Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
41


__ADS_3

Dani benar-benar menutup mulut rapat karena tidak tahu harus menjawab yang bagaimana. Sementara Yudha mengambil ponsel dan menatap layarnya yang menunjukkan foto Zahra di sana. Ibu jari Yudha mengusap dengan perlahan. Air matanya hampir saja kembali lolos.


"Aku hanya ingin Zahra hidup bahagia dan aku bisa pergi dengan tenang. Karena dia adalah napasku. Separuh jiwaku, dan ya ... dia adalah segalanya."


Hati Dani rasanya tak karuan. Ada desiran hebat yang dia rasakan setelah mendengar ucapan Yudha. Dani tidak menyangka kalau rasa sayang Yudha kepada Zahra akan sedalam itu.


"Aku punya sesuatu," ujar Yudha. Dani hanya menatap Yudha yang sedang merogoh saku dalam jaket, lalu mengeluarkan sebuah amplop putih dari dalam sana. Yudha pun menyerahkan amplop tersebut kepada Dani.


"Ini apa, Tuan?" tanya Dani, menatap amplop di tangan dan Yudha secara bergantian.


"Surat untuk Zahra. Kamu simpan dulu surat ini dan berikan kepada Zahra setelah aku pergi." Yudha tersenyum getir.


"Tuan ...."


"Sudah, kamu simpan saja. Lebih baik sekarang kita tidur karena aku sudah lelah dan ingin segera beristirahat. Lagi pula, perjalanan masih sangat jauh," suruh Yudha.


Dani pun hanya menurut dan membiarkan Yudha tidur. Dani menatap seluruh wajah Yudha yang tampak berbeda. Namun, setelahnya dia menyimpan amplop tersebut dan akan menjalankan amanah yang diberikan padanya.


***

__ADS_1


"Suk, elu denger suara motor enggak?" tanya Margaretha. Dia mendorong sedikit bahu Zety yang saat ini sedang fokus dengan acara televisi.


"Palingan juga si Zaenab pulang sama Mas Yudha. Biarin napa, sih." Zety menjawab malas karena dia sedang sangat menikmati sinetron anak muda yang mampu membuat jiwa jomlo-nya meronta.


"Hmmm." Margaretha bangkit berdiri dan berjalan menuju ke jendela untuk mengintip.


Ketika melihat siapa yang datang, Zahra berlari masuk dan berteriak heboh hingga membuat Zety terkejut.


"Elu kenapa sih, Mar! Jangan bikin jantung gue copot!" omel Zety. Hatinya benar-benar merasa dongkol dengan sahabatnya.


"Elu tahu enggak, siapa yang nganterin Zaenab? Ini bukan Mas Yudha." Margaretha berbicara dengan antusias hingga membuat kening Zety mengerut dalam.


"Iya, tapi yang ngaterin si Zaenab itu Tuan Arga."


"What! Tuan Arga! Jangan bercanda elu, Mar!"


"Astaga! Jangan bikin telinga gue tuli, Suk! Kalau elu enggak percaya lihat aja sendiri." Margaretha mengerucutkan bibir karena kesal dengan teriakan sahabatnya yang begitu cempreng dan seperti hendak merusak gendang telinganya.


Zety tidak lagi bertanya dan memilih bangkit berdiri dan melangkah ke dekat jendela dengan terburu. Kedua mata Zety membola sempurna saat melihat Zahra yang sedang berdiri dan menatap Arga yang hendak pergi dari sana.

__ADS_1


"Bener-bener sulit dipercaya, Mar." Zety menggeleng.


"Emang. Padahal Zaenab udah bicara kasar sama Tuan Arga, tapi kenapa sekarang mereka jalan bareng. Padahal Zaenab tadi pergi sama Tuan Arga." Margaretha menimpali.


"Awas! Awas! Zaenab mau masuk." Zety menepuk bahu Margaretha dan mengajak masuk supaya tidak kepergok Zahra.


Namun, karena saking terburu-buru, mereka berdua justru jatuh bersamaan karena Zety tidak bisa menyeimbangkan kakinya. Zety mengaduh, begitu juga dengan Margaretha yang ikut merintih kesakitan.


"Sakit, Suk!" Margaretha mengusap pantatnya yang barusan mencium lantai dengan kencang.


"Gue juga sakit, Mar." Zety pun melakukan hal yang sama.


"Elu, sih!" Margaretha memukul pundak Zety untuk meluapkan kekesalan.


"Gue 'kan juga kagak—"


"Kalian kenapa?"


Zety dan Margaretha terdiam saat mendengar pertanyaan Zahra yang baru saja membuka pintu.

__ADS_1


__ADS_2