Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
25


__ADS_3

Setelah cukup lama berbincang, Rasya kemudian berpamitan pergi karena Pandu sedari tadi sudah memaksa pulang. Zety dan Margaretha pun hanya mengiyakan meski tidak rela. Jujur, mereka ingin kebersamaan yang seperti dulu. Walaupun mereka sadar, seiring berjalannya waktu dan makin tambah dewasa usia, mereka pasti akan sibuk dengan dunia mereka sendiri apalagi ketika sudah sama-sama menikah.


Baru saja Rasya hendak masuk ke mobil, gerakannya terhenti saat melihat motor Yudha masuk ke halaman rumah dan Zahra membonceng di belakang.


"Boleh berbincang, tapi jangan sampai kamu membebani pikiranmu sendiri." Pandu menasehati, Rasya mengangguk. Entah mengapa, Pandu merasa khawatir dengan istrinya.


Zahra yang baru saja turun dari motor langsung memasang wajah datar saat melihat keberadaan Rasya. Zahra masih merasa malas dengan sahabatnya itu. Setelah menyerahkan helm kepada Yudha, Zahra berpamitan untuk masuk ke rumah, tetapi Rasya segera menahannya.


"Zae!" Rasya mencekal tangan Zahra. Yudha menatap heran, sedangkan Pandu berdiri tidak jauh dari tempat Rasya. Bukannya tidak mau menahan atau melerai, tetapi Pandu hanya ingin melihat Rasya menyelesaikan masalahnya sendiri.


"Zae. Ada yang mau gue omongin sama elu." Rasya meminta, tetapi Zahra bergeming dan tidak memberi respon apa pun. "Zae, gue mohon."


Zahra mengembuskan napas berat lalu dengan lesu mengajak Rasya untuk berbicara empat mata. Tanpa ada siapa pun termasuk Zety dan Margaretha. Mereka pun setuju meski Pandu terus saja kepikiran istrinya.

__ADS_1


"Zae ...."


"Berhenti mencampuri urusan gue, Ra!" Zahra sudah menyela padahal Rasya belum selesai memanggil namanya. "Gue tahu elu sahabat baik gue, tapi bukan berarti elu bisa terlalu ikut campur dengan urusan pribadi gue!"


"Gue hanya ingin yang terbaik untuk elu, Zae." Rasya berusaha menahan ucapannya.


"Dan yang menurut elu terbaik, belum tentu itu yang terbaik buat gue. Bukannya elu tahu gue sangat sayang sama Mas Yudha bahkan gue rela nunggu dia. Harusnya elu enggak lupa itu, tapi kenapa malah elu ngedeketin si pembawa sial itu?" Suara Zahra meninggi.


"Emangnya elu tahu? Gue udah tahu karena kita besar bersama. Nah elu? Cuma sok tahu doang!"


Rasya meremas baju yang dikenakan, ucapan Zahra benar-benar sudah sangat melukai hatinya. Rasya tidak menyangka kalau Zahra akan berbicara semenyakitkan itu padanya.


"Elu sekarang jadi orang kaya, Ra! Bahkan elu jadi bos gue, mantan bos lebih tepatnya. Sekarang kita udah berbeda jauh. Kita enggak sederajat lagi buat jadi sahabat." Zahra tidak bisa mengendalikan diri. Gadis itu tidak sadar kalau semua ucapannya sudah menyakiti hati Rasya.

__ADS_1


"Zae, elu bakal jadi sahabat gue sampai kapan pun. Enggak ada perbedaan status di antara kita! Seharusnya elu tahu itu!" Rasya mulai meninggikan suaranya. Hatinya sudah bergemuruh.


"Tapi gue enggak suka waktu elu terlalu ikut campur urusan pribadi gue, Ra! Jadi lebih baik elu pergi dan urusi urusan elu aja!" Zahra mengusir. Rasya bangkit berdiri dan menatap Zahra yang tampak sedang dipenuhi emosi. Rasya merasa sangat kecewa dengan sahabatnya.


"Baik, gue bakal pergi dari kehidupan elu kalau itu bisa buat elu bahagia, Zae. Terima kasih udah jadi sahabat baik gue selama ini. Gue sayang elu, Zae." Rasya memeluk tubuh Zahra erat.


Entah mengapa, Zahra hampir menangis saat merasakan pelukan Rasya. Kesadarannya seolah kembali dan menyesal karena sudah berbicara sekasar itu pada Rasya. Namun, ego Zahra kembali menguasai. Bahkan ketika Rasya melerai pelukan itu dan pergi begitu saja, Zahra hanya menatap dan tidak melarang sama sekali.


"Rasya!"


Zahra bergegas keluar saat mendengar teriakan Pandu yang menggelegar. Zahra terkejut saat melihat Rasya yang sudah tidak sadarkan diri. Pandu membopong Rasya dan menatap Zahra penuh benci.


"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan istriku maka aku tidak akan pernah memaafkanmu!" ancam Pandu sebelum akhirnya membawa Rasya ke rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2