
Perusahaan ADS Group
Arga yang sedang sibuk dengan berkas-berkas di atas meja, tiba-tiba mengalihkan pandangan ke arah Pandu yang sedang menerima telepon. Arga merasa penasaran saat melihat raut wajah Pandu yang tampak cemas. Ketika Pandu telah selesai menelepon, dengan segera Arga berjalan mendekat.
"Ada apa, Tuan?" tanya Arga, ikutan cemas.
"Ga, kamu punya nomor Zahra?" Pandu justru melontarkan pertanyaan. Arga hanya mengangguk. "Coba kamu cek GPS ponsel Zahra. Keadaan dia sedang tidak aman sekarang."
"Tidak aman bagaimana, Tuan?" sela Arga. Perasaan lelaki itu mendadak gelisah.
"Tadi Rasya bilang kalau Zahra menelepon dia dan berteriak minta tolong," terang Pandu. Arga mengeluarkan ponsel miliknya lalu mencoba melacak GPS ponsel Zahra. Setelah mendapat apa yang dicari, Arga berpamitan pergi dengan tergesa. Pandu pun ikut karena Rasya sudah memberi pesan supaya Pandu bisa menjaga Zahra. Jika terjadi apa-apa dengan Zahra, Pandu khawatir itu akan kembali berdampak pada kehamilan Rasya.
Begitu mereka sudah masuk ke mobil, dengan kecepatan tinggi Arga melajukan mobilnya membelah jalanan yang cukup lengang. Bahkan, beberapa kali Arga membunyikan klakson saat ada kendaraan yang menghalangi. Pandu yang sudah terbiasa pun hanya bisa menghela napas panjangnya.
__ADS_1
***
Cukup lama tidak berjumpa, membuat Zahra hampir tidak mengenali Yudha. Lelaki itu terlihat sangat berbeda dari terakhir kali mereka bertemu. Tubuh Yudha sudah kering bahkan tulang pipinya tampak jelas. Dari sorot mata Yudha yang penuh khawatir, Zahra bisa menebak kalau lelaki itu sedang tidak baik-baik saja.
"Mas—" Zahra bangkit berdiri dan hendak bergegas mendekati Yudha, tetapi lelaki itu justru melarang.
"Jangan mendekatiku, Ra!" larang Yudha. Membuat hati Zahra sakit rasanya.
"Jangan menjadi sok pahlawan dengan tubuh keringmu itu! Cih!" Lelaki itu meludah sembari menatap mengejek kepada Yudha.
"Jangan menghina karena kalian belum tahu siapa aku! Jangan menjadi seorang pecundang yang hanya berani melawan seorang perempuan!" Yudha balas menghina dan itu mampu menyulut kobaran api amarah dari kedua lelaki tadi.
"Berani sekali kamu menghina kita!" geram salah seorang di antara mereka. Bahkan, mereka mengeluarkan sebilah pisau dari saku dalam jaket.
__ADS_1
"Hentikan, Mas!" Zahra menyuruh Yudha, karena dia khawatir akan terjadi apa-apa dengan kakak angkatnya tersebut. Namun, Yudha justru tidak peduli.
"Aku tidak akan ikut campur urusan kalian selama itu tidak menyangkut orang terdekatku. Asal kalian tahu, gadis ini adalah orang yang paling aku sayang dan aku tidak akan segan-segan membunuh siapa pun yang menyakitinya!" tegas Yudha.
Jantung Zahra berdegup kencang. Rasanya dia tidak percaya dengan apa yang diucapkan Yudha. Ingin sekali Zahra mendekat, tetapi Yudha kembali melarang. Dua anak buah Arga yang bertugas menjaga Yudha pun ikut menyusul.
"Kupikir kamu jagoan, ternyata kamu juga bawa pasukan," ledek mereka. Tidak ada dari mereka yang takut dengan anak buah Arga yang terlihat sangar tersebut.
"Kalian berdirilah di samping Zahra. Pastikan dia tetap baik saja dan tidak ada lecet sedikit pun." Yudha memberi perintah sembari memasang kuda-kuda.
"Tapi bagaimana dengan kamu, Tuan?" tanya anak buah tersebut khawatir.
"Aku akan menjaga diri. Bagiku, Zahra lebih penting. Cepatlah!" Yudha berbicara lebih tegas lagi. Dengan terpaksa kedua orang itu berdiri di samping kanan dan kiri Zahra untuk menjaga gadis itu.
__ADS_1