Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
42


__ADS_3

"E-elu udah pulang, Zae?" tanya Zety. Dia bangkit berdiri bersamaan dengan Margaretha.


"Udahlah! Elu 'kan lihat sendiri gue udah di rumah, Suk," sahut Zahra.


"Astaga, elu galak amat jadi anak perawan. Kalau perawan elu ilang jangan nangis. Sakit, woe!" Zety mengaduh saat Zahra dan Margaretha menonyor kepala Zety secara bersamaan.


"Kalau ngomong jangan asal njeplak aja elu, Suk. Gue itu lagi sedih, jadi jangan bikin mood gue anjlok!" Zahra berlalu ke ruang televisi dan diikuti oleh kedua sahabatnya.


"Sedih kenapa, Zae?" tanya Margaretha saat mereka sudah merebahkan diri di kasur yang berada di depan televisi.


Zahra awalnya ragu, tetapi pada akhirnya dia menceritakan semuanya. Tentang pertemuan dengan Yudha dan bagaimana mereka berdua saling mengungkapkan perasaan, tetapi Yudha memilih pergi. Zety dan Margaretha tidak percaya dengan itu, tetapi mendengar ucapan Zahra juga raut wajah gadis itu, Zety dan Margaretha akhirnya percaya.


"Udahlah, Zae. Mungkin emang Mas Yudha bukan jodoh elu." Margaretha menepuk punggung Zahra dengan perlahan. Embusan napas kasar terdengar keluar dari mulut Zahra.


"Entahlah. Gue juga bingung. Di satu sisi gue bahagia, tapi di sisi lain gue sangat terluka." Suara Zahra terdengar berat.

__ADS_1


"Mending gini aja, Zae. Sekarang elu tidur. Tenangin diri elu. Besok siang kita bakal melakukan perjalanan jauh." Zety berbicara dengan antusias. Zahra menatap sahabatnya itu penuh selidik.


"Maksudnya?" tanya Zahra belum paham.


"Jadi gini, besok siang kita bakal ngejenguk Rasya di kampung. Emang elu enggak kangen sama tu bocah sableng?" Zety berbicara dengan sangat antusias. Namun, senyum Zety yang barusan mengembang langsung memudar seketika saat melihat Zahra yang justru menggeleng lemah.


"Elu enggak kangen sama Kurap?" Margaretha memastikan.


"Kangen banget, tapi gue takut kehadiran gue bakal ditolak apalagi sama Tuan Pandu," ujar Zahra lesu. Dia duduk bersandar sofa dan mengusap wajahnya perlahan.


"Bener banget, kalau dia masih ngambek, bikinin aja bakmi jawa. Kayaknya sejak bunting dia suka bakmi jawa buatan elu, Zae." Margaretha menambahkan.


Zahra pun hanya diam dan memikirkan. Beberapa detik selanjutnya gadis itu mengangguk mengiyakan. Zety dan Margaretha pun bersorak kegirangan. Pada akhirnya, malam ini mereka tidur bersama dalam satu kasur.


Namun, sampai pukul satu malam, Zahra belum bisa tertidur sama sekali. Bayangan Yudha terus saja menari dalam benak bersamaan dengan bayangan Arga. Zahra sudah berusaha keras untuk mengusir, tetapi tetap saja, bayangan dua lelaki itu terus menggoda. Bahkan, membuat Zahra bisa tertidur saat jam sudah menunjuk pukul tiga pagi.

__ADS_1


***


Keesokan paginya


"Zae, Mar, kalian mau bawa baju ganti berapa?" tanya Zety. Dia sibuk menata baju, sedangkan kedua sahabatnya masih asyik bergelung di bawah selimut.


"Jangan banyak-banyak, Suk. Kita itu mau ngejenguk Rasya, bukan mau pindahan," sahut Margaretha. Suaranya terdengar serak khas orang bangun tidur.


"Ya, ya, ya. Kita bawa tiga aja, kalau di sana hujan tiap hari, terus baju kita enggak kering, kalian mau pakai baju apa? Daun pisang?" Zety mendengkus kasar.


"Ish! Napa ribet banget, sih, Suk. Kita beli lah. Udah seperti orang miskin aja elu," hina Margaretha. "Heh! Apa ini!" ucapnya saat Zety melempar sesuatu dan tepat mengenai wajahnya.


"Celana dal*m gue!" sahut Zety ketus.


"Astaga! Suketiii!! Elu jahat banget." Margaretha melempar kembali barang tersebut. Zety hanya tergelak keras.

__ADS_1


__ADS_2