Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
54


__ADS_3

Setelah tragedi ganjal-menggajal tersebut, Zahra dan Arga menjadi canggung. Zahra merasa malu, sedangkan Arga justru masih terlihat kesal. Bahkan, terlihat jelas kalau Arga menjaga jarak dari gadis ceroboh itu. Setelah puas berjalan-jalan, mereka duduk di tepi lapangan kampung tersebut.


"Ra, besok gue mau balik ke kota, deh." Zety berbicara dengan berat hati.


"Kenapa cepat sekali, Suk?" tanya Rasya sedikit kecewa. Dia merasa belum puas bersama sahabatnya.


"Gue harus kerja, Ra. Gue cuman izin tiga hari sama Mas Gatra. Gue enggak mau kalau dipecat nantinya," terang Zety.


"Enggak mungkin, Suk. Yang gue tahu Mas Gatra itu orangnya baik banget, enggak asal mecat orang cuman karena sering libur," puji Rasya. Membuat hati Pandu memanas rasanya. Pandu memalingkan wajah supaya Rasya tidak mengetahui kalau dia sedang cemburu saat ini.


"Tapi gue tetep kagak enak, Ra. Nanti kapan-kapan gue ke sini lagi," ucap Zety.


"Emang elu kagak pengen balik ke kota, Ra?" tanya Margaretha ikut nimbrung.


"Di kampung aja, Ra." Zahra menghirup napas dalam, merasakan udara pagi yang masih menyehatkan. "Sangat sejuk, dan ahhh—" Belum juga selesai berbicara, Zahra sudah mengaduh saat sahabatnya menonyor kepalanya. "Kalian jahat banget, sih!"


"Ahh-nya biasa aja kali, jangan bikin perjaka-perjaka di sini gelisah." Zety mencebik.

__ADS_1


"Ahhh, aahhh, aahhh." Zahra justru makin menggoda diselingi gelakan tawa. Namun, tawanya meredam seketika saat melihat sorot mata Arga yang menajam ke arahnya. Bahkan, tatapan Arga seperti singa lapar yang melihat dan bersiap menerkam mangsanya.


"Ada-ada aja elu, Zae. Ntar kalau elu udah nikah, gue jamin malam pertama elu bakal kelojotan," tutur Rasya diselingi kekehan.


"Emang sakit banget, Ra?" tanya Zahra penasaran.


"Sakit-lah! Sakit banget malahan." Rasya berbicara yakin.


"Gue jadi takut." Margaretha merinding.


"Jangan takut, sakit pas awal doang, ntar kalau udah tahu rasanya juga kalian bakal minta nambah. Nikmatnya bikin candu." Rasya mengompori sahabatnya.


"Kagak jelas gimana? Beneran awalnya sakit, tapi setelah itu enak. Enak banget malahan dan kalau udah ngerasain malam pertama, kalian bakal nyesel karena baru nikah." Rasya menahan tawa melihat raut wajah para sahabatnya.


"Emang kenapa mesti nyesel?" tanya Zety dengan bodohnya.


"Karena malam pertama itu bukan cuma enak, tapi enak banget tauuuuu. Hahaha." Rasya terbahak setelah berbicara menirukan salah satu iklan di televisi. Ketiga sahabat Rasya merasa makin kesal dengan sahabatnya yang terkadang otaknya kurang tersebut.

__ADS_1


Namun, tawa Rasya berhenti mendadak saat Pandu sudah mendaratkan ciuman hampir di seluruh wajah Rasya. "Kamu enggak malu, Mas?"


"Kenapa mesti malu? Kita ini suami-istri sah," ucap Pandu. "Kamu ini lagi hamil, harusnya bisa menjaga sikap dan ucapan kamu. Memang kamu lupa pesan dari bapak dan ibu?" imbuhnya.


Sejak kehamilan Rasya, Pandu selalu berusaha bersikap dan berbicara lembut karena tidak mau membuat Rasya menangis. Efek dari kehamilan yang sedang dialami Rasya adalah wanita itu sering sensitif dan Pandu harus pintar-pintar menjaga sikap.


"Baiklah, maafkan aku, Mas." Rasya hendak mencium pipi Pandu, tetapi gerakan tubuhnya terhenti saat melihat Zahra yang terlihat sedang sibuk bermain jarinya.


"Elu lagi ngapain, Zae?" tanya Rasya, keningnya terlihat mengerut.


"Ha?" Zahra mengalihkan pandangannya ke arah Rasya. "Gue cuma lagi memperkirakan."


"Memperkirakan apa?" tanya Zety dan Margaretha bersamaan.


"Punya cewek 'kan segini." Zety menekuk jari telunjuk kiri hingga membuat bulatan yang sangat kecil bahkan hampir rapat. "Terus punya cowok 'kan kira-kira segini sesuai yang gue sentuh tadi." Zahra beralih membuat bulatan besar.


"Terus?" Ketiga sahabat Zahra bertanya bersamaan.

__ADS_1


"Terus nabrak!" jawab Zahra asal.


__ADS_2