebut kepada anak-anak panti. Zahra tidak mengetahui kalau diam-diam, Arga mengekor di belakang.


Ketika motor Zahra baru memasuki halaman panti asuhan, Arga yang masih duduk di dalam mobil bisa melihat saat anak-anak kurang beruntung itu berlari menghambur ke arah Zahra. Bahkan, Arga bisa melihat saat Zahra dengan antusias menunjukkan steak kepada anak-anak.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka kalau kamu sebaik itu, Za. Aku memang tidak pernah salah memilihmu untuk menjadi pasangan hidupku." Arga hendak pergi dari panti asuhan itu. Namun, Arga langsung bergeming saat melihat sebuah mobil yang tidak asing berhenti di sampingnya.


__ADS_2