
Zahra merasa dilema sendiri. Dia hanya menatap Arga, Gerry, dan Melda secara bersamaan. Zahra heran saat melihat Arga yang tetap terlihat tenang seolah tanpa beban.
"Tuan dan Nyonya. Maaf, saya tidak bisa menerima," ujar Zahra, mengejutkan mereka semua. Bahkan, Arga sampai bangkit berdiri dan menatap Zahra dengan tatapan yang susah dijelaskan.
"Kamu menolakku?" tanya Arga. Zahra makin menunduk dalam saat mendengar suara Arga yang penuh penekanan.
"Ma-maaf, Tuan." Zahra menjawab terbata.
"Kenapa?" tanya Arga lagi, tetapi Zahra tidak menjawab dan hanya menggeleng cepat.
"Saya belum yakin, Tuan."
"Apa yang membuatmu tidak yakin?" Arga terus saja melontarkan pertanyaan.
Zahra menghela napas panjang lalu mengembuskan secara perlahan. "Tuan, saya hanya tidak percaya diri saja. Apa Anda tidak malu jika menikah dengan saya dan keluarga Anda akan menjadi bahan cemoohan?"
"Maksud kamu?" Arga menatap Zahra mengintimidasi.
"Tuan, saya ini hanya anak panti, yang bahkan tidak tahu orang tua saya sendiri itu siapa. Saya tidak mau—"
"Aku tidak peduli!" sela Arga tegas. Zahra langsung menutup rapat mulutnya. "Aku tidak peduli tentang siapa dan dari mana kamu berasal. Aku tidak peduli itu. Za ... ini tentang hati. Kamu harus tahu, saat hati telah memilih maka ia akan mengalahkan segalanya, termasuk harta dan tahta."
__ADS_1
Arga diam, merogoh saku celana, tetapi tatapan lelaki itu sama sekali tidak terlepas dari sosok Zahra yang sedang tampak bingung. Zahra terperangah saat melihat Arga tiba-tiba berjongkok di depannya sembari menyodorkan sebuah kotak dengan cincin indah tersemat di dalamnya.
Aku ingin mempersuntingmu
'Tuk yang pertama dan terakhir
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang 'tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Lagu Yovie & Nuno~Janji suci, mengalun merdu di restoran itu. Yang membuat Zahra makin terkejut adalah kedatangan Keluarga Andaksa termasuk Rasya, dan juga kedua sahabat baiknya. Sungguh, Zahra tidak menyangka dengan semua yang dilihatnya saat ini.
"Tu-Tuan." Zahra kembali diam. Lidahnya mendadak kaku dan tidak tahu lagi harus berbicara apa.
"Aku sengaja memberi kejutan untukmu. Bagaimana? Kamu masih ingin menolakku?" tanya Arga lagi. Zahra makin merasa bingung karenanya.
"Tuan, bolehkah saya berunding dengan sahabat-sahabat saya?" pinta Zahra.
"Zahra, ini tentang hatimu. Tanyakan saja pada pada hati kecilmu. Apakah ada namaku di sana atau tidak. Kalau iya maka terimalah lamaranku, dan kalau kamu menolak, anggap saja kita memang tidak ditakdirkan berjodoh." Arga merasa pasrah. Membuat Zahra merasa yakin ternyata bukanlah hal yang mudah.
__ADS_1
"Beri saya waktu berpikir, Tuan."
"Baiklah, kuberi kamu waktu sepuluh detik untuk berpikir." Arga mulai merasa kesal. Bahkan, dengkusan kasar berkali-kali keluar dari lelaki itu.
Zahra menatap sahabatnya satu persatu dan memberi kode. Ketiga wanita itu hanya menunjukkan tanda oke dengan senyum mengembang, menandakan kalau mereka menyuru Zahra untuk menerima.
Zahra menghela napas panjang lalu mengembuskan secara perlahan. "Maaf, Tuan. Saya tidak bisa."
"Kamu yakin menolakku, Za?" Arga mulai lemah. Perasaannya mendadak sangat gelisah dan takut.
"Tuan, saya sangat sadar diri, siapa saya dan siapa Anda. Kita ini sangat berbeda jauh. Maafkan saya, Tuan."
Zahra menghentikan ucapannya saat melihat Arga menutup kotak cincin tersebut. "Kenapa ditutup, Tuan?" tanya Zahra. Mengurungkan gerakan Arga yang hendak menyimpan kotak tersebut di saku.
"Kamu menolakku bukan? Maka aku akan membuang cincin ini di jembatan nanti," sahut Arga.
"Sayang sekali. Pasti itu cincin mahal," ucap Zahra lesu.
"Aku tidak peduli harganya. Aku memesan cincin ini khusus untukmu dan kalau kamu saja sudah menolaknya, untuk apa aku menyimpannya." Arga hendak pergi, tetapi Zahra memanggilnya. "Apalagi?" tanya Arga tanpa semangat.
"Saya belum selesai, Tuan. Maaf, saya tidak bisa menolak lamaran Anda karena saya sadar kalau cinta Anda ke saya sangat tulus."
__ADS_1