
"Kamu baru sampai, Ga?" tanya Gerry, yang baru saja dari dapur dan hendak menuju ke kamar.
"Iya, Pa." Arga menjawab santai. "Kenapa Papa belum tidur?"
"Papa habis minum dulu. Sana istirahatlah, Ga. Bukankah besok kamu harus bekerja," suruh Gerry. Arga mengangguk cepat.
"Pa ...." Panggilan Arga menghentikan langkah Gerry yang hendak kembali ke kamar. Arga terdiam sesaat dan menatap Gerry yang baru saja berbalik. "Apa menurut Papa, Zahra adalah anak Tante Laras?"
Gerry sedikit tersentak dengan pertanyaan putranya. Mungkinkah Arga juga curiga dengan semua itu, batin Gerry menerka-nerka. "Papa tidak tahu, Ga." Gerry mengendikkan kedua bahu secara bersamaan.
"Pa, kalau Tante Laras dan Om Setya sampai di sini, maukah mereka melakukan tes DNA?" tanya Arga penuh harap.
"Ga, kalau mereka pasti bersedia, tapi bagaimana dengan Zahra? Apa dia setuju?" Gerry bertanya balik. Lelaki itu pun sudah berencana untuk melakukan tes DNA tersebut, tetapi dia khawatir Zahra akan menolak.
__ADS_1
"Lakukan saja, Pa. Aku sangat berharap memang Zahra adalah putri mereka." Arga berbicara yakin.
"Tapi, Ga ... papa yakin kalau Zahra belum tentu setuju." Gerry mendes*ahkan napasnya secara kasar.
"Aku punya ini, Pa. Ini adalah rambut Zahra yang tadi aku ambil dari panti." Gerry terkejut saat melihat Arga menunjukkan sebuah plastik berisi sehelai rambut. Bahkan, Gerry sampai mencermati dengan seksama rambut tersebut.
"Ini yakin punya Zahra?" tanya Gerry memastikan.
"Kalau begitu biar papa telepon Om Setya. Biar dia besok langsung ke Indonesia, bukan lusa." Gerry sangat bersemangat, begitu juga Arga. Kedua lelaki itu sangat berharap semoga dugaan mereka memanglah benar. Setelahnya, Arga berpamitan ke kamar karena ingin segera beristirahat.
***
Setelah mendapat telepon dari Gerry, dengan bergegas Setya dan Laras memajukan penerbangan mereka. Ada harapan sangat besar dari orang tua yang kehilangan seorang putri. Kalaupun seandainya nanti Zahra bukan putri mereka, tetapi baik Laras maupun Setya bertekad akan mengadopsi Zahra. Menganggap sebagai putri mereka apalagi sebentar lagi Zahra akan menikah dengan Arga.
__ADS_1
Mereka tiba di Indonesia saat matahari hampir tenggelam, dan langsung menuju ke apartemen Arga. Setibanya di apartemen, Setya dan Laras sudah tidak sabar rasanya. Mereka pun langsung bergegas menuju ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA.
Keesokan paginya.
"Ga, maukah kamu mengantar tante bertemu Zahra?" pinta Laras ketika mereka sedang sarapan bersama.
"Datang saja ke kantor, Tante. Zahra bekerja sebagai office girl di ADS Group." Arga menjawab sembari mengunyah makanan.
"Tante malu, Ga. Bukankah kamu tahu kalau tante itu baru saja sampai sini." Laras menghirup napas dalam dan mengembuskan secara kasar. Rasanya dia sudah tidak lagi memiliki kesabaran untuk bertemu Zahra.
"Laras, bagaimana kalau nanti kita ke rumah Lisa dulu, baru setelah itu kita minta antar dia ke kantor. Aku yakin kalau Lisa tidak akan pernah menolak," cetus Melda. Senyum di bibir Laras merekah saat mendengar ide tersebut. Tanpa menunggu lama, Laras langsung mengiyakan.
Seusai sarapan, Laras dan Melda ikut berangkat bersama Arga yang hendak menjemput Pandu. Namun, terlebih dahulu Arga menurunkan dua wanita tersebut di rumah utama Keluarga Andaksa. Kedatangan Laras dan Melda disambut antusias oleh Lisa, dan ketika Laras menyampaikan maksudnya, Lisa pun bergegas bersiap-siap untuk berangkat ke perusahaan.
__ADS_1