
Setelah selesai makan malam.
Zahra malam ini berniat menginap di kontrakan. Akan tetapi, sedari tadi gadis itu terus saja ngedumel. Ketiga sahabatnya yang menunggu pun hanya menatap heran.
"Elu kenapa, Zae?" tanya Rasya yang saat ini sudah masuk ke mobil.
"Gue mau pulang ke panti aja lah."
"Kenapa?" tanya Zety menyela.
"Elu enggak kangen sama kita?" Margaretha tampak kecewa. Zahra menggeleng dengan cepat.
"Bukan itu. Masalahnya, HP gue entah di mana. Udah gue cari di panti enggak ketemu juga. Padahal pas terakhir gue pakai ada di ruang tamu." Zahra masih berusaha mengingat-ingat. Yang membuat Zahra curiga adalah saat dihubungi, nomor tersebut terus saja berada di luar jangkauan.
"Aku antar kamu ke kontrakan langsung, nanti biar aku pulangnya mampir dan bilang Ibu Henny kalau kamu tidak pulang ke sana." Arga menarik tangan Zahra dan menyuruh gadis itu duduk di sampingnya.
Setelahnya, Arga melajukan mobil tersebut bersama dengan para sahabat Zahra, termasuk Pandu di dalamnya. Pandu merasa kesal karena Rasya menyuruh dirinya duduk di depan bersama Arga, dengan alasan dia ingin berkumpul berempat.
__ADS_1
"Tega sekali kamu mengusirku, Ra?" Pandu menolak, tetapi saat melihat wajah Rasya yang tampak sangat kesal, Pandu pun hanya bisa pasrah.
"Salah siapa aku mau tidur di kontrakan enggak boleh." Rasya merajuk. Bahkan, dia melipat kedua tangan di depan dada.
"Ra ... jangan membuat tensi darahku naik." Pandu memberi peringatan. Bukannya takut, Raysa justru menjulurkan lidahnya.
"Nanti aku ambilin tangga biar turun," celetuk Rasya dan langsung disambut dengkusan kasar oleh suaminya.
"Tuan ..." Zahra menghentikan perdebatan sepasang suami-istri itu. "Nanti Anda tidak perlu mampir ke panti, biar saya telepon Ibu Henny saja," perintah Zahra. Arga berbalik dan menatap Zahra dengan lekat.
"Lalu ponselmu bagaimana?" Arga berpura-pura.
Selama dalam perjalanan, Arga dan Pandu hanya memijat pelipis karena di dalam mobil tersebut sudah seperti pasar. Pandu sedikit menyesal, jika tahu akan se-memusingkan ini maka dia memilih untuk pulang bersama kedua orang tuanya tadi.
Setelah mengantar sampai rumah kontrakan, Arga lalu mengantar Pandu pulang ke rumahnya. Namun, setelah itu Arga tidak langsung kembali ke apartemen dan justru pergi ke panti. Ibu Henny bahkan terkejut dengan kedatangan Arga.
"Bukankah Zahra pulang ke kontrakan?" tanya Ibu Henny heran. Perasaan wanita itu mendadak cemas.
__ADS_1
"Iya, Bu. Saya datang ke sini karena ada perlu dengan Ibu," jawab Arga sopan.
"Perlu apa?" Ibu Henny makin merasa bingung.
"Bagaimana kalau lebih baik kita bicarakan di dalam, Bu," pinta Arga. Ibu Henny hanya menurut dan menyuruh Arga untuk masuk.
"Saya buatkan minum dulu, Tuan." Ibu Henny hendak berlalu ke dapur, tetapi Arga segera menahan wanita itu.
"Tidak perlu, Bu. Saya hanya sebentar. Duduklah," perintah Arga. Ibu Henny pun menurut dan duduk tepat di depan Arga.
"Ada perlu apa, Tuan? Jangan buat saya takut."
"Santai saja, Bu. Saya hanya ingin bertanya apa di kamar Zahra ada sehelai rambut dia yang tertinggal?" tanya Arga ragu.
"Sehelai rambut? Untuk apa?" Bukannya menjawab, Ibu Henny justru membalas dengan pertanyaan.
"Bu, jujur ... saya curiga kalau Zahra adalah anak dari sahabat mama saya yang katanya diculik waktu masih bayi."
__ADS_1
Deg!