Kisah Cinta Gadis Somplak

Kisah Cinta Gadis Somplak
64


__ADS_3

Langkah Pandu lebar mendekati Rasya. Kedua orang itu berpelukan erat tanpa peduli pada para karyawan yang menatap iri. Bahkan, tanpa malu Pandu mendaratkan banyak ciuman hampir di seluruh wajah istrinya, tak lupa perut Rasya yang mulai membuncit pun ikut diciumi lelaki itu.


"Kamu ke sini dengan siapa?" tanya Pandu, saat tubuhnya sudah berdiri tegak di depan Rasya.


"Naik bus." Rasya menjawab santai, tetapi mampu membuat Pandu terbelalak.


"B-Bus!" Suara Pandu begitu menggelegar di lobby. Mengalihkan perhatian semua karyawan. Rasya mengangguk cepat dan tersenyum seolah tanpa dosa. "Ga, pecat Dani!"


"Jangan!" Rasya memegang lengan suaminya. "Jangan pecat dia. Ini bukan salah Kak Dani," bela Rasya, tetapi itu justru membuat Pandu makin kesal.


"Lalu?" tanya Pandu penuh penekanan. "Dia sudah teledor! Bagaimana bisa dia membiarkan kamu naik bis sendirian!"


"Aku enggak sendirian, kok. Aku sama Zaenab," timpal Rasya, tetap tenang.


"Astaga, Rasya." Pandu mengusap wajahnya kasar. "Aku sudah tempatkan beberapa anak buah di sampingmu. Lalu mereka ke mana?"


"Ikut naik bus sama aku." Rasya menjawab tanpa merasa bersalah sama sekali. Ingin sekali Pandu merem*s istrinya tersebut.


"Ahhh! Kamu selalu menyebalkan!" omel Pandu tanpa sadar.


Mereka yang melihat kemarahan Pandu, meringsut takut. Akan tetapi, Rasya justru tetap santai dan tidak ada ketakutan sedikit pun dari wanita itu.


"Lihatlah, Daddy marah sama mommy. Bahkan, tanpa malu dadddy bentak mommy di depan semua orang." Rasya berpura-pura menangis sembari mengusap perut buncitnya. Pandu yang melihat itu mendadak panik dan langsung menarik tubuh Rasya masuk dalam dekapannya.

__ADS_1


"Maaf, aku lepas kendali," ucap Pandu. Mendaratkan ciuman di puncak kepala Rasya.


"Udah, Mas. Malu juga dilihatin. Aku mau digendong sampai ruangan kamu," rengek Rasya. Pandu melerai pelukan itu, senyumnya mengembang sempurna lalu membopong Rasya menuju ke ruangannya.


"Tunggu dulu, Mas," suruh Rasya. Pandu menghentikan langkahnya lalu menatap bingung ke arah istrinya. "Balik badan, Mas."


Tanpa berdebat, Pandu berbalik sesuai arahan dari Rasya.


"Zae, selamat bekerja. Nanti gue temui elu di belakang." Rasya berbicara antusias. Tangannya melambai ke arah Zahra yang langsung balas melambai.


"Oke siap, Ibu Bos!" Zahra menunjukkan tanda oke, lalu bergegas ke ruang karyawan setelah Pandu dan Rasya pergi.


***


Zahra melirik jam di tangan, dan mengembuskan napas kasar saat melihat jarumnya sudah menunjuk angka setengah sepuluh. Pantas saja dia sudah kelaparan. Dengan gerakan cepat, Zahra menyelesaikan tugasnya dan berniat untuk sarapan setelah ini.


Ketika Zahra sudah selesai dengan tugasnya, dia langsung mencuci tangan. Lalu duduk di kursi dan mengambil bekal sarapan yang berada dalam tasnya.


"Enak sekali." Zahra tampak antusias menatap makanan itu. Zahra membuka plastik yang berisi sayur lalu menuang ke atas nasi. Setelahnya, dengan lahap dia pun mulai memasukkan sesendok nasi ke dalam mulut.


"Zae! Gue mau!"


Suara Rasya dari arah belakang berhasil mengejutkan Zahra. Kunyahan Zahra berhenti. Dia berbalik dan melihat Rasya yang sedang berjalan mendekat.

__ADS_1


"Sini, Ra." Zahra sedikit bergeser dan menyuruh Rasya duduk di sampingnya. Zahra pun mengambil satu sendok lagi. Mereka berdua pun makan bersama.


"Enak banget, Zae. Siapa yang masak?" tanya Rasya disela kunyahannya.


"Ibu Henny, gue cuma bantuin motong-motong doang," sahut Zahra.


"Belajar masak sih, Zae. Kata Om Panu, mama Kak Arga itu paling suka sama wanita yang pinter masak."


"Terus apa hubungannya sama gue?" tanya Zahra malas.


"Ya, elu 'kan calon pendamping hidup masa depan Kak Arga," celetuk Rasya. Namun, beberapa detik selanjutnya Rasya mengaduh saat Zahra menonyor kepalanya.


"Kalau ngomong suka ngasal elu, Ra!" cebik Zahra, meskipun dia merasa senang dalam hatinya.


"Jangan macem-macem, Zae! Gue bos elu di sini," angkuh Rasya.


"Sombongnya, udah kaya—"


"Ehem!" Suara Zahra tercekat di tenggorokan saat mendengar suara dehaman dari arah belakang. "Sepertinya ini belum jam makan siang!"


•••


Ciee Arga datang nih, Yee

__ADS_1


😅😅😅


__ADS_2