Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
11


__ADS_3

Walaupun menolak dengan keras, tetapi pada akhirnya Zahra tetap pulang dengan diantar Arga. Selama dalam perjalanan, hanya keheningan yang tercipta di antara mereka. Bahkan, Arga sengaja memperlambat laju motornya supaya lebih lama menikmati waktu bersama gadis itu.


Sementara Zahra yang duduk di belakang, terus menggerutu dalam hati karena merasakan laju motor Arga seperti siput. Padahal, dia ingin segera sampai di rumah dan tidur untuk mengisi tenaga untuk bekerja esok hari. Ketika baru setengah perjalanan, Zahra menajamkan penglihatannya saat melihat sosok yang tidak asing sedang berdiri di tepi jalan. Bahkan, kening Zahra sampai mengerut saat jarak mereka sudah sangat dekat.


"Berhenti, Tuan!" Zahra menepuk pundak Arga, tetapi sesaat kemudian tubuhnya terhuyung karena Arga menarik rem secara mendadak.


"Bisakah kamu tidak mengagetkanku!" omel Arga. Hendak membalik tubuhnya, tetapi Arga mengurungkan saat melihat Zahra yang sudah turun dari motor.


"Tunggu dulu, Tuan."


Arga hanya diam dan mengikuti gerak-gerik tubuh Zahra. Pandangan Arga sama sekali tidak terlepas dari gadis itu. Arga begitu penasaran. Akan tetapi, Arga mendengkus kasar saat melihat lelaki yang tidak asing, berdiri di samping motor dan saat ini sedang mengobrol dengan Zahra.


"Sialan!" umpat Arga. Memukul motornya untuk meluapkan kekesalan saat melihat pemandangan yang mampu membuat hatinya memanas.

__ADS_1


Sementara itu, Zahra sedang mengobrol bersama Yudha. Zahra menanyai lelaki yang sudah menjadi kakak angkatnya itu. Yudha bilang dia sedang menunggu seseorang, dan Zahra sangat penasaran.


"Pulanglah, Ra. Sudah malam. Angin malam tidak baik untukmu."


"Aku akan nemenin di sini sampai temenmu datang, Mas." Dengan santai Zahra justru bersandar di motor milik Yudha.


"Tidak perlu. Kasihan Tuan Arga sudah menunggumu di sana."


"Bentar, Mas. Biar aku suruh Tuan Arga pulang saja."


Ucapan Yudha tercekat di tenggorokan saat Zahra sudah berjalan mendekati Arga. Yudha merasa cemas dan khawatir. Bukan tanpa alasan, Yudha hanya tidak ingin Zahra tahu tentang dirinya. Yudha pun berdiri pasrah dan melihat Zahra yang terlihat sedang berbicara dengan Arga.


Zahra memelas, meminta Arga supaya pulang terlebih dahulu, tetapi Arga justru menolak dengan sangat tegas.

__ADS_1


"Tuan, saya mohon. Nanti biar Mas Yudha yang mengantar saya." Zahra menangkup kedua tangan di depan dada, dan menatap Arga penuh memohon.


"Tidak. Aku tetap akan mengantarmu sampai rumah. Aku tidak mau dipecat karena sudah lalai akan tugas yang diberikan Nona Rasya untuk mengantarmu sampai kontrakan." Arga bersikukuh.


"Tuan. Anda tinggal bilang saja kepada Rasya kalau sudah mengantar saya sampai kontrakan. Saya yakin kalau Rasya tetap akan percaya." Zahra berkata ketus diiringi hembusan napas kasar. Bibirnya cemberut, dan itu mampu membuat Arga tersenyum samar saat melihatnya.


"Tidak. Aku tetap akan mengantar kamu sampai kontrakan meskipun kamu harus membonceng lelaki itu." Keputusan Arga benar-benar tidak bisa diganggu gugat.


"Tapi, Tuan. Saya tidak ingin ada orang lain yang mengganggu kebersamaan saya dengan Mas Yudha." Zahra mulai merengek. Merasa bingung harus bagaimana lagi supaya Arga mau pulang terlebih dahulu.


"Aku tidak akan mengganggumu, aku hanya akan diam dan mengikut di belakang. Memastikan kalau kamu sampai di rumah dengan selamat," ujar Arga. Masih duduk santai di motor.


Kesabaran Zahra seolah menipis. Dia begitu kesal dan geram kepada Arga. Dengan sekuat tenaga Zahra mengarahkan tendangannya ke kaki Arga untuk meluapkan kekesalannya, tetapi dengan gerakan cepat, Arga mengangkat kakinya. Tendangan Zahra meleset dan justru mendarat body samping motor dan gadis itu mengerang kesakitan setelahnya.

__ADS_1


"Nikmat bukan?" Bukannya menolong, Arga justru tergelak melihat Zahra yang sedang mengusap kakinya.


__ADS_2