
Zahra pikir, dengan sama-sama mengungkapkan perasaan maka hubungan mereka akan lebih baik lagi. Namun, semuanya salah. Yudha justru menyuruh Zahra untuk melupakan bahkan menghapus perasaan yang sudah bertahun-tahun bersarang di hati.
Perasaan Zahra terasa hancur bahkan remuk redam. Tanpa sadar, air mata Zahra mengalir membasahi wajah cantiknya meski sudah berusaha keras gadis itu menahannya. Zahra mengusap kasar air mata itu, sedangkan Yudha hanya menatap Zahra. Dia tidak tega, tetapi bagaimana juga semua sudah takdir dan dia hanya berusaha untuk ikhlas menerima.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu, Mas? Kamu bilang sayang padaku, tapi kamu menyuruhku untuk menghapus perasaan ini. Kamu sadar atau tidak, sudah buat hatiku berbunga-bunga dan patah secara bersamaan." Suara Zahra terdengar bergetar karena menahan tangis agar tidak mengeras.
"Ya, aku memang sayang sama kamu. Tapi aku sadar kalau kita tidak akan pernah bisa bersatu di dunia ini."
"Kenapa?" sela Zahra penuh menuntut.
"Tidak semua pertanyaan akan mendapat jawabannya, Ra. Aku yakin suatu saat kamu akan hidup bahagia meski tanpa aku di sampingmu. Aku yakin akan ada seseorang yang memperlakukan dan mencintaimu dengan tulus."
__ADS_1
Mendengar ucapan Yudha, bukannya mereda, tangisan Zahra justru makin mengeras. Hatinya benar-benar sakit saat ini. Seolah tertusuk parang lalu disiram dengan air garam.
"Kamu jahat, Mas." Zahra mengusap air mata dengan kasar. Yudha pun segera menangkup wajah Zahra dan mengusap air mata gadis itu dengan perlahan.
Sakit. Hati Yudha rasanya sakit sekali melihat air mata Zahra yang mengalir deras. Namun, mau tidak mau Yudha tetap harus tega. Semua demi kebaikan Zahra agar saat dirinya pergi, Zahra tidak terlalu terpuruk dan kehilangan.
"Jangan menangis. Aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu." Ingin sekali Yudha mengecup kening Zahra untuk yang terakhir kali, tetapi Yudha berusaha menahan dan memilih untuk melepaskan tangkupan tangannya.
Yudha bangkit berdiri, Zahra yang merasa bingung pun ikutan bangkit. "Aku harus pergi sekarang, Ra." Dengan cepat Yudha berjalan menuju ke tempat di mana motornya terparkir lalu naik ke atas sana.
Tubuh Zahra luruh di atas jalan. Gadis itu menutup wajah untuk meredam tangis yang mulai mengeras. Zahra tidak ingin siapa pun tahu, tetapi dia juga tidak bisa menahan. Zahra terus saja terisak sendirian tanpa ada siapa pun.
__ADS_1
"Kenapa kamu sekarang jadi sekejam ini denganku, Mas," gumam Zahra di sela isak tangisnya.
"Kamu bilang sayang sama aku, tapi kamu tinggalin aku kaya gini. Kamu jahat, Mas! Jahat!"
Sungguh, Zahra rasanya tidak sanggup lagi menahan rasa sakit yang membuat hatinya bergejolak hebat. Tangisan yang memilukan seolah memberi kode betapa hancurnya hati gadis itu saat ini.
"Kamu baik-baik saja?"
Tangisan Zahra memelan saat mendengar suara yang tidak asing dari arah belakang. Zahra membuka tangannya lalu mengusap air mata dengan kasar. Ketika Zahra berbalik, dia terkejut saat melihat Arga yang sedang menatapnya dengan tatapan yang susah dijelaskan.
"Tu-Tuan." Zahra terbata.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka kalau gadis ceroboh sepertimu bisa menangis juga," ledek Arga. Zahra yang barusan sedih pun mendadak kesal.
Walaupun Arga berbicara seperti itu, tetapi tatapan mata Arga tidak bisa membohongi kalau lelaki itu sedang terluka saat ini. Rasanya hati Arga hancur saat melihat Zahra yang sedang menangis.